Kesamaan visi-misi jadi resep Armada bertahan selama 15 tahun

Vokalis Armada, Rizal, mengatakan kesamaan visi dan misi menjadi salah satu alasan atau resep mengapa band asal Palembang itu masih tetap eksis dan bertahan selama 15 tahun walaupun saat ini hanya tersisa tiga personel.

“Visi-misinya masih sama, masih terus ingin berkarya masih ingin terus memberikan yang terbaik yang kami punya untuk semua pendengar musik Indonesia,” kata Rizal saat konferensi pers di Jakarta, Rabu.

“Walaupun sekarang bertiga, tapi sama seperti album kami yang kelima judulnya ‘Maju Terus Pantang Mundur’, Insya Allah bisa jalan terus apapun yang terjadi,” imbuhnya.

Nama Armada dibentuk pada 2007 oleh lima personel antara lain Rizal (vokal), Radha (gitar), Mai (gitar), Endra (bass), dan Andit (drum). Sebelumnya, band ini bernama Kertas yang didirikan pada 2005.

Saat ini Armada menyisakan Rizal, Mai, dan Andit. Radha memutuskan keluar dari band pada 2018 karena ingin mengikuti panggilan hati untuk mendalami agama, sedangkan Endra hengkang dari Armada pada 2020 setelah diketahui mengidap penyakit meningitis sehingga tidak dapat beraktivitas secara penuh.

Rizal menggambarkan perjalanan Armada dalam merintis karier musik dengan merantau ke Jakarta yang dipenuhi perjuangan, terutama bagaimana mengupayakan pemasukan yang cukup untuk membiayai kelangsungan hidup keluarga masing-masing.

“Kami membuat band Armada dari awal itu, penuh dengan keringat. Kami ini anak rantau. Kami berlima semuanya personel dari Palembang. Tahun 2005, kami merantau ke Jakarta dengan tidak bermodal apa-apa,” sambung Mai.

“Kalau boleh dibilang dari tahun 2005 sampai 2009 itu benar-benar mencoba bertahan, kalau istilahnya dari orang itu (bertahan dari) ‘kerasnya ibukota’ itu seperti apa. Kami pernah merasakan nggak bisa makan, dua sampai tiga hari cuma bisa minum air hangat sama makan mie rebus,” cerita Mai lagi.

Hingga kini Armada telah menelurkan delapan album, termasuk “Kekasih yang Tak Dianggap” (2006) saat band ini bernama Kertas.

Album “Balas Dendam” yang dirilis pada 2008 mendorong nama Armada dikenal banyak orang, berlanjut pada album “Hal Terbesar” (2009) yang semakin melambungkan popularitas band itu dengan lagu-lagu seperti "Mau Dibawa ke Mana" dan "Buka Hatimu".

Album “Satu Hati Sejuta Cinta” (2012) dan “Pagi Pulang Pagi” (2014) mendapatkan predikat multi-platinum dengan penjualannya CD yang melebihi 100.000 keping untuk masing-masing album.

Single mereka yang berjudul "Asal Kau Bahagia" juga merupakan salah satu video lirik dari Indonesia yang paling banyak ditonton di saluran YouTube. Hingga Januari 2021, video tersebut sudah ditonton sebanyak 350 juta kali.

“Selama 15 tahun ini ternyata yang kami dapatkan itu bukan hanya bentuknya materi, popularitas, dan segala macam, tapi ternyata ada rasa kepuasan tersendiri dalam tanda kutip banyak orang-orang yang besarnya (tumbuh bersama) lagu-lagu Armada. Tidak sedikit dari kita mungkin dengerin Armada dari SMP,” kata Rizal.

Mai menambahkan resep lain mengapa Armada tetap bertahan sebagai band selama 15 tahun karena mereka terus berusaha untuk tidak pernah berhenti mengeluarkan karya. Menurut Andit, bersama-sama selama 15 tahun bukanlah sesuatu yang mudah dengan suka-duka yang telah banyak dilalui. Bagi Andit, waktu tersebut telah menempa mental dan pendewasaan para personel.

Merayakan 15 tahun berkarya band itu, Armada pada Rabu juga mengumumkan akan menggelar konser tunggal perdana di 15 kota di Indonesia, dimulai pada 8 Oktober mendatang di Medan. Armada akan hadir di deretan kota lain hingga awal tahun depan dan berakhir di kota Palembang.

“Kami sangat terharu. Salah satu cita-cita Armada buat konser tunggal bisa tercapai pas hanya di usia 15 tahun. Dulu kami kebayangnya bikin konser tunggal nanti di ulang tahun ke-25 atau ke-30. Nggak nyangka bisa secepat ini. Kami terima kasih banyak kepada teman-teman yang mendukung Armada dari album pertama sampai album terakhir,” kata Mai.