Ketika Senyum Pasien Sembuh dari COVID-19 Jadi Penyemangat

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bangsa Indonesia peringati Hari Pahlawan setiap 10 November. Hari Pahlawan sebagai momen mengingat dan mengenang jasa pahlawan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Pada saat itu, para pahlawan mengangkat senjatanya untuk memperjuangkan kemerdekaan. Pada masa kini, sosok pahlawan tidak harus mengangkat senjata. Sosok pahlawan masa kini memiliki arti lebih luas, tetapi memiliki nilai-nilai kepahlawanan yang intinya dapat bermanfaat untuk sesama.

Adapun nilai-nilai kepahlawanan yang dapat diteladani dengan rela berkorban, pantang menyerah, suka menolong, gotong royong dan lainnya. Nilai-nilai kepahlawanan itu juga yang harus dipupuk dari sejak dini.

Pada 2020, momen Hari Pahlawan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kali ini masyarakat dunia termasuk Indonesia menghadapi musuh yang tak terlihat yaitu virus corona baru (Sars-CoV-2) yang menyebabkan COVID-19. Semua pihak berjibaku untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Termasuk dokter yang juga sebagai garda terdepan untuk penanganan COVID-19 selama pandemi. Pada momen hari pahlawan ini, dokter juga termasuk pahlawan kemanusiaan yang juga membantu penanganan COVID-19.

Salah satu tenaga medis yang pernah menangani pasien COVID-19 yaitu dr Makhyan Jibril. Pria yang juga sebagai juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Jawa Timur (Jatim) ini selama tiga bulan terakhir merawat pasien COVID-19 bersama dengan dokter lain yaitu dokter paru, penyakit dalam dan anestesi.

Dokter Jibril mengakui ketika awal pandemi COVID-19 terjadi ada perasaan takut. Hal ini mengingat pengetahuan soal COVID-19 masih terbatas. Dokter Jibril menuturkan, saat itu belum tahu bagaimana cara pencegahan yang efektif dan cara mengobati COVID-19.

"Apalagi dulu pasien COVID-19 awal-awal di Surabaya yang masuk sudah dalam kondisi berat dengan ventilator. Sehingga kalau sampai ketularan saya mungkin tidak tahu harus berbuat apa,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Rabu (11/11/2020).

Di sisi lain, tugas yang diemban dokter Jibril merupakan panggilan kemanusiaan sebagai tenaga kesehatan dan profesionalisme.

"Kita tidak akan tega meninggalkan pasien. Ya akhirnya sambil jalan, sambil belajar, sambil menyiapkan alat perlindungan diri sebaik-baiknya,” kata dia.

Pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini mengaku belajar terus menerus dan diskusi dengan para ahli di Indonesia dan luar negeri. Jibril menuturkan, ilmu tentang COVID-19 dapat terus diperbaharui setiap hari.

Jibril mengatakan, ketakutan di awal pandemi karena belum mengenal musuh tak terlihat yaitu COVID-19. Setelah mengetahui bagaimana cara mencegah COVID-19, Jibril mengaku menjadi terbiasa.

"Lalu ketika saya sendiri juga telah membuktikan bahwa saya sendiri tidak pernah tertular karena patuh pakai masker meski beberapa kali satu ruangan dengan pasien positif COVID-19. Alhamdulilah lama-lama jadi lebih tenang dan terbiasa,” tutur dia.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Suka Duka

dr Makhyan Jibril (Foto: Dok Istimewa)
dr Makhyan Jibril (Foto: Dok Istimewa)

Dokter Jibril menceritakan suka dan duka selama pandemi ini. Jibril senang ketika melihat pasien COVID-19 tersenyum ketika hasil tes usap COVID-19 negatif. Hal itu setelah menanti berhari-hari.

“Keceriaan yang muncul pada wajah mereka seketika menghilangkan lelah para tenaga kesehatan yang merawat mereka,” kata dia.

Ia menambahkan, ketika bertemu para penyintas COVID-19 sangat bersyukur dan semangat membantu melawan COVID-19.

"Kami tiap minggu bersama para survivor COVID-19 keliling kota dan kabupaten di Jawa Timur untuk bagi-bagi masker, melakukan edukasi dan kampanye melawan stigma akibat COVID-19,” ujar dia.

