Ketika semua kangen penonton

Junaydi Suswanto
·Bacaan 8 menit

Dalam dua jumpa pers terakhir dari dua pertandingan terakhir yang hasilnya berbeda, ada kata yang konstan terucap dari mulut manajer Manchester United Ole Gunnar Solksjaer, yakni "penonton".

"Aneh," kata dia, "menang melawan tim sefantastis Paris St Germain tetapi tidak ada yang merayakannya." Memang, tak ada penonton di dalam Stadion Parc des Princes ketika MU menang 2-1 atas tuan rumah saat itu.

Tiga hari kemudian pada 24 Oktober di Old Trafford usai menjamu Chelsea, lagi-lagi penonton yang diomongkan pelatih asal Norwegia ini.

Saat itu timnya cuma bisa bermain 0-0 melawan The Blues.

Baca juga: Manchester United dan Chelsea berbagi poin dalam skor kacamata

Ole tak menyalahkan pemain-pemainnya karena mereka sudah berusaha keras tetapi apa daya Edoard Mendy terlalu tangguh sehingga mungkin saja penjaga gawang ini bakal menyandang predikat kiper terbaik di Liga Inggris, bahkan mungkin dunia.

"Seandainya stadion ini dan Stretford End penuh kita bisa menciptakan tekanan dan urgensi lebih," kata Ole.

Stretford End adalah tribun di Old Trafford yang biasanya diduduki oleh pendukung-pendukung paling fanatik Setan Merah.

Bukan cuma Ole yang merasakan keanehan itu.

Banyak pelatih dan pemain Liga Inggris, serta kebanyakan atlet dari semua cabang olah raga yang bahkan termasuk golf dan catur yang butuh konsentrasi saja, merasa sebagian ruhnya hilang gara-gara tiada penonton.

Dan manakala sebagian ruh itu raib, hal-hal tidak lazim pun terjadi.

Real Madrid yang raja Eropa ditaklukkan oleh dua tim medioker, masing-masing Cadiz di La Liga dan Shakhtar Donetz di Liga Champions. Di Italia, Juventus yang bertabur bintang, ditahan seri 1-1 oleh tim anak bawang Crotone pada 18 Oktober.

Baca juga: Real Madrid dipermalukan tim promosi Cadiz
Baca juga: Tiga keputusan wasit bantu Crotone imbangi Juventus 1-1

Di Inggris lebih absurd lagi. Liverpool yang pada musim lalu jangankan dikalahkan, diajak bermain seri saja sulitnya minta ampun, malah ambruk 2-7 di tangan Aston Villa yang dulu nyaris terlempar ke divisi dua.

Baca juga: Aston Villa menggila, hajar Liverpool 7-2

Tidak hanya The Reds. Duo Manchester juga pernah menjadi bulan-bulanan lawan yang kelasnya di bawah mereka sampai-sampai Setan Merah harus mengandalkan penalti kontroversial yang diberikan saat pertandingan sudah berakhir untuk bisa mengalahkan Brighton.

Dugaan ketiadaan penonton sebagai penyebab ini semua terjadi pun kian kuat.

Lain dari itu tak ada penonton juga berarti tak ada pemasukan lebih. Ini yang dirasakan hampir semua tim olahraga di mana pun, termasuk Borussia Dortmund di Jerman yang mengandalkan pemasukan keuangan dari penonton yang datang ke stadion.

"Bertanding tanpa penonton itu bencana. Bermain di Dortmund, di stadion ini, tanpa satu penonton, sama sekali tak menyenangkan," kata Sebastian Kehl, ketua departemen pemain Dortmund.

Dalam sepak bola sendiri, suporter adalah pemain ke-12. Dukungan, teriakan, dan bahkan cemoohan mereka menjadi pemicu, pendorong dan oksigen tambahan yang memompa jantung pemain terus berdegup kencang saat berlaga.

Terlebih hal itu terjadi di zaman ini ketika atlet sudah menjadi bagian dari pertunjukan alias tontonan.

Selanjutnya atlet ...

