Ketua DPR: Api Sumpah Pemuda Tidak Boleh Padam

·Bacaan 1 menit
Ketua DPR Puan Maharani berpidato pada Rapat Paripurna DPR RI Ke-16 Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (9/4/2021). Rapat juga membahas pembentukan kementerian baru. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Ketua DPR RI Puan Maharani meminta para generasi muda tidak berhenti bicara kebhinekaan dan persatuan, semangat yang pertama kali dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Ia mengajak para pemuda menjaga spirit bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu Indonesia, yang digelorakan para pemuda nusantara 93 tahun lalu.

"Spirit api Sumpah Pemuda tidak boleh padam, bahkan tidak boleh meredup sedikit pun. Untuk itu, generasi muda penerus masa depan bangsa, jangan pernah bosan untuk berbicara tentang kebinekaan dan persatuan," ujar Puan dalam momen peringatan 93 Tahun Sumpah Pemuda, Kamis (28/10/2021).

Puan menuturkan, ketika bangsa berhenti bicara kebhinekaan maka akan timbul tunas perpecahan.

"Sebaliknya saat kita terus merawat persatuan, maka Indonesia bisa akan terus maju," tambah Puan.

Ketua DPP PDIP ini menuturkan, keberagaman di Indonesia merupakan sumber kekuatan dan persatuan, bukan perpecahan.

"Kebinekaan di Indonesia kita lihat sebagai berkah, bukan sumber sumpah serapah," ucapnya.

DPR sebagai representasi keterwakilan rakyat akan jeli melihat tantangan dalam upaya merawat persatuan Indonesia. DPR menjadi penjaga semangat nasionalisme dan persatuan.

"DPR akan menjadi garda utama penjaga api semangat nasionalisme dan persatuan, dengan terus konsisten menyuarakan aspirasi-aspirasi rakyat dari Sabang sampai Merauke," ujar Puan.

Negara untuk Semua

Puan juga kembali mengingatkan akan cita-cita Presiden Sukarno bahwa sebuah negara didirikan untuk semua penduduknya, bukan buat segelintir orang.

"Sebab seperti kata Bung Karno, bahwa sejak awal kita ingin mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua. Kita mendirikan satu negara kebangsaan Indonesia," pungkas cucu sang Proklamator RI tersebut.

Reporter: Ahda Bayhaqi/Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel