Ketua DPD minta Rusia buka jalur dagang di daerah perang

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti meminta kepada Dewan Federasi Rusia untuk membuka seutuhnya jalur perdagangan di daerah perang, karena Indonesia perlu meningkatkan hubungan ekonomi dengan semua negara di kawasan Eurasia.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, DPD RI sangat menghargai sikap Presiden Rusia Vladimir Putin yang telah memberikan jaminan keamanan untuk transportasi pupuk, bahan pangan, dan energi untuk keluar dari kawasan itu. Menurutnya, hal itu tidak terlepas dari dukungan dan masukan Dewan Federasi dan Duma Negara Rusia.

"Karena adanya dukungan dari Dewan Federasi dan Duma Negara yang memungkinkan jalur perdagangan di daerah perang bisa dibuka kembali," ujar La Nyalla.

"Dalam konteks hubungan bilateral, pertemuan kedua kepala negara pada 30 Juni 2022 menegaskan sikap politik luar negeri Indonesia sesuai amanat konstitusi. Bahwa, betapa dahsyatnya bencana kemanusiaan yang akan muncul berkepanjangan di berbagai negara apabila perang itu dilanjutkan. Kami ikut terkena imbasnya secara ekonomi," kata La Nyalla, saat menerima kunjungan delegasi Dewan Federasi Rusia di Kantor DPD RI, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu.

Ia menambahkan, Indonesia sedang melakukan perundingan dengan Eurasian Economic Union untuk membentuk kawasan perdagangan bebas atau FTA.

Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Federasi Rusia Valentina Matvienko sependapat dengan La Nyalla bahwa perdagangan memiliki peran yang cukup penting, apalagi untuk kedua negara.

"Kita harus berupaya untuk mendorong interaksi bisnis, investasi, perdagangan dan ekonomi demi meningkatkan kerja sama bilateral. Ada banyak sektor yang belum digarap," kata Valentina.

Hanya saja, ada sanksi yang didapat Rusia. Hal tersebut yang mempersulit Rusia mendistribusikan berbagai hal yang dimiliki dalam konteks perdagangan.

"Misalnya saja pupuk dan gandum. Kami menjual gandum ke 137 negara di dunia. Tapi sekarang, sanksi itu menyulitkan kami. Begitu juga dengan pupuk, di mana sanksi menjadi penghalang kami di bidang logistik dan transportasi," ujar dia lagi.

Begitu pun dengan minyak dan gas, Valentina menyebut sanksi membuat Rusia kesulitan untuk menjualnya ke luar negeri. Pada kesempatan itu, Valentina pun menjabarkan awal mula perang dengan Ukraina dimulai yang berlangsung hingga kini. Namun, ia memaparkan bahwa Rusia siap membuka perundingan damai sepanjang hal itu dilakukan kedua belah pihak.

Valentina juga mengundang Ketua DPD RI mengunjungi Rusia untuk memperluas kerja sama kedua negara.

"Kami meminta dukungan agar kawasan di Rusia bisa kerja sama di berbagai bidang ekonomi, kebudayaan, kesehatan dan lainnya," kata dia lagi.

Pada akhir pertemuan, La Nyalla memberikan hadiah kepada Valentina Matvienko sebilah keris yang merupakan warisan leluhur Indonesia dan sudah diakui UNESCO.

La Nyalla juga memberi buku The Power of Iron, merupakan buku yang mengulas tentang keris dan foto-foto keris pusaka koleksi pribadinya.
Baca juga: KKP-Rusia perkuat kerja sama ekspor produk perikanan Indonesia
Baca juga: Pengamat UGM: Tawaran Putin momentum tepat realisasikan PLTN