Ketua DPD RI bangga sarung asal Gresik tembus pasar dunia

Budi Suyanto
·Bacaan 2 menit

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengaku bangga bahwa produk sarung tenun tradisional dari Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur mampu menembus pasar Asia, khususnya pada Ramadhan ini, sebab penjualannya telah mencapai Brunei Darussalam, Malaysia dan Arab Saudi.

"Kami bangga produk dari desa ini bisa diterima pasar luar negeri. Ramadhan memang membawa berkah. Momen ini harus dimanfaatkan dengan baik sebagai peluang untuk semakin memperluas pemasarannya,” kata LaNyalla dalam keteranganya di Gresik, Jumat.

Senator asal Jawa Timur itu menambahkan, selain Asia masih ada negara lain yang berpotensi menjadi pasar baru penjualan sarung tenun tanpa mesin itu. Negara-negara Islam di luar Asia perlu dijajaki karena peluangnya sangat terbuka.

Baca juga: Ketua DPD RI dorong BI permudah masyarakat mengakses perbankan

"Pangsa pasarnya masih sangat luas. Selain negara Asia, banyak negara berpenduduk muslim yang bisa menjadi sasaran ekspor. Misalnya negara-negara di Afrika dan Timur Tengah," katanya, menjelaskan.

Meski demikian Ketua Dewan Kehormatan Kadin Jawa Timur itu mengingatkan, di luar Ramadhan biasanya penjualan sarung tradisional akan menurun.

Untuk itu, LaNyalla meminta pemerintah daerah untuk membantu pemasarannya agar tetap eksis.

"Pemkab Gresik harus mempunyai strategi agar penjualan sarung tradisional di luar momen Ramadhan tetap stabil. Misalnya bermitra dengan komunitas pesantren yang jumlahnya besar, tidak hanya di Gresik tetapi di Jawa Timur. Hal ini perlu dilakukan agar usaha tradisional tersebut dapat berjalan dan bisa terus menghidupi para pekerjanya," katanya.

Baca juga: Ketua DPD apresiasi pemerintah tarik investor besar industri kaca

Bagi alumnus Universitas Brawijaya Malang itu, sarung tradisional merupakan kekayaan kearifan lokal yang perlu dilestarikan.

Sarung bukan semata sebagai produk fashion tetapi sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia. Bahkan, Presiden Joko Widodo telah menetapkan Hari Sarung Nasional pada 3 Maret.

"Sarung sudah menjadi identitas, apalagi di kalangan santri atau pesantren sudah seperti pakaian wajib. Fungsi sarung bukan lagi menjadi pakaian untuk beribadah, tapi sudah memiliki nilai kehidupan," katanya.

Seperti diketahui, memasuki bulan Ramadan hingga jelang Lebaran penjualan sarung tradisional yang dikerjakan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), di Cerme, Gresik, Jawa Timur penjualannya meningkat hingga 4 kali lipat.

Mereka telah melakukan ekspor ke Brunei, Malaysia dan Arab Saudi dengan harga ekspor sekitar Rp400 ribu.

Para perajin sarung juga membuat sarung eksklusif dari bahan utama sutera timbul yang dijual seharga Rp1,3 juta.

Yang lebih mahal lagi, mereka membuat sarung berbahan sutera motif songket yang pengerjaannya butuh waktu 2 minggu untuk menghasilkan 3 buah sarung sutera timbul.