Kesenjangan Inklusi Keuangan dan Pemahaman Masyarakat Masih Tinggi

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan, menurut data survei OJK indeks literasi keuangan dan inklusi keuangan masih menunjukkan gap yang cukup besar. Untuk indeks literasi keuangan sebesar 38 persen dan untuk inklusi keuangan yakni 76,19 persen.

"Sekalipun indeks inklusi keuangan sudah mulai tinggi, tetapi pemahaman mereka yang memperoleh penjelasan dalam bentuk inklusi keuangan baru memiliki 38 persen yang benar-benar mengerti mengenai literasi keuangan itu sendiri," terang Mahendra Siregar, Saat Webinar Like It, Jakarta, Jumat (12/8).

Kecanggihan digitalisasi saat ini juga salah satunya dapat mendorong generasi muda untuk berinvestasi berkelanjutan dan melek akan literasi investasi.

"Salah satu pendorong utama investor muda pasar modal adalah literasi investasi yang masih tinggi dan semakin mudah diakses terutama media sosial," jelasnya.

Mahendra menjelaskan melalui Fintech generasi milenial lebih tertarik untuk bergabung pada investasi yang berkelanjutan karena memiliki dampak positif pada sosial dan lingkungan. Oleh karena itu, berbagai program edukasi keuangan terus dilakukan oleh OJK untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan produk layanan keuangan.

"Berdasarkan studi generasi muda yang berinvestasi justru lebih banyak yang berkelanjutan secara profesional dari keseluruhan portofolio mereka dibandingkan dengan generasi tua," imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengatakan masyarakat sangat membutuhkan kemampuan untuk memahami instrumen keuangan yang akan semakin beragam. Dia berharap masyarakat akan mampu untuk memilih instrumen investasi yang makin banyak, tetapi tetap menjaga keamanan dan kredibilitas dari lembaga maupun instrumennya.

"Saya menghargai upaya seperti hari ini, melakukan literasi keuangan indonesia terdepan melalui berbagai kegiatan melalui sinergi Bank Indonesia (BI), OJK, LPS dan Kemenkeu," terangnya. [azz]