Ketika polisi mengenalkan sosok pahlawan dengan wayang

Tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Ada beragam cara masyarakat memperingati Hari Pahlawan sekaligus mengenalkan sosok para pahlawan kepada anak-anak. Mereka adalah generasi penerus yang harus mengenal para pahlawan pejuang kemerdekaan.

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Pare, Kabupaten Kediri, AKP Bowo Wicaksono, juga memiliki cara sendiri dalam merefleksikan momentum tersebut. Berbekal wayang buatan sendiri, dengan beragam karakter tokoh para pahlawan, ia mengenalkan para pahlawan kepada anak-anak

Wayang-wayang itu dibawanya, dikenalkan kepada anak-anak di Taman Kanak-kanak Desa Darungan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Layaknya pertunjukan wayang kulit, pentas digelar di halaman sekolah yang rindang, menyatu dengan alam, Rabu (9/11).

Bagi Bowo, mengenalkan sosok para pahlawan kepada anak-anak sehingga mereka bisa lebih kenal, bisa meneladani perjuangan mereka, merupakan sesuatu yang sangat penting.

Wayang dipilih sebagai bahan edukasi kepada anak-anak, sebab wayang merupakan kesenian tradisional asli Indonesia. Dengan wayang pula, anak-anak dapat lebih memahami sosok tokoh pahlawan.

Wayang lebih mudah dilihat secara visual, sehingga anak-anak pun dapat lebih menangkap karakter sosok wayang yang ingin dikenalkan.

Ada beragam tokoh yang dibuat oleh Kapolsek Pare, Kabupaten Kediri. Setidaknya terdapat 35 karakter tokoh antagonis (yang merupakan karakter yang menentang) dan protagonis atau karakter utama.

Beberapa tokoh pahlawan yang dikenalkan di antaranya adalah Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno, Tuanku Imam Bonjol yang terkenal dengan kisah perang padri, dan Ibu Kartini yang merupakan pelopor emansipasi wanita.

Ada juga karakter Panglima Sudirman, yang merupakan Panglima Besar pertama di jajaran Tentara Indonesia. Kemudian, Sultan Hasanuddin yang terkenal karena semangat dan keberaniannya dalam menentang monopoli perdagangan rempah-rempah yang dilakukan oleh VOC atau zaman Belanda, serta berbagai macam karakter lainnya.

Tokoh-tokoh wayang itu dibawa ditancapkan di batang pisang. Anak-anak dengan mudah melihat karakter tokoh wayang saat ditancapkan di batang pisang tersebut. Seperti halnya panggung pertunjukan wayang kulit, di pergelaran itu ada dua gunungan, di kanan dan kiri. Sisi kanan berjajar tokoh protagonis sedangkan di sisi kiri berjajar tokoh-tokoh antagonis.

Tidak ada perlengkapan khusus seperti saat dalang sedang pentas. Hanya ada tokoh wayang, perangkat pengeras suara (sound system) yang mengumandangkan lagu anak-anak, serta poster bergambar wajah para pahlawan untuk dibagikan kepada anak-anak.

Baju pun memakai baju dinas polisi, bukan dalang. Pentas dilakukan bagian dari program layanan masyarakat oleh jajaran kepolisian. Pentas dilakukan saat jam dinas.

Wajah semringah terlihat pada anak-anak TK di Desa Darungan, yang menonton pertunjukan wayang karakter tersebut. Bukan tegang atau rasa bosan, tapi riang dan bahagia yang mereka rasakan.

Mereka tertawa bersama-sama, diajak bernyanyi bersama sekaligus dikenalkan berbagai tokoh karakter pahlawan bangsa yang dibingkai menjadi bentuk wayang.

Satu per satu anak-anak ke depan. Mereka ditanya ingin menyanyi apa, dan baru dikenalkan dengan tokoh wayang.

Lagu Garuda Pancasila dan Balonku Ada Lima, menjadi lagu favorit anak-anak. Dengan bersemangat mereka menyanyi bersama. Mereka menyanyi dengan lantang dan gembira. Teman-temannya pun ikut bernyanyi bersama.