Suasana sepi stadion San Siro, Milan, jelang pertandingan Seri A Liga Italia antara AC Milan vs Genoa, Minggu (8/3/2020). Sejumlah pertandingan Liga Italia pada pekan ini dimainkan tanpa penonton terkait merebaknya virus corona di Italia. ANTARA FOTO/REUTERS/Daniele Mascolo/pras.
Suasana sepi stadion San Siro, Milan, jelang pertandingan Seri A Liga Italia antara AC Milan vs Genoa, Minggu (8/3/2020). Sejumlah pertandingan Liga Italia pada pekan ini dimainkan tanpa penonton terkait merebaknya virus corona di Italia. ANTARA FOTO/REUTERS/Daniele Mascolo/pras.


Bagai stand-up comedy

Atlet tak saja ingin bertanding, bertarung dan berlomba demi menjadi yang terbaik. Mereka juga ingin menyenangkan mereka yang menontonnya, para penggemar yang tak henti bernyanyi dan bersorak menyemangati mereka.

Kini semua riuh rendah itu sirna diusir pandemi virus corona.

Untuk sebagian atlet keadaan seperti itu tak terlalu berpengaruh, tetapi tidak untuk sebagian lainnya. Kekalahan-kekalahan menggelikan sekaligus mengejutkan di liga-liga sepak bola elite Eropa adalah salah satu buktinya.

Baca juga: Pandemi dan wajah sepak bola kemudian

Para psikolog olahraga meyakini ketiadaan penonton di dalam stadion telah mempengaruhi fokus, upaya dan bahkan merusak strategi bermain atlet.

"Ini seperti stand-up comedy di depan kamera, bukan di depan penonton langsung," kata Dan Weigand, mantan editor Journal of Applied Sport Psychology.

Menurut para ahli psikologi, antara atlet dan penonton itu ada konsep yang disebut "fasilitasi sosial", yakni perasaan dalam diri manusia untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya pada saat mereka disaksikan orang lain, apalagi kerumunan seperti pertandingan sepak bola, rugby, kriket dan sejenisnya.

Para ahli psikologi meyakini fasilitasi sosial ini memicu terjadinya perubahan-perubahan psikologis pada diri manusia.

"Telapak tangan berkeringat, detak jantung naik, adrenalin terpacu. Para pemain pun mendapatkan suntikan energi dan itu jelas terjadi," kata Kay Porter, pelatih persiapan mental di Oregon, tentang efek kerumunan besar manusia di arena ketika atlet bertanding.

Kehadiran langsung dan sorak sorai langsung penonton bisa menciptakan hasil yang bermacam-macam.

Baca juga: Sebelum ada vaksin stadion Belanda tak boleh dimasuki penonton
Baca juga: Swedia tunda perbanyak penonton di stadion karena kasus infeksi naik

Bagi sejumlah atlet, sorak sorai penonton memacu adrenalin mereka, memicu keluarnya kekuatan, mendorong energi ekstra mereka tumpah, dan bahkan mempertajam fokus saat berlaga. Bahkan, ejekan pun bisa menjadi motivasi.

Tetapi hingar bingar penonton bisa kontraproduktif untuk cabang-cabang olahraga yang menuntut kecakapan dan keterampilan motorik.

Hingar bingar bisa meningkatkan produksi kortisol yang merupakan hormon utama pemicu stres. Dan ketika itu terjadi otot-otot jadi mengencang.

Namun ketika elemen hingar bingar ini dikurangi dan apa lagi tidak ada, penampilan atlet di lapangan pertandingan pun terpengaruh. Penampilan mereka bisa saja menjadi buruk dan tidak bersemangat, seolah tidak bermotivasi.

Baca juga: FA dan operator liga terus desak perizinan penonton ke stadion

"Ada hubungan yang kuat antara sistem motorik kita dengan sistem pendengaran kita," kata Laurie Heller, profesor ilmu kognitif pada Universitas Carnegie Mellon. "Bising yang dihasilkan kerumunan dapat memicu tekanan dan itu membuat kortisol kita sedikit lebih tinggi."

Untuk cabang-cabang olah raga tertentu seperti golf di mana konsentrasi di lapangan adalah segalanya sampai-sampai suara siulan pun bakal mengganggu permainan, ketidaan penonton malah dianggap bagus oleh sebagian pegolf.

Tetapi pegolf-pegolf seperti Jordan Spieth dan Zach Johnson justru beranggapan ketiadaan penonton menghilangkan sebagian aspek pendorong dan pelecut untuk mengerahkan yang terbaik dari mereka di lapangan.

"Ganjil," kata Johnson tentang menghilangnya kerumunan penonton di arena golf.

