Ketika 'Ayam Abu-abu' Menjadi 'Ayam Kampus'  

TEMPO.CO, Jakarta- Selain soal keterbatasan ekonomi, latar belakang keluarga yang berantakan juga memantik niat mahasiswi terjun ke dunia pelacuran. Itu terjadi pada Sabrina, 24 tahun, bukan nama tulen. 

Baginya menjadi ayam kampus adalah sebuah tuntutan. Karena ia harus menghidupi enam anggota keluarganya. Ayahnya telah meninggalkannya, lalu menikah lagi, dan tidak memberi nafkah sepeser pun. "Aku terdesak mencari uang untuk mama dan adik-adik," ujarnya kepada Tempo di sebuah tempat hiburan di Bogor, beberapa waktu lalu.

Sabrina sudah lama bergelut di dunia esek-esek. Sebelum kuliah di salah satu universitas swasta di Bogor, ia sudah menjadi "ayam putih abu-abu" ketika duduk di sekolah menengah atas. Jaringan pelanggan, awalnya ia dapatkan dari temannya, yang dikenal sebagai siswi "bispak" alias "bisa dipake". Ia sendiri menyadari tubuh seksinya merupakan potensi besar menggaet para pria hidung belang. "Banyak yang bilang aku semok," ujar dia, yang selalu membawa kondom di tas.

Ia mengatakan tidak mungkin mengandalkan asupan uang dari ibunya, yang menganggur, dan kakak perempuannya, yang menderita keterbatasan mental. Adik-adiknya sendiri masih sekolah, sehingga butuh uang untuk membeli buku dan bayar semesteran. Demi kelangsungan hidup keluarga, Sabrina rela, jika hampir setiap malam melayani pria yang ingin "tidur" dengannya. "Mau bagaimana? aku ini sudah jadi tulang punggung," katanya.

Keseharian Sabrina jomplang dengan profesinya. Ia seorang yang relijius dan mengaku selalu menunaikan ibadah solat. Bahkan ia fasih mengaji. Ilmu agama itu ia dapat semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama. "Dulu aku sekolah madrasah,” kata Sabrina, yang memiliki wajah putih dengan bentuk oriental.

Sebentar lagi, Sabrina akan menikah. "Sistem estafet" pun ia berlakukan. Untuk membantu perekonomian keluarga, dengan terpaksa, ia menjadikan salah satu adik wanitanya sebagai simpanan seorang pelanggan yang biasa menggunakan jasanya. "Adik melanjutkan dulu, biar uang si om tidak kemana-mana,” ujar penggemar film serial "Sex and The City" ini.

Menurut dia, adiknya tidak keberatan sama sekali dan justru menikmati profesi itu. Bahkan, pelanggannya menjadi lebih banyak darinya. Ia pun merasa senang jika sang adik mendapatkan lelaki kaya yang mengajaknya menikmati malam di hotel berbintang. "Dengan begitu pengalamannya akan bertambah, wilayah operasi jangan lokal saja," ujarnya tertawa kecil.

Dalam tiga tahun, ia bisa membeli mobil Avanza dan rumah, juga mendirikan usaha toko telepon seluler. Bagaimana tidak, sekali di ajak kencan ia bisa meraup Rp 30 juta. Sekali kencan yang dimaksudnya bisa berlangsung selama satu sampai dua minggu.

Ibu dan nenek, yang tinggal satu rumah dengannya, tahu pembelian barang-barang itu berasal dari uang seperti apa. Karena sejak awal, ia terbuka dengan pekerjaannya. »Kalau aku tidak pulang, mereka (nenek dan ibunya) tidak bertanya,” ujar Sabrina yang belum berniat meninggalkan dunia prostitusi. Simak Edisi Khusus Ayam Kampus di sini.

HERU TRIYONO|PACIFICA

Baca juga:

Cerita 'Ayam Kampus', Gundik Terdidik

'Ayam Kampus' Bisa Dipesan Hingga Luar Negeri

Biasanya Ada Avanza Hitam di Depan Rumah Maharani

Siapa Sosok Ridwan, Anak Ustad Hilmi yang Dicegah KPK

Begini Jejak Anak Bos PKS di Kasus Daging Impor

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.