Saat ditanya tokoh pahlawan, jawaban mereka pun lucu-lucu. Ada yang mengatakan pak ustaz saat sosok Tuanku Imam Bonjol dikenalkan, ada pula yang menjawab Pak Jokowi saat tokoh Presiden dikenalkan. Ya, tidak ada yang salah dengan keluguan anak-anak itu.

Ada juga yang bingung ketika sosok Ibu Kartini dikenalkan. Namun, itu semua adalah bagian dari proses belajar anak. Dari semula tidak tahu menjadi tahu, dengan edukasi media wayang.

Keberanian untuk menjawab anak-anak itu juga patut diapresiasi karena mereka sudah berani untuk menjawab pertanyaan. Hadiah berupa camilan dibungkus rapi diberikan kepada anak-anak tersebut. Mereka sangat senang.

Tidak berhenti di situ, Kapolsek pun membagi-bagikan poster bergambar para tokoh pahlawan. Semua anak-anak juga mendapatkannya. Setelah itu, mereka tetap bernyanyi bersama.

Para guru pun juga mengapresiasi pementasan wayang karakter tersebut. Mereka juga menyiapkan hadiah kecil berupa susu dan aneka camilan untuk anak-anak.


Karakter wayang dari kertas

Membuat karakter wayang bukanlah sesuatu yang sulit bagi Bowo Wicaksono. Ia sudah gemar pada kesenian sejak kecil. Dirinya memang pecinta budaya. Namun, menjadi polisi adalah pilihan baginya.

Menjadi polisi bukan berarti pupus kesukaan dirinya pada kesenian. Ia tetap bisa menyalurkan hobinya pada kesenian dengan pentas wayang di hadapan anak-anak.

Satu per satu gambar didesain di atas kertas karton, kemudian dipotong. Desain itu beragam tokoh. Bentuknya sederhana, namun tidak mengurangi esensi dari karakter tokoh itu sendiri.

Bagi Bowo, bercengkerama dengan anak-anak adalah kebahagiaan tersendiri bagi dirinya. Ia ingin menanamkan bahwa polisi baik dan dekat dengan anak-anak.

Wayang dipilih karena secara visual terlihat sehingga mudah memberikan edukasi pada anak-anak.

Dengan pementasan wayang pun, anak-anak menjadi lebih akrab dengan polisi dan tidak takut. Dengan pentas pun, komunikasi dengan masyarakat, orang tua murid pun juga terjalin dengan baik.

Bowo pun juga senang, sebab kegiatan ini bernilai positif. Anak-anak tidak takut dengan polisi. Justru mereka bisa komunikasi lebih aktif dengan bapak-bapak berseragam itu.

Haris, salah seorang anak mengatakan senang ada pementasan wayang tersebut. Ia jadi tahu tokoh Presiden Soekarno yang dikenalkan oleh polisi. "Ini Pak Soekarno. Pak polisi tadi yang bilang," kata Haris dengan wajah polosnya.

Di sela pementasan pun, juga tetap ada pelayanan publik. Masyarakat yang ingin mengurus berbagai macam surat bisa mengurus di petugas layanan yang juga tersedia di lokasi pementasan.

Ika Yulia, warga Desa Darungan, memberikan apresiasinya dengan program jajaran kepolisian ini. Ia juga tidak perlu jauh-jauh ke Polsek Pare, Kabupaten Kediri, untuk membuat surat kehilangan. Dia bisa hemat waktu, hemat ongkos, karena bisa mengurus surat di mobil keliling yang disediakan Polsek Pare, Kabupaten Kediri.

Ika Yulia membuat laporan KTP miliknya hilang. Dia perlu surat keterangan kehilangan dari polisi untuk membuat kembali KTP yang baru.

Mengenalkan para pahlawan bangsa kepada anak-anak generasi penerus, bisa dengan banyak cara, seperti menonton film tentang pahlawan, mengunjungi museum, melihat monumen dan patung pahlawan, berziarah ke Taman Makam Pahlawan, dan juga bisa melalui wayang kulit. Pergelaran wayang kulit tidak sekadar tontonan, tapi juga mengandung tuntunan akan nilai-nilai luhur.