Ketika isu perlindungan mencuat di monumen warisan dunia Borobudur

Sejak awal pandemi COVID-19 atau Maret 2020 pengunjung Taman Wisata Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dilarang naik ke bangunan candi karena dikhawatirkan rawan terjadi kerumunan dan penularan COVID-19.

Hingga sekarang pengunjung pun belum diperkenankan naik ke bangunan candi, areal kunjungan wisatawan hanya dibatasi sampai pelataran candi karena Balai Konservasi Borobudur (BKB) belum mengizinkan pengunjung untuk naik ke bangunan candi Buddha terbesar di dunia tersebut.

BKB merupakan pengelola zona 1 Taman Wisata Candi Borobudur yang berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek).

Kunjungan wisata ke Candi Borobudur sebelum pandemi COVID-19 dari tahun ke tahun terus meningkat, bahkan hampir menembus angka 4.000.000 pengunjung per tahun.

Kunjungan wisatawan yang cukup besar tentunya selain membawa dampak positif, namun juga membawa dampak negatif terutama bagi kelestarian bangunan Candi Borobudur itu sendiri.

Oleh karena itu, BKB terus berupaya untuk melestarikan warisan budaya dunia ini agar nantinya tetap bisa dinikmati generasi mendatang.

Sebelum Indonesia dinyatakan pandemi, dalam rangka perlindungan terhadap bangunan warisan dunia tersebut, BKB sudah memberlakukan pembatasan kunjungan wisatawan di Candi Borobudur hanya sampai lantai 8, sedangkan lantai 9 dan 10 ditutup untuk umum karena dilakukan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui kerusakan di lantai tersebut.

Kerusakan berupa keausan batu Candi Borobudur cukup bervariasi ada yang hanya satu milimeter, dua centimeter, bahkan ada yang empat centimeter.

"Rata-rata keseluruhan tingkat keausan batu candi 0,04 centimeter tahun 2021, tetapi ada yang 3-4 centimeter tetapi tidak semua, hanya beberapa batu, mungkin itu yang dipijak terus-menerus oleh pengunjung," kata Ketua Pokja Perlindungan BKB Bramantara.

Baca juga: PT TWC usulkan tiga kategori pengunjung bisa naik Borobudur gratis

Ia menyampaikan pembatasan pengunjung bagi bangunan warisan dunia itu di mana pun sudah diterapkan dan pembatasan pengunjung ini sudah direkomendasikan BKB sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan biar candi itu bisa bertahan lebih lama lagi.

Menurut dia, pada 2006 UNESCO juga telah merekomendasikan harus ada pengaturan pengunjung, sebenarnya isu atau rekomendasi tentang pengaturan pengunjung sudah lama cuma sekarang lagi heboh, karena harga tiket naik ke candi Rp750.000 bagi wisatawan nusantara.

Harga tiket naik Candi Borobudur yang cukup fantastis itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan usai memimpin Rapat Koordinasi antar Kementerian/Lembaga di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur yang membahas Pengembangan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Candi Borobudur.

Dalam rakor tersebut telah diambil keputusan bahwa diperlukan pembatasan kunjungan wisatawan yang akan naik ke bangunan Candi Borobudur dengan menerapkan sistem kuota, yakni sebanyak 1.200 orang per hari.

Jumlah tersebut setara dengan 10-15 persen persen rata-rata per hari jumlah wisatawan ke Candi Borobudur sebelum masa pandemi.

Atas batasan kuota tersebut, diputuskan kebijakan harga khusus untuk wisatawan nusantara sebesar Rp750.000, wisatawan mancanegara 100 dolar AS, dan untuk pelajar (grup studi tur sekolah/bukan individual) adalah Rp5.000.

Kebijakan tiket khusus ini hanya untuk wisatawan yang berkeinginan untuk naik bangunan Candi Borobudur. Kebijakan kuota dengan tiket khusus ini akan diterapkan melalui sistem reservasi daring.

Pengunjung yang berkeinginan naik Candi Borobudur akan menggunakan alas kaki khusus dan didampingi oleh pemandu wisata yang disiapkan khusus dan telah memiliki sertifikat kompetensi dari Kemdikbudristek serta sertifikat hospitality dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (PT TWC) mendukung kebijakan kuota dengan tiket khusus, sebagai kebijakan yang mengedepankan aspek konservasi tersebut.

Baca juga: Akademikus UGM usulkan Candi Borobudur versi virtual di metaverse

Direktur Utama PT TWC Edy Setijono menegaskan pengaturan kuota kunjungan 1.200 wisatawan per hari adalah kuota khusus untuk wisatawan yang naik bangunan Candi Borobudur. Sedangkan untuk kunjungan regular, selama masa pandemi ini kuota wisatawan akan mengikuti ketentuan dari Satgas COVID-19.

"Ke depan kami harapkan pandemi segera berakhir sehingga wisatawan bisa hadir dengan ke Taman Wisata Candi Borobudur dengan lebih leluasa. Wisatawan regular bisa beraktivitas di Taman Wisata Candi Borobudur sambil menikmati keindahan dan kemegahan Candi Borobudur sampai di pelataran/halaman candi, masih tetap sama dengan kondisi sekarang ini," katanya.

