Ketua DPD RI desak perang Rusia Ukraina dihentikan

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti meminta perang antara Rusia dan Ukraina segera dihentikan.

"Sudah terlalu banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak," kata LaNyalla saat telekonferensi dengan Wakil Ketua Duma Rusia Saraliev Shamsail Yunusovich, Sabtu malam.

Dalam keterangan persnya, LaNyalla meminta Rusia untuk melanjutkan perundingan damai, melakukan gencatan senjata, dan menguburkan permusuhan.

Menurut dia, permusuhan harus segera diakhiri antara dua negara yang bertetangga itu.

"Karena bagaimanapun Rusia dan Ukraina akan selamanya bertetangga. Jangan kita membiarkan diri untuk diadu domba. Karena Rusia dan Ukraina adalah sahabat Indonesia, sebagai sahabat, saya perlu berbicara demikian," kata LaNyalla.

Ketika perang Rusia dan Ukraina dimulai pada tanggal 24 Februari 2022, kata LaNyalla, arsitektur keamanan kawasan Eurasia sudah berubah drastis dan tak akan bisa sama seperti dahulu.

Perubahan drastis yang terjadi di Eropa ikut mengubah arsitektur keamanan kawasan Asia yang tentunya juga berpengaruh pada stabilitas di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, tempat Indonesia berada.

"Indonesia berkepentingan untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan kawasan ini serta menjaga keseimbangan eksternal yang dinamis, baik dengan Rusia maupun dengan negara-negara Eropa dan Amerika Utara yang bertikai dengan Rusia," ujarnya.

LaNyalla menyatakan siap untuk mengurai pandangan dan gagasannya tentang proyeksi ke depan dan strategi menghadapi perubahan global yang kian meluas apabila mendapat kesempatan untuk berbicara di hadapan Sidang Istimewa Duma Negara Rusia.

Baca juga: Kabar Ukraina: Dari serangan rudal ke Kiev hingga ancaman nuklir Rusia

Baca juga: Levrov: Lebih 1 juta orang sudah dievakuasi dari Ukraina ke Rusia

Sementara itu, Saraliev mengaku tidak hanya akan mengundang LaNyalla untuk menyampaikan gagasan di hadapan Sidang Istimewa Duma Negara Rusia, tetapi juga akan mengajaknya bertemu dengan Presiden Chechnya.

"Beliau (Presiden Chechnya) sangat mencintai umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia," ujar Saraliev.

Saraliev sependapat dengan LaNyalla dalam menciptakan keseimbangan dan perdamaian dunia.

"Rusia dan Ukraina merupakan rumpun dan suku bangsa yang sama, bukan hanya tetangga. Masyarakat Rusia dan Ukraina mayoritas beragama sama. Oleh karena itu, kami dianggap bersaudara. Sayang sekali, dalam 15 tahun terakhir ini ada pihak ketiga yang mengadu domba kedua bangsa bersaudara ini," kata Saraliev.

Ia mengatakan bahwa pihak ketiga inilah yang membuat kedua bangsa ini bermusuhan.

Bahkan, kata dia, provokasi pihak ketiga sampai pada melarang bahasa Rusia digunakan di negara tetangga, padahal penduduknya berbahasa Rusia.

"Operasi militer khusus yang ditempuh Rusia merupakan pilihan terakhir yang sebetulnya tidak kami inginkan. Akan tetapi, terpaksa kami lakukan karena pihak ketiga memaksakan nasionalisme sempit di negara sebelah sehingga kami terpaksa melakukannya," jelas Saraliev.

Yang terjadi sesungguhnya, menurut Saraliev, masyarakat Rusia tak memusuhi warga Ukraina.

"Yang terjadi adalah, karena hasutan pihak ketiga yang membuat bermusuhan sehingga kami terpojok dan harus mengambil tindakan. Ukraina adalah salah satu instrumen yang digunakan negara Barat untuk menekan Rusia," tutur dia.

Rusia, kata Saraliev, sesungguhnya memiliki pengalaman diadu domba pada masa silam, tepatnya 30 tahun lalu ketika Cechnya diadu domba melawan Soviet.

"Mereka tak menyembunyikan bahwa mereka tidak menyukai Rusia yang penuh sumber daya alam. Mereka melihat Rusia seperti bajak laut melihat targetnya. Seolah-olah Rusia adalah kapal yang harus dirampok. Kami mempertahankan integritas teritorial kami. Sementara itu, Barat berperang melawan Rusia menggunakan Ukraina," tutur Saraliev.

Sebelum operasi militer khusus dilancarkan, Saraliev mengaku jalan perundingan dengan Ukraina sudah ditempuh. Rusia telah meminta Uraina agar tak terhasut propaganda yang dilancarkan Barat untuk merusak keharmonisan kedua negara.

Namun, menurut dia, hal itu sia-sia sehingga Rusia tak memiliki pilihan lain selain melancarkan operasi militer khusus.

"Kami memperoleh informasi bahwa hal ini sengaja sebagai bagian dari agenda besar yang sudah dirancang sejak lama. Bukan kali ini saja mereka begitu. Irak, Libya, dan Afganistan merasakan hal sama. Amerika dan sekutunya berperang dengan negara lain menggunakan negara lain," tambah Saraliev.

Baca juga: Presiden Jokowi: Indonesia ingin menyatukan G20

Baca juga: Presiden Jokowi: Rusia akan hadiri KTT G20 di Bali

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel