Ketimbang Blusukan, Risma Mending Perbaiki 3 Persoalan Ini

Hardani Triyoga
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Sosial Tri Rismaharini alias Risma sedang mencuat gegara aksi blusukannya yang menemui beberapa gelandangan di Jakarta. Aksi blusukan itu disorot karena dianggap pencitraan.

Terkait itu, pakar komunikasi politik Hendri Satrio menilai Risma perlu memperkenalkan dirinya kepada warga Jakarta. Sebab, ia dikenal hanya sebagai Wali Kota Surabaya.

Meski menurut Hendri, tak ada yang salah dengan cara blusukan yang dilakukan perempuan 59 tahun tersebut.

"Orang dia jadi Wali Kota surabaya. Ya itu harus dilakukan untuk memperkenalkan mungkin. Apalagi ditanya ke Bu Risma, ya kantorku di Jakarta, ya blusukan dulu di Jakarta. Jadi, enggak ada yang salah dengan itu," ujar Hendri dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam tvOne yang dikutip VIVA, Kamis, 7 Januari 2021.

Hendri menyarankan agar Risma mengubah gaya blusukannya dengan terobosan program. Ia menyampaikan demikian karena gaya blusukan sudah dilakukan tokoh seperti Jokowi, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan kepala daerah lainnya.

"Jadi, kalau mau lakukan hal yang berbeda, ya lakukan yang berbeda. Bu Risma momentum yang terbaik di Surabaya waku itu kan penutupan Dolly. Ya coba dilakukan di daerah-daerah lain. Menteri Sosial kan bisa gitu. Itu yang pertama," ujar Hendri.

Untuk yang kedua, ia menyinggung persoalan bantuan sosial atau bansos COVID-19. Menurut dia, Risma harus mengoptimalkan momentum bansos ini karena sudah disampaikan Presiden Jokowi.

"Ya udah teker bansosnya. Ada yang salah enggak (blusukan) yang dilakuan Bu Risma? Enggak ada. Mereka bosan aja, ya begitu lagi. Mestinya ganti lah," ujar Hendri.

Hendri menyebut Risma sebagai mensos punya beban mengembalikan marwah citra tiga lembaga yaitu Presiden, Kementerian Sosial, dan PDIP.

Bagi dia, kasus korupsi yang menjerat mensos sebelumnya, Juliari Peter Batubara, sudah merusak citra tiga lembaga tersebut. Juliari yang juga kader PDIP ditahan KPK karena tersangkut kasus korupsi bansos COVID-19.

"Bu Risma cuma ingat harus mengembalikan marwah citra tiga lembaga besar. Presiden, karena menterinya korupsi dari PDIP. Kemudian, kedua Kemensos yang menterinya dari PDIP. Yang ketiga, partainya Mas Aria Bima. Ini kan partai wong cilik masak ngambil dari wong cilik," ujar Hendri.

Dibela PDIP

Politikus PDIP Aria Bima membela Risma yang disorot karena aksi blusukannya menemui gelandangan di Jakarta. Aria tak sependapat dengan sejumlah pihak yang menganggap Risma melakukan pencitraan karena blusukan.

Dia menyinggung keberhasilan memimpin Surabaya selama dua periode sudah mengangkat kepopuleran seorang Risma. Menurutnya, sekelas Risma pun tak memerlukan pencitraan karena sudah populer.

"Pertanyaan balik ya, apa setingkat Bu Risma yang sukses dan cukup populer karena berhasil membangun kota Surabaya selama dua periode, terbukti sukses masih butuh namanya kepopuleran. Dan, untuk kesuksesan sebagai pencitraan. Ini yang saya pertanyakan, apa Bu Risma masih butuh itu?" kata Aria di acara Apa Kabar Indonesia Malam tvOne.

Dia mengatakan tak ada masalah dengan gaya blusukan. Sebab cara ini terbukti efektif bisa dekat kepada rakyat.

"Itu gaya kepemimpinan, blusuk kan artinya blusuk kepada rakyat. Bentuk gaya kepemimpinan transformatif," ujar Aria. (ase)

Baca Juga: Politikus Demokrat Minta Risma Fokus Urus BLT daripada Blusukan