Ketika Lansia Dipandang Sebagai Sampah Peradaban

Syahdan Nurdin, susahtidur2294-576
·Bacaan 4 menit

VIVA – Nenek Muntiah terlihat kurus kering. Beliau terlantar tanpa sanak famili di dalam sebuah gubuk. Ketika sosok Nenek Muntiah ramai diperbincangkan, beliau sedang kelaparan. Rambut putihnya seperti manifestasi kehidupan yang kejam.

Segera saja kabar Nenek Muntiah menjadi viral di media sosial. Banyak orang yang menyampaikan simpati. Beberapa mengutuki peran keluarga yang menelantarkan Nenek Muntiah. Sebagian memohon agar pemerintah setempat memperhatikan nasib Nenek Muntiah. Sisanya menyalahkan negara yang abai pada kesejahteraan rakyatnya.

Apa yang saya sampaikan di atas adalah bukti kejamnya konstruksi sosial Indonesia. Tanpa perlu menunjuk satu dua pihak, berbalas simpati dan opini yang tersaji adalah sampel nyata dari apa yang saya maksud. Ya, konstruksi sosial masyarakat kita sudah dalam fase kehilangan batas antara subjek dan objek.

Kasus Nenek Muntiah juga menunjukkan bahwa manusia hari ini tidak lebih sebagai roda gigi. Menjadi objek penggerak roda peradaban dan segenap konsep sosial yang kehilangan karakter manusia. Semua beroperasi dan melupakan bagaimana manusia hidup sebagai bagian dari ekosistem.

Kasus seperti Nenek Muntiah bukanlah kali pertama lansia terlantar dan kesulitan untuk bertahan hidup. Silakan buka media sosial Anda dan saksikan kasus serupa berikut romantisasi ketimpangan sosial. Ada kakek yang mengayuh sepeda menjajakan balon yang tak laku.

Ada sepasang suami istri yang hidup dari nasi aking. Banyak sekali kasus ketimpangan yang dialami lansia, namun dipandang dari sudut pandang memuakkan. Saya ingin membahas sampai cacat logika teori Malthusian hari ini.

Namun izinkan saya untuk fokus pada perkara lansia. Dan mari kita telaah bagaimana konstruksi sosial menempatkan lansia sebagai sampah peradaban. Lansia dikotak-kotakkan sebagai anggota masyarakat non produktif. Namun tidak ditempatkan sebagaimana manusia. Mereka terlantar sebagai kewajaran dalam masyarakat, di mana manusia non produktif tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Ketika ada lansia yang masih bekerja semampunya, masyarakat ramai memuliakan semangat kerja lansia tersebut. Ini adalah cara pikir bajingan yang mendarah daging. Kemiskinan dipandang sebagai hal lumrah, dan perjuangan untuk bertahan hidup dalam ketimpangan dianggap heroik.

Romantisasi ketimpangan ini menutupi perkara sebenarnya. Seperti kelambu yang menutupi bangkai. Ketimpangan terjadi karena sumber daya untuk bertahan hidup ditimbun oleh sebagian kecil populasi. Jika ada individu yang tidak mampu mengakses sumber daya untuk bertahan hidup sampai taraf dasar, maka ini adalah sebuah kesalahan dan bencana.

Bukan kisah inspiratif yang perlu dipuja-puja. Kemiskinan sendiri dipandang secara keliru. Simpati dan opini yang bersliweran menempatkan kemiskinan sebagai hal normal. Normalisasi kemiskinan dan ketimpangan sosial dikemas sebagai nilai moral yang pantas.

Tidak ada yang menyadari bahwa masyarakat bisa hidup tanpa ketimpangan. Ketika sumber daya diolah sebagai pemenuhan kebutuhan, maka setiap orang bisa mengakses sumber daya tersebut.

Realitasnya, sumber daya diolah sebagai alat kontrol sosial. Di mana monopoli akses menuju sumber daya dikemas sebagai hak kepemilikan. Apakah model ini salah? Tentu tidak ketika kita mengamini konstruksi sosial yang menyekat individu sesuai kemampuan monopoli pada sumber daya.

Namun ketika Anda menyaksikan ketimpangan sosial akibat monopoli ini, apakah Anda masih merasa baik-baik saja? Kembali pada kasus Nenek Muntiah. Siapa yang bisa disalahkan? Apakah keluarga yang menelantarkan?

Tentu ini jawaban paling mudah. Siapa lagi yang bisa dijadikan kambing hitam selain orang-orang terdekat. Saya tidak setuju dengan jawaban seremeh ini. Toh kita melihat ada lansia yang hidup sejahtera. Alasannya karena keluarga dan keturunan lansia tersebut memiliki akses menuju sumber daya.

Akses ini cukup untuk mendukung anggota non produktif untuk bertahan hidup. Bagaimana dengan negara dan pemerintahan? Sebagai alat kontrol sosial utama, negara punya andil dalam memelihara ketimpangan sosial.

Status quo tetap dijaga demi eksistensi kontrol sosial ini. Tapi ini masih riak dari problematika sebenarnya. Meskipun tanpa konsep pemerintahan, akses menuju sumber daya masih bisa dimonopoli. Monopoli ini akan membentuk alat kontrol sosial baru meskipun tanpa negara.

Menurut saya, masalah utama dari terlantarnya lansia dan ketimpangan sosial ada pada konstruksi sosial itu sendiri! Ketika tatanan masyarakat masih mengizinkan monopoli sumber daya sebagai bagian dari hierarki sosial, silahkan ucapkan selamat tinggal pada mimpi masyarakat tanpa ketimpangan.

Selama pemakluman pada monopoli ini menjadi nilai moral, maka kita hanya akan menemukan sikap empati tanpa solusi. Bahkan dengan solidaritas kelompok tertindas, ketimpangan akan abadi selama kita izinkan sebagai hal normal dalam masyarakat.

Mungkin Anda berpikir sudut pandang saya ini utopis. Bagaimana mungkin kita hidup dalam tatanan sosial yang berkebalikan dari apa yang kita pandang normal? Tapi apakah tidak ada cara hidup yang jauh dari distopia peradaban ini? Apakah Nenek Muntiah adalah sampah peradaban? Apakah sumber daya hanya boleh diakses pihak tertentu?

Apakah strata sosial adalah nilai abadi? Jika Anda masih muak dengan cara pandang ini, percayalah bahwa konstruksi sosial hari ini adalah sesuatu yang tidak abadi. Dan kasus Nenek Muntiah bukanlah hal normal yang patut dibalut dengan nilai-nilai moral semu!