Ketegangan tak lagi besar tatkala Fed bertemu bahas ekonomi AS semasa krisis

Washington (AFP) - Federal Reserve telah memangkas suku bunga pinjaman acuan menjadi nol dan menempuh langkah yang belum pernah diambil sebelumnya demi meningkatkan likuiditas ketika virus corona menghempaskan perekonomian AS sehingga bank sentral AS ini diperkirakan tidak bisa berbuat banyak selain memproyeksikan kepercayaan pada pertemuan kebijakannya pekan ini.

Diselenggarakan lewat konferensi video, pertemuan itu bakal tak lalu terlalu tegang seperti terjadi para pertemuan-pertemuan sebelum ini ketika para analis lebih tertarik kepada apa yang dikatakan The Fed dan ketuanya Jerome Powell tentang masa depan perekonomian terbesar di dunia tersebut.

"Dia pada dasarnya mengatakan 'kami tahu apa yang kami lakukan,'" kata ekonom Joel Naroff mengenai Powell. "Itu tidak berarti mereka memiliki kendali penuh, melainkan mari kita hadapi itu, mereka sudah siap, namun pemerintah tidak."

Ketika potensi pandemi virus corona dalam menghancurkan perekonomian menjadi jelas pada Maret, bank sentral Amerika Serikat ini dua kali menggelar pertemuan darurat demi memangkas suku bunga yang akhirnya menurunkannya pada kisaran 0-0,25 persen atau kembali ke posisi semasa krisis keuangan global pada 2008.

Dan bahkan sebelum dunia usaha tutup secara nasional demi menghentikan penyebaran virus corona, The Fed menggelontorkan triliunan dolar AS dalam bentuk kredit baru guna membuat sistem keuangan tetap terbuka ketika perekonomian terlempar dari tebing.

Pertemuan dua hari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) untuk menetapkan suku bunga mulai Selasa itu bakal menjadi pertemuan terjadwal pertama sejak permohonan tunjangan pengangguran melonjak melewati angka 26 juta pekerja dan melonjaknya indikator penting kesehatan ekonomi.

Tetapi FOMC memiliki kekuatan terbatas dalam mengatasi masalah-masalah itu, dan para analis menyatakan bahwa bank sentral AS itu sudah menempuh banyak hal yang bisa dilakukannya.

"Tebakan saya ini akan menjadi pertemuan yang agak lancar," kata kepala ekonom JP Morgan Amerika Serikat Michael Feroli kepada AFP.

Pandemi telah membuat 866.000 orang di AS jatuh sakit dan menewaskan lebih dari 50.000 orang sampai Jumat, sedangkan kerusakan perekonomian sudah menyebar ke sebagian besar sektor perekonomian termasuk penjualan ritel dan manufaktur, yang berdasarkan data menunjukkan kontraksi pada tingkat yang tidak terlihat dalam puluhan tahun terakhir.

The Fed menindaklanjuti penurunan suku bunganya dengan sejumlah langkah likuiditas, termasuk membeli obligasi US Treasury dan utang hipotek dalam jumlah yang tak terbatas, selain juga menyalurkan pinjaman kepada sektor korporat dan pemerintah daerah, serta melonggarkan aturan perbankan.

Tujuannya adalah memastikan sistem keuangan AS tetap likuid dan sejauh ini sepertinya hal itu efektif yang ditunjukkan dengan sedikitnya petunjuk adanya kekacauan pada sektor perbankan seperti pernah terjadi sewaktu krisis 12 tahun silam.

Feroli mengatakan pertemuan itu akan lebih menyangkut menenangkan saraf melalui komunikasinya ketimbang mengumumkan langkah-langkah seperti suntikan likuiditas yang lebih besar.

"Pernyataannya adalah semestinya kami sudah di sini, kami berkomitmen melakukan apa saja yang kami bisa," kata dia.

Powell telah mengirim pesan itu ke dalam negeri dan kemungkinan bakal mengulanginya lagi dalam konferensi persnya Rabu setelah pertemuan tersebut selesai.

Dia mengatakan pulihnya lagi perekonomian "bisa saja menguatkan" begitu virus corona terjinakkan, tetapi survei "beige book" The Fed baru-baru ini menunjukkan bahwa rasa sakitnya masih mungkin berlanjut.

Sejauh suku bunga, bank sentral AS ini tak bisa ke mana-mana selain suku bunga negatif, dan Naroff mengatakan sudah pasti seperti itu. Juga tak akan mempertimbangkan kenaikan suku dalam waktu dekat, bahkan ketika lockdown dicabut.

"The Fed tidak akan melakukan apa pun ketika segalanya terbuka sampai mereka melihat pertumbuhan yang konsisten dalam tiga hingga enam bulan ke depan," kata Naroff. "Bisakah kita mengalaminya lebih lama dibandingkan dengan tahun lain? Jawabannya ya."

Sebaliknya, dia memperkirakan bank sentral AS tengah mencermati ketahanan lembaga-lembaga keuangan, terutama ketika menyangkut kerugian pinjaman yang bisa menjadi biasa jika krisis tidak mereda.

"Saat ini, mereka tengah membahas segala hal yang berpotensi terjadi ke depan," kata dia.