Ketika Sampah-Sampah Ikut 'Berjemur' di Pantai Bali

Merdeka.com - Merdeka.com - Kuta, sebuah destinasi wisata yang sudah lazim dilirik wisatawan lokal maupun mancanegara. Bagi turis asing, mengunjungi Indonesia belum lengkap jika tidak mampir ke Pantai Kuta, tepatnya di Pulau Dewata, Bali.

Namun di balik ketenaran Kuta di mata dunia, terselip fakta miris tentang tumpukan sampah yang hampir selalu terjadi setiap tahunnya. Baru-baru ini Pantai Kuta menyumbang kurang lebih 50 ton sampah kiriman.

Hal ini telah dibenarkan oleh Koordinator Deteksi Evakuasi Sampah Laut (Desalut) Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung I Made Gede Dwipayana, Jumat (28/10).

"Sudah kemarin (dibersihkan). Kalau yang kemarin, kita bagi tenaga itu sekitar 80 personel diturunkan di Pantai Kuta. Kalau sampah belum terangkut tapi masih dikumpulkan di STU. Kalau di Kuta saja itu mungkin sekitar 20 sampai 40 truk, atau 40 sampai 50 ton sampah," tuturnya.

Tidak hanya Pantai Kuta, pembersihan sampah juga dilakukan di Pantai Seminyak dan Legian serta pantai di kawasan Kecamatan Kuta Utara, Badung.

"Kebetulan tadi pengangkut di Seminyak hari ini, itu terangkut sekitar 12 truk atau 25 ton," jelasnya.

Menurut perkiraan Dwipayana, sampah-sampah kiriman ini akan terus berdatangan di gelombang selanjutnya.

"Itu pasti (akan ada sampah kiriman lagi), ini kan baru permulaan. Mungkin nanti gelombang selanjutnya pasti ada lagi. Kita stand by terus setiap hari, karena bukan di sana saja (Pantai Kuta) lokasi yang terdampak," ungkapnya.

Dia juga menyebutkan, sampah kiriman itu merupakan campuran sampah lokal dari sekitar pantai dan sampah kiriman angin barat atau dari luar Bali. Hal ini ditandai dengan ditemukannya balok-balok kayu yang terdampar di tepi pantai.

"Ini campuran lokalan dan angin barat, kayu-kayu besar sudah ada itu tidak mungkin lokalan. Masih bisa (main surfing) itu," ujarnya.

Persoalan sampah di pantai Kuta memang sudah menjadi pekerjaan rumah setiap tahunnya. Pada awal tahun 2022, sampah juga sempat memenuhi pantai Kuta, hingga beritanya viral di sosial media karena beredarnya video yang memperlihatkan seorang warga sedang berenang dikelilingi sampah plastik dan rumput laut di Pantai Kuta, Selasa (25/1).

Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Kebersihan dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung, Anak Agung Gede Agung Dalem membenarkan video tersebut terjadi di Pantai Kuta.

"Iya itu benar sekarang ada mendarat sampah rumput dan sedikit-sedikit ada plastik, tapi yang banyak rumput laut," kata Agung Dalem saat dihubungi, Selasa (25/1).

Dia pun menerangkan, bahwa sampah-sampah tersebut memang akan terus berdatangan selama musim angin barat dan puncaknya saat itu diprediksi hingga Maret 2022.

"Sampah itu musiman, jadi setiap tahun itu ada musim barat. Kebetulan pas dengan musim hujan itu biasanya sampai Maret itu sampah akan terus berdatangan bergelombang dengan variasi berbeda-beda dengan besaran arus dan angin. Saat ini, kebetulan yang datang rumput laut yang banyak," imbuhnya.

Untuk membersihkan sampah tersebut, petugas harus menunggu sampai sampah itu menepi ke pantai.

"Kami pemerintah kabupaten punya kewenangan (membersihkan) di pantai. Artinya di daratnya kalau yang di laut sebagian kewenangan provinsi, lebih jauh lagi (pemerintah) nasional," jelasnya.

Sementara pada akhir tahun 2021 tepatnya pada bulan desember, puluhan ton sampah dari laut juga sempat mengotori kawasan sepanjang Pantai Kuta, Seminyak dan Legian di Kabupaten Badung, Bali, sejak Sabtu (4/12/2021) malam.

Sampah yang dikumpulkan di Pantai Kuta beratnya sekitar 30 ton, di Seminyak sekitar 15 ton, dan Legian sekitar 20 ton.

Kurang lebih terdapat 20 petugas Unit Reaksi Cepat (URC) dari DLHK Badung yang kala itu dikerahkan untuk melakukan pembersihan. Mereka juga dibantu tim pengelola pantai dan para pedagang.

Sampah-sampah tersebut diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Pada saat itu, menurut penjelasan Dwipayana, puncak sampah kiriman diprediksi akan terjadi pada Bulan Desember 2021 dan Januari 2022.

Sementara Bendesa atau Kepala Desa Adat Kuta Wayan Wasista mengatakan, sampah kiriman datang karena sudah musim angin barat. Walaupun dibersihkan, sampah baru akan datang kembali.

"Angin barat kan biasa itu setiap tahun, kalau sudah angin barat sampah kiriman sudah mulai berdatangan. Namun, dari Desa Adat tidak tinggal diam tetap kita bersihkan," ujarnya.

Dia mengatakan, untuk pembersihan dibantu empat komponen, yaitu dari Desa Adat, relawan, pedagang, dan pihak DLHK Badung, Bali.

Sebelumnya pada awal tahun 2021 tepatnya bulan Januari, juga sempat terdapat penumpukan sampah di Pantai Kuta, Legian dan Seminyak di Kabupaten Badung, Bali. Volume sampah terdampar sejak tanggal 31 Desember 2020 hingga Januari 2021 mencapai 80 ton dan diangkut dengan 40 truk.

Menurutnya Dwipayana sampah tahun 2020 lalu mencapai 1.000 ton dan dua tahun sebelumnya lagi pernah mencapai 4.000 ton.

Reporter: Putri Oktafiana [cob]