Ketika para pembeli barang mewah China membutuhkan tim bersih-bersih

·Bacaan 3 menit

Beijing (AFP) - Penemuan sebuah jaket Burberry yang dia tidak ingat pernah beli membuat Chen Rui sadar bahwa dia benar telah membawa para ahli guna mengelola pakaian mewahnya yang tidak terkendali.

"Bagaimana Anda menemukan ini?" tanya pria berusia 32 tahun itu kepada tim "penyelenggara rumah" yang menemukan jaket itu dari tumpukan pakaian yang ditarik dari lemari di sebuah apartemen apik di Beijing.

Pertumbuhan ekonomi China yang sangat besar selama empat dekade terakhir telah menyebabkan lonjakan belanja yang mencolok, dengan uang tunai yang baru saja diperoleh dari label yang didambakan untuk meningkatkan status mereka.

Sepertiga dari semua pengeluaran mewah secara global dilakukan oleh konsumen China, kata Laporan Barang Mewah China 2019 dari McKinsey.

Sejauh ini pandemi tampaknya tidak menumpulkan keinginan mereka, tetapi "Single's Day" pada 11 November, hari belanja terbesar di dunia, akan diamati dengan cermat demi mengetahui keadaan sentimen konsumen China.

Namun, pada era pembelanja sofa, ada juga kerugian dalam mengejar mode.

Ibu rumah tangga Chen mengatakan bahwa bilik lemari pakaiannya yang penuh dengan merek-merek Louis Vuitton dan Chanel hingga Prada dan Gucci, dulu sering membuat dia bertengkar dengan suaminya.

"Saya tidak pernah membuang koleksi saya, saya malah menambahkannya," kata mantan guru seni itu, seraya mengatakan bahwa dia hanya suka memanjakan diri. "Saya tak punya alasan untuk membatasi diri saya sendiri."

Jadi dalam keputusasaan, dia menyewa tim penyelenggara rumah beranggotakan empat orang guna menyelamatkan lemari pakaiannya.

Para ahli berseragam hitam itu menyelinap di sekitar apartemennya yang mewah, mengosongkan lebih dari seribu potong pakaian dan lusinan tas tangan mewah dari lemarinya.

Tim ini dipimpin oleh Yu Ziqin, salah seorang dari ribuan lulusan sekolah pengorganisasian rumah bernama Liucundao yang mengajarkan seni menertibkan para pembeli kaya di China.

Pendiri sekolah ini, Bian Lichun, mengatakan kini ada lebih dari 3.000 profesional dalam industri yang sedang berkembang ini yang menurut proyeksi stasiun televisi negara CCTV tahun ini bisa mencapai 100 miliar yuan (Rp214 triliun) dalam hal perputaran pasar.

Selama pandemi, Bian mengatakan bisnis melonjak hingga 400 persen karena orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah menjelajahi internet dan menilai di mana harus meletakkan semua akuisisi baru mereka.

Penyelenggara rumah, Han Yonggang mengatakan kliennya -yang masing-masing membayar maksimal 2.000 dolar AS (Rp28 juta) untuk proses yang dapat memakan waktu beberapa hari-- biasanya memiliki pendapatan tahunan melebihi satu juta yuan (Rp2,1 miliar) per tahun.

"Saya menghasilkan lebih dari yang saya dapatkan ketika saya masih menjadi desainer grafis," jelas Han.

Namun tak seperti nasihat guru Jepang Marie Kondo -yang etos bersih-bersihnya yang terkenal di dunia telah menginspirasi jutaan orang untuk rapi-rapi- Bian dan timnya tidak pernah membujuk klien membuang barang atau meminta mereka mengurangi belanja.

Sebaliknya, mereka mengajarkan "cara mempertahankan", kata Bian, melalui penyimpanan dan desain yang cerdik - seperti sarung pelindung ekstra tipis.

"Tak ada yang tidak berguna di dunia ini."

Bian mendirikan perusahaannya sepuluh tahun lalu setelah melihat celah pasar kelas ponsel yang meningkat.

"Orang-orang dulu beranggapan bahwa kami adalah tukang bersih-bersih - tapi kini mereka sangat menghormati kami," kata Bian tentang apa yang kini dianggap sejumlah klien mereka sebagai layanan penting itu.

"Kami bahkan tahu berapa banyak celana dalam yang mereka miliki ... dan kami telah menciptakan kehidupan yang baik bagi mereka."

E-commerce dan perdagangan mobile juga telah meningkatkan kebiasaan belanja.

Kementerian transportasi mengatakan jumlah paket ekspres yang dikirimkan per orang di China tahun ini yang hampir mencapai 60, sekitar dua kali rata-rata global.

Liu Wenjing, dari sekolah ekonomi dan manajemen di Universitas Tsinghua, mengatakan e-commerce telah menciptakan budaya "belanja online kapan saja dan di mana saja".

Tetapi Bian berpendapat masalahnya bukan mengenai konsumsi berlebihan atau psikologi pengeluaran, namun lebih mengenai tantangan menemukan tempat guna menimbun pakaian di kota-kota padat penduduk di China.

"Tujuan kami adalah memilah ruang, bukan mengatur orang," kata dia.


qy/rox/apj/dan/axn