Di sisi lain, pria lulusan S2 Healthcare Management di University College London juga sedih ketika bertemu pasien yang datang dalam kondisi terlambat karena takut untuk diperiksa dari awal, bahkan menyangkal.

“Kondisinya sudah berat dan sulit untuk tertolong, sementara peralatan dan teknologi kita juga masih terbatas. Kita hanya bisa mengupayakan sebaik mungkin dengan kondisi yang ada,” kata dia.

Selain itu, Jibril menuturkan, di masyarakat masih banyak para survivor COVID-19 yang masih dikucilkan di masyarakat. “Ada yang diusir dari kampungnya, ada juga yang dirumahkan dari tempat kerjanya,” ujar dia.

Jibril menyayangkan stigma yang masih terjadi terhadap pasien COVID-19 di masyarakat. Hal itu memberatkan pasien.

"Seakan-akan stigma akibat COVID-19 jauh lebih berat dari pada COVID-19 itu sendiri,” tutur dia.

Selama bertugas tangani pasien COVID-19, pria yang hobi menulis dan travelling ini melihat hal menarik saat awal pandemi. Ketika awal pandemi, COVID-19 hanya dianggap penyakit paru saja sehingga fokus perawatan pada paru-paru. Jibril menuturkan, COVID-19 tidak hanya menyerang paru, tetapi juga jantung, pembuluh darah dan organ lain.

"Banyak kasus-kasus pengumpalan darah pada pembuluh darah COVID-19. Akhirnya mengobatinya jadi makin kompleks,” kata dia.

Semangat Naik Turun

Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay

Ia menambahkan, belum lagi ketika pasien ada yang kelihatan sehat saja di awal, saat dicek ternyata mengalami happy hypoxia.

"Oksigennya sudah turun 80 persen, tapi dia tidak merasa. Akibatnya pasien bisa memburuk dengan cepat sewaktu-waktu,” kata dia.

Jibril menuturkan, saat menghadapi pandemi COVID-19 memang semangat naik turun. Akan tetapi, ia akan kembali semangat ketika menemukan ilmu baru yang akhirnya bermanfaat untuk dapat mempercepat kesembuhan pasien.

"Saya juga sering dikirimi foto, video maupun ucapan dari pasien-pasien yang sudah sembuh itu juga membuat makin semangat untuk merawat dan maupun bekerja di gugus tugas,” kata dia.

Akan tetapi, ia juga sedih ketika banyak kolega dan rekan sejawat dokter yang gugur di medan perang. “Apalagi Juli ketika puncak-puncaknya banyak dokter yang meninggal di Jawa Timur,” tutur dia.

Selama bertugas saat pandemi COVID-19, momen tidak terlupakan bagi dokter Jibril, salah satunya ketika Jawa Timur berhasil bebas dari zona merah.

"Dan mendapatkan pujian dari Presiden Joko Widodo sebagai salah satu provinsi percontohan dalam menangani COVID-19,” kata dia.

Jibril menuturkan, tren kasus COVID-19 di Jawa Timur pernah terus naik. Bahkan hingga melebihi Jakarta pada Juni-Juli 2020.

“Selama enam bulan Jawa Timur tidak pernah lepas dari zona merah, penyebaran sangat tidak terkendali. Padahal di tim gugus tugas COVID-19 Jawa Timur bersama dengan ibu gubernur kita sudah tiap hari pulang minimal jam 11 malam,rapat, dan kerja tiap hari sampai rasanya lelah banget, tapi hasilnya belum memuaskan,” ujar dia.

Dokter Jibril menuturkan, ketika Perda 2/2020 disahkan dan operasi yustisi dijalankan dengan masif untuk memastikan protokol kesehatan diterapkan dengan baik menjadi momen tak terlupakan.

"Tampak penyebaran kasus COVID-19 mulai menurun. Setelah kurang lebih ada dua juta masyarakat Jawa Timur yang telah ditindak akibat pelanggaran protokol kesehatan, alhamdulilah kasus menurun dan Jawa Timur mulai terbebas dari zona merah,” kata dia.

Ia menuturkan, hal ini semacam titik balik bagi dirinya dan tim yang akhirnya mengerti kalau ketegasan dalam penerapan protokol kesehatan salah satu solusi yang cukup efektif khususnya bagi masyarakat Jawa Timur. Hal ini terutama dalam menekan penyebaran COVID-19.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini