Kesempurnaan cinta sang Jenderal di tanah Papua

MERDEKA.COM. Senyum malu sang Jenderal terus mewarnai perbincangan tentang cinta di senja itu. Matanya semakin berbinar ketika episode cinta dengan sang istri, Irawati, diceritakan dan dikenangnya kembali.

Dialah Karo Penmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar. Polisi dengan segudang prestasinya di tubuh Korps Bhayangkara.
 
Terbiasa dihadapkan dengan aturan polisi yang kaku dan formal membuat Boy menjadi tipe pecinta yang tidak romantis terhadap pasangannya. Irawati pun harus maklum jika tak ada bunga, coklat atau makan malam romantis seperti pasangan kebanyakan di valentine nanti.
 
“Saya termasuk yang tidak romantis, kita tidak merayakan secara khusus tapi cukup mengetahui saja, masyarakat mengandrungi, kita hanya melihat. Kurang ikut-ikutan. Waktu pacaran juga gak. Yang penting bukan hari valentine saja, 1 x 24 jam kasih sayang itu harus ditumbuhkembangkan dengan orang-orang yang kita cintai,” kata pria berdarah Minang ini mantap.
 
Kendati Boy mengaku istri tidak menuntut apapun, namun terkadang istri mendesaknya untuk mengatakan satu kata cinta. Cerita ini pun membuat malu Boy dan senyumnya kembali mengembang.

"Kurang yang begitu-begitu (ucapan I love you) istri juga bilang begitu “mana nih ga keluar” ya kita begini apa adanya yang pentingnya baik dan semua berlangsung natural,” ucapnya.
 
Merdeka.com pun diajak menyaksikan kembali sketsa cinta yang dibangun dua sejoli berbeda profesi ini. Irawati sang arsitek bertemu Boy di umurnya yang ke 24, sedangkan Boy saat itu berumur 28 tahun. Boy yang terpikat pesona Irawati yang saat itu dikenalkan teman Boy. Tak dianya, perasaan yang sama hinggap di hati wanita arsitek ini. Cinta pun terjalin hingga gerbang pernikahan di umur Boy ke-30.
 
Potongan cerita cinta terus digulirkan Boy kepada merdeka.com mulai kisah petualangan bulan madunya ke Bali dengan berkendara mobil sampai cinta yang menuju limitnya hingga ke timur Indonesia. Ya, di tanah Papua Boy cintanya kepada Irawati semakin sempurna.
 
“Ketika dia nyusul tugas di Papua jadi semakin cinta, peristiwanya sudah lama tahun 97-98 di Papua nyusul saya, kebetulan jalan cukup jauh ikut pindah. Istri anak tetap ikut. Jadi menambah semangat tidak kepikiran kalau keluarga jauh dan dia cukup bersusah-susah jadi tidak senang-senang saja susah pun ikut. Padahal di era itu suasana kurang kondusif, banyak peristiwa mengkhawatirkan,” katanya mengenang.
 
Di hari kasih sayang nanti, meski menahan rona malu Boy pun ikut menitipkan pesan cinta kepada kekasih sejati.
 
“Di hari Valentine kita bisa terus saling mengingatkan kembali untuk memelihara memupuk kasih sayang,” tutupnya sumringah.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.