Ketika Ketua DPRD Lumajang Tidak Hafal Pancasila Berujung Pengunduran Diri

Merdeka.com - Merdeka.com - Ada peristiwa tidak biasa ketika demonstrasi mahasiswa di kantor DPRD Kabupaten Lumajang, Rabu (7/9) lalu. Saat itu sejumlah mahasiswa ditemui Ketua DPRD Anang Akhmad Syaifuddin. Di hadapan mahasiswa, Ketua DPRD Lumajang Anang Akhmad Syaifuddin membacakan Pancasila.

Butir pertama sampai sila ketiga lancar diucapkan oleh Anang. Namun ketika mengucapkan sila keempat, Akhmad mendapat respons dari mahasiswa. Dia salah sebut 'kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan dan permusyawaratan'.

Sontak gemuruh suara mahasiswa menyoraki Anang dan mengatakan bahwa sila yang ia lafalkan keliru. Anang lantas tertunduk malu.

Seharusnya sila keempat berbunyi 'kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan'.

Tidak berhenti di hari itu, persoalan ini berlanjut hingga Akhmad memutuskan mundur dari jabatannya. Hal itu dia sampaikan dalam Rapat Paripurna, Senin (12/9).

"Saya atas nama pribadi dan Ketua DPRD Kabupaten Lumajang, ingin menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Lumajang, khususnya kepada anggota dewan, terkait dengan insiden tidak hafalnya saya melafalkan teks Pancasila," kata Ahmad Syaifuddin dalam rapat paripurna di DPRD Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Anang merupakan politikus dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Berdasarkan informasi yang dihimpun, dia berasal dari Dusun Kembang, Desa Sentul, Kecamatan Sumbersuko, Lumajang.

Di DPRD, Anang juga menjabat sebagai ketua Fraksi PKB. Pria kelahiran 1972 itu merupakan lulusan dengan gelar sarjana.

Track record Anang sebelum menjadi ketua DPRD Kabupaten Lumajang ialah pernah menjabat sebagai Koordinator Komisi A DPRD Lumajang. Tidak hanya itu, Anang pun sempat menduduki jabatan sebagai Ketua Badan Musyawarah DPRD Lumajang dan Ketua Badan Anggaran DPRD Lumajang.

Sebelumnya ia dipilih sebagai ketua DPRD atas perolehan suara terbanyak PKB pada Pemilu 2019, sebanyak 10 kursi dari total 50 kursi yang tersedia. Dia memenangkan Pemilu pada Dapil IV Lumajang untuk wilayah Gucialit, Padang, Pasrujambe, dan Senduro bersama enam politikus lain di antaranya Supratman (PDIP), Amin (Gerindra), Sujiarti (Demokrat), Umi Kulsum (PKB), Bukasan (PDIP), dan Hadi Nur Kiswanto (PPP).

Saat rapat paripurna kemarin, Anang menyampaikan keputusannya untuk mundur dari kursi pucuk pimpinan DPRD Lumajang.

"Saya, atas nama pribadi dan Ketua DPRD Kabupaten Lumajang, ingin menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Lumajang, khususnya kepada anggota dewan, terkait dengan insiden tidak hafalnya saya melafalkan teks Pancasila," kata Anang.

Dia mengakui hal tersebut tidak pantas terjadi dan dilakukan oleh seorang Ketua DPRD di mana pun dan siapa pun. "Dalam kesempatan yang berbahagia ini, dalam (rapat) paripurna DPRD, dalam ruangan yang terhormat ini, dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim saya dengan hati yang sangat menyesal mengundurkan diri dari Ketua DPRD Kabupaten Lumajang," katanya di hadapan seluruh peserta sidang paripurna.

Politikus PKB itu mengatakan keputusannya mengundurkan diri untuk menjaga marwah DPRD Kabupaten Lumajang, dan menjadikan pembelajaran bagi siapa saja yang menjadi pemimpin.

"Untuk itu, saya meminta maaf tidak terhingga kepada masyarakat Lumajang, anggota dewan, Pemkab Lumajang, dan seluruh elemen masyarakat. Kegaduhan itu untuk segera diakhiri; dan kepada teman-teman mahasiswa, tetaplah menjadi alarm bagi Indonesia dan pengingat kita semua," bebernya.

Usai rapat paripurna, saat diwawancarai sejumlah wartawan, Anang mengatakan pengunduran diri itu dia lakukan sebagai bentuk kecintaannya terhadap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan UUD Negara RI 1945.

"Pengunduran diri saya sebagai Ketua DPRD Lumajang tidak ada intervensi dari siapa pun dan itu bentuk kecintaan saya kepada Pancasila, dari pikiran dan hati saya. Mungkin tidak salah orang tidak hafal Pancasila, tapi itu tidak pantas dilakukan oleh Ketua DPRD Lumajang," ujarnya.

Reporter: Putri Oktafiani [cob]