Ketika Arcandra Tahar Sebut Kilang Minyak Ibarat Dapur Restoran

·Bacaan 3 menit

VIVA – Upaya vaksinasi yang berlangsung di sejumlah negara akhirnya melahirkan optimisme terhadap pemulihan ekonomi global. Hal itu, terlihat dari permintaan minyak dunia yang terus meningkat hingga semester I-2021.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar dalam instagram pribadinya @arcandra.tahar dikutip VIVA, pada Minggu 11 Juli 2021.

Menurut dia, ekspektasi dari vaksinasi masih membuat tren kenaikan konsumsi minyak dunia berlanjut hingga akhir tahun ini. Namun, dengan lonjakan tersebut nasib industri pengolahan minyak dunia kembali dipertanyakan.

Baca Juga: Menag Terbitkan Surat Edaran Idul Adha dan Potong Kurban, Ini Isinya

Seperti, akahkah membangun kilang minyak masih menjadi investasi yang menguntungkan? Bagaimana membangun kilang yang memberikan keuntungan optimal?

Arcandra mengungkapkan kilang minyak adalah sebuah plant yang memproses minyak mentah (crude) menjadi bahan bakar minyak (bbm) atau produk lain yang bermanfaat seperti LPG.

Setiap kilang minyak dirancang untuk mengolah beberapa jenis minyak mentah saja. Semakin banyak jenis minyak mentah yang dapat diolah oleh suatu kilang maka akan semakin mahal biaya pembangunan kilang tersebut.

Untuk itu, guna menekan biaya pembangunan sebuah kilang maka perencanaan yang matang menjadi kunci. Hal itu penting untuk menentukan fleksibilitas minyak mentah yang mampu diproses.

"Kalau kilangnya dirancang untuk crude yang berasal dari lapangan di Arab Saudi maka crude dari Iran kemungkinan besar tidak bisa diolah secara efisien," jelasnya.

Lalu, apakah mungkin kilang dirancang untuk kedua jenis crude ini, Arcandra memastikan situasi itu mungkin saja, tapi ongkos membangun kilang tersebut menjadi lebih mahal.

Ia pun mengibaratkan membangun kilang seperti membangun dapur sebuah restoran modern. Di mana, jika dapur dan tukang masaknya hanya didesain untuk mengolah jenis seafood, maka biaya peralatan dapur akan lebih murah.

Namun, lanjut dia bisa menjadi mahal jika dapurnya dibuat untuk mengolah seafood, ayam, sapi hingga kerbau. Biaya pembangunan dapur juga semakin tinggi apabila jenis makanan yang ditawarkan juga beragam seperti masakan Jepang, India, Arab atau Padang.

"Seafood, ayam, sapi dan kerbau adalah perumpamaan untuk jenis crude yang diolah. Sementara masakan Jepang, India, Arab dan Padang adalah jenis BBM dan produk yang dihasilkan," tegasnya.

Jadi lanjut Arcandra, bisa dibayangkan kalau kilang dirancang untuk bisa mengolah semua jenis crude dan menghasilkan berbagai jenis BBM, tentu akan mahal sekali investasinya.

Selain itu, Arcandra juga mengibaratkan kilang minyak dengan restoran yang miliki dapur modern. Di mana peralatannya semakin canggih dan tukang masaknya khusus tamatan sekolah culinary.

Dengan cara tersebut, tentunya diharapkan restoran tersebut bisa lebih efisien dalam mengelola pesanan dan menghasilkan makanan yang disukai pelanggannya dan tujuan akhirnya adalah profit yang lebih baik.

"Begitu pula dengan kilang minyak. Semakin baru sebuah kilang, tentunya harus semakin efisien dan mampu menghasilkan refinery margin yang lebih bagus," katanya.

Tak cukup sampai di situ, mengelola restoran modern tentu juga diperlukan kejelian management restoran untuk melihat jenis masakan apa yang lagi popular pada masa tertentu.

Dalam hal ini, jika makanan Padang lagi viral maka harapannya restoran bisa mengubah fokus menu masakan dengan cepat agar lebih untung. Begitu juga dengan kilang yang responsif terhadap kebutuhan pasar dan berikan margin bagus.

"Di sinilah diperlukan tim yang berpengalaman untuk memprediksi jenis crude dan jenis produk yang dihasilkan, sehingga sejalan dengan kebutuhan pasar," ujarnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel