Ketegasan KH Hasan Genggong Melawan Penjajah

Syahdan Nurdin, kisahteldan
·Bacaan 4 menit

VIVA – Tepatnya di Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur ada sosok waliullah bernama KH Moh. Hasan sepuh Genggong. Selain sebagai pendiri Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, beliau termasuk sosok ulama yang terjun langsung melawan penjajah.

Syekh Hasan Genggong atau lebih dikenal Kiai Hasan Genggong memiliki nama lengkap al-Arifbillah asy-Syaikh Haji al-Syarif Muhammad Hasan bin Syamsuddin bin Qoyiduddin Al Qodiri Alhasani.

Beliau lahir di Desa Sentong, Krejengan, Probolinggo, 37 Rajab 1259 Hijriyah atau 23 Agustus 1840 Masehi. Dalam diri KH Hasan Genggong telah nampak adanya kelebihan- kelebihan sejak kecil dari saudara-saudaranya serta kerabat-kerabatnya.

Sifat-sifat yang melekat tidak terdapat pada diri saudara-saudara dan kawan-kawannya. Sikap sopan, tawadhu’, ramah tamah pada semua pihak, dermawan, cerdas pikirannya, cepat daya tangkap hafalannya serta teguh daya ingatannya, merupakan sifat yang memang dimiliki oleh beliau sejak kecil lebih-lebih sikap qana’ah (menerima apa adanya).

Di masa mudanya, KH Hasan Genggong pernah mengenyam pendidikan baik di dalam negeri dan di luar negeri, diantaranya; Pondok Pesantren Sentong, Krejengan dibawah asuhan KH. Syamsuddin, Pondok Pesantren Sukonsari, Pojentrek-Pasuruan Asuhan KH. Mohammad Tamin, Pondok Pesantren Bangkalan selama 3 tahun asuhan KH. Mohammad Cholil dan selama 3 tahun di Mekkah Al Mukarramah.

Dalam proses menempuh jenjang pendidikan itu muncul kebiasaan yang tidak lazim dari dalam diri KH Hasan Genggong. Kebiasaan bangun malam hingga tembus menjelang Subuh. Kebiasaan tersebut dimanfaatkan untuk melakukan solatullail antara lain Sholat Tahajut, Sholat Hajat. Kebiasaan ini dilaksanakan secara istiqomah setiap hari.

Menginjak usiianya yang semakin dewasa, kezuhudan dan kekhusyu’an sudah terlihat dalam diri beliau. Ditambah dengan keinginan belajarnya yang tinggi, hingga beliau mampu menguasai ilmu-ilmu ghaib yaitu dimana yang rahasia menjadi tampak. Beliau adalah puncaknya Matahari.

Pengetahuan Eksternal dan Internal di zamannya. Ia bergelar Al-Arifbillah dengan salah satu tanda keajaibannya adalah karomah yang mahsyur. Sehingga beliau menjadi jujukan masyarakat luas ketika menghadapi persoalan agama dan kemasyarakatan termasuk masalah kebengisan penjajah Belanda yang kala itu menyengsarakan kehidupan masyarakat.

Sebagai ulama yang saban hari menerima keluh kesah masyarakat maka beliau dengan tegas selamanya bersikap non cooperation (Uzlah) dengan pihak pemerintah India-Belanda. Oleh karenanya, segala unsur yang berbau penjajah ditolak dan dilarang oleh beliau.

Betapapun kondisi fisik beliau pada saat-saat memuncaknya angkara penjajah, nampak lemah karena usia, namun Al Marhum tetap berusaha menghadiri rapat-rapat akbar di pelosok-pelosok tanpa mengenal payah. Begitu juga pada masa penjajahan Jepang, beliau dengan sikap tegas melawannya. Ketika itu musim paceklik tengah melanda masyarakat, khususnya di daerah sekitar pondok genggong.

Ditambah lagi keganasan serdadu Jepang mengumbar nafsu merampasi kekayaan yang ada pada masyarakat. Peristiwa yang cukup rumit ini,menyebabkan penderitaan kekurangan pangan terhadap penduduk di sekitar Genggong.

Tuhan Maha Pengasih dan Maha penyayang. Dan kasih sayang Tuhan yang di salurkannya lewat KH Hasan Genggong. Sebab tidak jauh dari kediaman beliau telah diketemukannya sejenis tumbuhan yang berbentuk bulat-bulat di sawah yang dinamakan anggur bumi. Buah anggur bumi inilah yang akhirnya menjadi pelepas haus dan makanan masyarakat.

Anehnya, walaupun anggur itu berulangkali di ambil malah bertambah banyak. Karna masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya, maka merekapun bersyukur dan berterimakasih kepada beliau. Perjuangan KH Hasan Genggong melawan penjajah mengembara hingga detik-detik kemerdekaan bangsa Indonesia. Sinyal kemerdekaan itu jauh sebelumnya telah dirasakan oleh beliau.

Hal ini menjadi jelas ketika beliau memerintahkan kepada putranya yang bernama K. Nasnawi (wafat), untuk membentuk barisan perjuang dengan nama “Anshorudinillah”, sebagai barisan untuk memepertahankan Negara Agama.

Dan ini terbukti. Sebab tidak lama kemudian pemberontakan di Surabaya meletus. Kemudian timbul inisiatif dari komandan polisi Kraksaan, Abd. Karim, untuk menjadikan barisan tersebut sebagai pasukan inti digaris depan. Kemudian, berdasarkan hasil musyawarah, nama Anshorudinillah itu diganti menjadi “Barisan Sabilillah”. Barisan Sabilillah ini kemudian dikirim ke tulangan Sidoarjo antara lainnya di dalam barisan tersebut terdapat Non Akhsan dan Lora Sufyan.

Dalam situasi yang gawat ini, tidak sedikit para pejuang angkatan 45 yang datang kepada beliau untuk memohon do’a restu, demi kejayaan dan keselamatan perjuangan bangsa melawan penjajah yang akan memasuki kembali wilayah bumi tercinta ini. Lebih-lebih disaat berkobarnya api perjuangan menghadapi aksi penjajah Belanda dalam class I dan II.

Pondok Genggong juga dijadikan sebagai kubu pertahanan gerilyawan- gerilyawan. Disini KH Hasan Genggong memberikan gemblengan kepada santri- santrinya memberikan santapan bathin serta mendo’akan bagi gerilyawan- gerilyawan demi keselamatan mereka. KH Hasan Genggong wafat di Genggong, 11 Syawal 1374 Hijriyah atau 1 juni 1955 Masehi.

Ayahanda Al Marhum bernama Kiai Syamsuddin bertempat tinggal di desa Sentong Krejengan Probolinggo dan Ibunda Almarhum bernama Hajjah Khadijah. Masyarakat memanggil beliau dengan Kiyai Miri dan Nyai Miri. Ayah Bunda Almarhum adalah seorang yang Taqwa kepada Allah, taat ibadahnya, salatnya dan puasanya, ahli sedekah baik kepada santri-santrinya maupun pada masyarakat sekitarnya.