PT TWC tetap mengakomodasi wisatawan regular yang akan berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur dengan harga tiket masuk reguler, yaitu untuk tiket wisatawan nusantara dewasa/umum Rp50.000, tiket wisatawan nusantara anak/pelajar Rp25.000, tiket wisatawan mancanegara dewasa/umum 25 dolar AS, dan tiket wisatawan mancanegara anak/pelajar 15 dolar AS.

"Tiket reguler ini membolehkan pengunjung untuk berwisata di Taman Wisata Candi Borobudur sampai batas pelataran/halaman Candi Borobudur, tetapi tidak diperkenankan untuk naik ke bangunan Candi Borobudur," katanya.

Tanggapan masyarakat

Atas kebijakan harga tiket yang begitu fantastis bagi pengunjung yang akan naik ke bangunan Candi Borobudur tersebut mendapat berbagai tanggapan dari beberapa kalangan.

Ketua Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) 15 Umar Chusaeni menyampaikan selaku pelaku seni budaya dan juga pelaku usaha di Borobudur tidak setuju dengan tiket mahal tersebut

"Kami tidak setuju harga tiket mahal bagi wisatawan mau naik ke bangunan Candi Borobudur, tetapi kami sangat setuju pelestarian Candi Borobudur dilakukan. Artinya harus ada keseimbangan antara Borobudur lestari, tetapi tiket juga terjangkau," katanya.

Ia menuturkan pembatasan jumlah pengunjung yang naik ke Candi Borobudur itu memang harus dilakukan karena dari pengalaman BKB merawat Borobudur dengan jumlah kunjungan yang berjuta-juta orang per tahun itu ternyata ada efek-efek negatif.

Pemilik Limanjawi Art House Borobudur ini menyebutkan ada kerusakan, ada hal-hal yang timbul karena banyaknya orang naik ke candi. Orang datang membuang permen karet, abu rokok, bahkan sampai ke vandalisme.

"Hal tersebut merupakan risiko ketika jumlah pengunjung terlalu banyak, maka pembatasan pengunjung naik ke candi itu harus dilakukan, tetapi harus melalui mekanisme dan mekanisme yang tidak mengganggu perekonomian masyarakat," katanya.

Baca juga: Menko Luhut: Harga tiket masuk Borobudur didasarkan studi mendalam

Menurut dia, pembatasan pengunjung yang naik ke Candi Borobudur sebaiknya dilakukan secara bertahap dan mungkin bisa membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun ke depan untuk mencari batasan pengunjung yang tepat dan tidak berdampak pada ekonomi masyarakat.

Kalau tiba-tiba pengunjung yang naik candi dibatasi dengan jumlah yang sangat sedikit bisa berdampak negatif, jelas orang tidak ingin ke Borobudur karena tidak melihat secara dekat dengan candinya.

"Ada kekecewaan pasti, apalagi dengan tiket relatif mahal otomatis orang akan mengalihkan kunjungan ke objek wisata yang lain," katanya.

Ia menuturkan kalau harga tiket naik candi Rp750.000 per orang untuk wisatawan domestik itu tidak masuk akal, karena kemampuan orang mengunjungi objek wisata itu harus dilihat secara umum harga objek wisata yang lain berapa, Borobudur boleh lebih mahal sedikit karena memang istimewa, tetapi bukan di angka yang fantastis seperti itu.

Menurut Kepala Sangha Teravada Indonesia Biksu Sri Pannyavaro Mahathera dengan tiket naik Candi Borobudur Rp750.000 maka bagi rakyat kecil umat Buddha sampai meninggal dunia pun tentu tidak akan mampu naik ke atas candi untuk melakukan puja atau pradaksina.

Diberlakukannya kuota 1.200 orang per hari yang boleh naik ke atas candi memang sangat perlu untuk penyelamatan candi, tetapi selayaknya tanpa harus membayar sangat mahal bagi rakyat kecil.

Baca juga: TWC dukung upaya konservasi Candi Borobudur

Kepala Wihara Mendut ini berharap jangan hanya yang punya uang saja yang boleh naik candi.

Biarlah umat Buddha sabar menanti antrean bisa naik ke atas candi, seperti halnya kaum Muslim yang juga sabar menanti antrean naik haji sampai beberapa tahun.

Kabar terakhir terkait harga tiket naik Candi Borobudur tersebut akan dikaji lagi, mestinya memang harus ada diskusi yang lebih intensif dari beragam kalangan.

Terlepas dari pro dan kontra tentang harga tiket naik bangunan Candi Borobudur, mudah-mudahan kelestarian Candi Borobudur tetap terjaga dan memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

Baca juga: Menparekraf: Kenaikan biaya masuk Candi Borobudur ditunda
Baca juga: Komisi VI DPR minta pemerintah tak menaikkan tarif masuk ke Borobudur
Baca juga: Ganjar-Luhut sepakat menunda kenaikan harga tiket Candi Borobudur

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel