Ketika Petambak di Kutai Kartanegara Lebih Utamakan Rawat Lingkungan

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Kutai Kartanegara - Pola intensifikasi sudah dikenal cukup lama di sektor pertanian maupun perikanan. Pola ini dianggap sangat membantu meningkatkan produksi hingga berkali-kali lipat.

Meski hasilnya fantastis, namun ada dampak buruk bagi lingkungan dengan biaya pemulihan yang sangat mahal. Walau mendapat keuntungan besar, namun kerusakan lingkungan akibat penggunaan bahan kimia yang masif membuat petani atau nelayan enggan kembali mengolah lahannya.

Hal itu yang kemudian disadari oleh Petambak di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pengalaman di pola intensifikasi lahan tambak, membuat mereka kapok dan beralih ke tambak ramah lingkungan.

“Kami menolak pola intensifikasi karena dalam dua tahun saja tambak sudah rusak,” kata Subhan, Ketua Kelompok Nelayan Salo Sumba Sejahtera, Kecamatan Muara Badak.

Berdasarkan pengalaman, Subhan menyebut pola intensifikasi menggunakan pakan non organik yang tentu menggunakan bahan kimia. Bahan ini menumpuk di dasar tambak dan berubah menjadi racun.

“Timbunan pakan di dasar tambak tidak semua dimakan oleh ikan atau udang, timbunan itu bertumpuk dan berubah menjadi racun,” katanya.

Meski hasilnya besar dan sangat menguntungkan, namun dampak yang ditimbulkan sangat merusak tambak. Kerusakan itu bisa menjalar ke ekosistem tambak yang seharusnya menjadi penopang kehidupan tambak milik nelayan.

“Sisa pakan yang bertumpuk di dasar tambak dan berubah menjadi racun, akan merusak ekosistem ketika air tambak kami lepaskan. Ikan, udang, kepiting dan hewan laut lainnya bisa mati,” papar Subhan.

Lebih Utamakan Merawat Lingkungan

Laut adalah kehidupan kami menjadi motto nelayan budidaya di Kutai Kartanegara.
Laut adalah kehidupan kami menjadi motto nelayan budidaya di Kutai Kartanegara.

Pengalaman menggunakan pola intensifikasi menjadi pelajara berharga bagi nelayan budidaya di Kecamatan Muara Badak. Terlebih lagi, setelah tambak rusak akibat pola tersebut, banyak petambak yang enggan mengolah tambaknya.

“Karena biaya pemulihan tambak sangat besar, jadi banyak nelayan di sini kemudian membiarkan tambaknya terbengkalai,” kata Subhan.

Kini, seluruh nelayan budidaya atau petambak yang tergabung ke banyak kelompok nelayan memilih meninggalkan pola intensifikasi. Meski hasil panen tak sebesar pola intensifikasi, namun tambak bisa digunakan secara terus-menerus.

“Untuk itu kami menggunakan pola ramah lingkungan karena alam di pesisir Kutai Kartanegara masih sangat baik,” katanya.

Di sisi lain, sambungnya, tambak ramah lingkungan lebih berkesinambungan mengingat lingkungan tetap terjaga. Dengan pola ramah lingkungan, Subhan menyebut nelayan di Muara Badak tak perlu menyiapkan pakan khusus.

“Karena potensi alam di sini masih banyak menyediakan makanan untuk ikan atau udang yang kami budidayakan,” ujar Subhan.

Tak heran jika nelayan di pesisir Muara Badak menyediakan areal khusus di sekitar tambaknya untuk pohon mangrove. Hutan mangrove di sepanjang aliran sungai kecil di sisi tambak juga dirawat baik karena di situlah bibit alami untuk udang dan kepiting tersedia melimpah.

Nelayan budidaya di Muara Badak, kata Subhan, sangat memahami karakteristik lahan yang dijadikan tambak. Ekosistem mangrove sebagai sumber pakan alami masih terjaga dengan baik.

Pola menjaga ekosistem tambak ini yang kemudian membuat nelayan budidaya di Muara Badak lebih menyukai pola tambak ramah lingkungan. Ekosistem terjaga, pakan disediakan alam, dan tambak bisa digunakan secara berkesinambungan tanpa perlu keluarkan biaya pemulihan setelah panen.

Tambak Terpadu

Subhan, petambak di Kecamatan Muara Badak saat sedang memeriksa kondisi rumput laut di tambaknya.
Subhan, petambak di Kecamatan Muara Badak saat sedang memeriksa kondisi rumput laut di tambaknya.

Agar menghasilkan keuntungan lebih di setiap tambak, nelayan budidaya di Kecamatan Muara Badak mulai menerapkan tambak terpadu. Selain budidaya ikan, udang dan kepiting, mereka juga mulai membudidaya rumput laut.

Hasilnya sangat luar biasa. Meski masih kalah jumlah produksi dengan tambak pola intensifikasi, namun hasilnya bisa dirasakan oleh para nelayan.

“Kita taruh rumput laut di dasar tambak, itu juga sumber pakan alami ikan bandeng. Di satu tambak bisa lebih dari satu jenis yang kami budaya,” sebut Subhan.

Keberadaan tambak terpadu tentu meningkatkan pendapatan nelayan yang memilih menggunakan cara ramah lingkungan. Geliat nelayan di salah satu kecataman kaya minyak dan gas ini mulai tumbuh dan berkembang.

“Untuk satu hektar tambak saja, kami bisa menghasilkan 300 kilogram rumput laut. Itu belum lagi hasil udang dan kepiting yang kebanyakan kualitas ekspor,” papar Subhan.

Udang dan kepiting di Muara Badak sudah menembus pasar dunia. Meski pandemi melanda dunia, sebut Subhan, udang dari Muara Badak tetap terus diekspor.

“Untuk udang windu, meski harganya sempat jatuh dari Rp250 ribu ke Rp150 ribu per kilogram saat puncak pandemi, namun masih terserap pasar luar negeri,” katanya.

Di sisi lain, pola terpadu ini juga menambah tenaga kerja non skill yang bisa diserap. Contohnya budidaya rumput laut yang membutuhkan tenaga kerja non skill cukup banyak.

Potensi Besar Perikanan di Kutai Kartanegara

Undang windu menjadi andalan petambak di Delta Mahakam karena sejak lama elalu diserap pasar dunia.
Undang windu menjadi andalan petambak di Delta Mahakam karena sejak lama elalu diserap pasar dunia.

Meski dikenal sebagai sebagai kabupaten terkaya di Indonesia dengan sumber daya alam yang melimpah, siapa sangka Kabupaten Kutai Kartanegara juga punya potensi perikanan yang sangat besar. Potensi ini meliputi Kawasan pesisir dengan hasil udang dan ikan laut, namun juga di Kawasan pedalaman dengan hasil ikan air tawar yang tak kalah melimpah.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kutai Kartanegara Dadang Supriatman menjelaskan, potensi ikan di kabupaten itu bisa dilihat dari panjang garis pantai yang mencapai 333 kilometer. Pesisir Kutai Kartanegara makin diperkaya dengan kehadiran Delta Mahakam, Kawasan delta Sungai Mahakam.

“Di situlah daerah pesisir itu yang semuanya hamparan tambak,” kata Dadang.

Untuk hasil produksi laut, Dadang menyebut mencapai 189 ribu ton. Sekitar 40 ribu ton lebih adalah udang windu.

“Udang windu ini tujuannya ekspor ke Jepang, Malaysia, Singapura, dan Uni Eropa dalam bentuk mentah dan setengah jadi,” papar Dadang.

Udang windu ini menjadi favorit produksi di Kutai Kartanegara karena menghasilkan pendapatan yang sangat besar. Selain di Kecamatan Muara Badak, udang windu juga dihasilkan di Kecamatan Anggana.

Secara topografi, Kecamatan Muara Badak dan Kecamatan Anggana dianugerahi Kawasan Delta Mahakam. Di Muara badak saja, luasan tambak yang masuk Kawasan Delta Mahakam mencapai 12.608 hektar.

Simak juga video pilihan berikut