Selanjutnya mempengaruhi penampilan

Ilustrasi -- penggemar (Istimewa) (Istimewa/)
Ilustrasi -- penggemar (Istimewa) (Istimewa/)


Mempengaruhi penampilan

Tidak itu saja, ketiadaan penonton membuat atlet-atlet golf menjadi mendadak rajin melihat leaderboard atau papan klasemen, padahal dulu sebelum pandemi menjungkirbalikkan agenda-agenda olahraga nyaris tidak ada yang memperhatikan leaderboard.

Itu karena atlet golf tak lagi mendengar riuh rendah penonton di lapangan golf yang justru mengingatkan mereka tentang apa yang terjadi di lapangan dan apa yang dilakukan lawan-mereka, misalnya saat lawan mereka menciptakan birdie.

Lebih unik lagi, sejumlah pegolf kini menjadi berhati-hati saat berbicara dengan caddy yang sering menjadi pendamping mereka dalam berstrategi di lapangan.

Ketiadaan gemuruh dari penonton membuat kamera televisi fokus menangkap suara terkeras di lapangan, dan itu adalah obrolan pegolf dan caddy mereka.

Laurie Heller menyebut ketiadaan penonton yang membuat atlet hati-hati bersuara keras membahas strategi di lapangan karena bisa tertangkap kamera ini sebagai hilangnya "privasi audio."

Ketika Bundesliga pertama kali direstart, suara-suara lapangan seperti itu, terutama umpatan dan kalimat vulgar yang entah dari pemain atau dari pelatih, terdengar jelas ke seisi stadion. Dan semua itu tertangkap telinga penonton televisi di rumah.

Baca juga: Bayern harus awali Bundesliga tanpa penonton

Saluran televisi kemudian mengakalinya dengan mengimbuhkan rekaman suara penonton dari laga-laga yang sudah lewat pada pertandingan yang sedang disiarkan langsung.

Di NBA hal seperti ini juga terjadi. Para pemain NBA dan pelatihnya kini menjadi lebih setengah berbisik dalam membahas strategi di lapangan karena kalau sampai lantang bersuara bakal didengarkan oleh lawan dan juga tertangkap kamera televisi.

NBA juga menyiasati tribun-tribun yang kosong dengan menghadirkan penonton-penonton virtual di stadion ke dalam stadion, demi menampilkan efek ada manusia di tribun penonton.

Tetapi para pemain NBA, dan juga liga bisbol di AS, berasa aneh melihat itu semua karena mereka tetap melihat kursi-kursi penonton kosong melompong sekalipun ada hologram penonton di setiap kursi.

Baca juga: Microsoft dan NBA siapkan tempat virtual bagi penonton di arena basket

"Itu malah mengalihkan perhatian orang, padahal apa pun yang mengalihkan konsentrasi akan mempengaruhi penampilan kita," kata Heller seperti dikutip Los Angeles Times.

Kondisi itu juga membuat atlet malah mengalami apa yang disebut Heller "keterputusan audiovisual."

Manusia pada dasarnya merelasikan hubungan antara apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar. Dalam kerangka pikir ini, atlet akan berasa aneh manakala dia sudah tampil demikian bagusnya tetapi tidak orang yang mengapresiasinya dengan sorak sorai atau tepuk tangan membahana.

Tapi tak semua atlet mengeluhkan hilangnya motivasi saat bertanding akibat penonton tak hadir langsung di stadion. Karena ada juga yang mau menerimanya. Bagi mereka ini, yang mungkin punya anggapan 'alah bisa karena biasa' itu, semua yang baru bakal menjadi biasa, menjadi kebiasaan baru, alias normal baru.

Dan atlet-atlet yang cepat fokus beradaptasi dengan lingkungan baru inilah yang akan konsisten bermain baik.

"Jujur saja saya malah jadi menemukan semacam lingkungan yang menyenangkan," kata forward Portland Trail Blazers Carmelo Anthony.

Tetapi berapa banyak atlet seperti Anthony ini karena kebanyakan atlet dan manusia terpicu adrenalinnya manakala mereka tahu dirinya disaksikan banyak orang.

Baca juga: Presiden FIFA: kesehatan pemain lebih penting dibandingkan sepak bola
Baca juga: Ketika sepak bola kembali, artinya mimpi buruk berakhir