Ketua DPR serap aspirasi petani bawang di Nganjuk

·Bacaan 3 menit

Ketua DPR RI Puan Maharani ikut menanam bawang merah bersama petani sambil menyerap aspirasi dan keluhan para petani di Nganjuk, Jawa Timur, mulai dari harga pupuk mahal hingga harga hasil panen yang menurun drastis.

Puan menyatakan siap membawa persoalan-persoalan tersebut untuk mencari solusi bersama dengan pemerintah dan memperhatikan betul persoalan rendahnya harga hasil tanam pada musim panen, yang masih saja terus terjadi.

"Soal pupuk subsidi nanti saya akan koordinasi dengan pemerintah pusat bagaimana caranya agar alokasinya di Nganjuk bisa ditambah," kata Puan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Ia menyatakan siap mengawal permasalahan petani di Nganjuk sekaligus berharap agar perjuangannya nanti melalui sisi pengawasan regulasi dapat membuat harga panen bawang merah ke depan menjadi lebih baik.

Puan mengatakan bahwa persoalan harga hasil panen yang jatuh membutuhkan solusi yang terintegrasi, mulai dari menanam bibit, panen, penyimpanan, distribusi, hingga penjualan.

"Saya juga dapat info di banyak daerah tidak terdapat tempat penyimpanan yang baik sehingga begitu panen, ya, harus langsung dipasarkan. Ini juga membutuhkan solusi," ujarnya.

Baca juga: Puan: Edukasi ke orang tua penting agar vaksinasi anak berjalan baik

Menurut dia, DPR RI akan berbicara dengan Pemerintah agar ada solusi yang tepat dan cepat untuk persoalan harga bawang merah, yang sama-sama baik untuk petani dan pembeli.

Untuk menjaga stabilitas harga bawang merah, kata dia, harus satu kesatuan dari hulu sampai hilir, atau tidak bisa terpisah-pisah.

Puan memandang perlu menjajaki kerja sama antardaerah untuk menjaga stabilitas harga, seperti menjaga inflasi dan Bulog juga perlu berperak aktif dalam menjaga ketersediaan stok.

Saat tanam bawang merah, Puan didampingi tiga orang petani perempuan bernama Damirah, Sriyani, dan Jiyem.

Adapun jenis bawang merah yang ditanam kelompok petani di daerah ini adalah bawang merah bibit yang harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan bawang merah sayur.

Usai menanam bawang merah, Puan berdialog dengan petani di gubuk yang berada di pematang sawah.

Para petani mengeluhkan kurangnya stok pupuk subsidi dan mahalnya harga pupuk nonsubsidi.

Seorang petani bernama Wakidi mengungkapkan persoalan pupuk saat waktu tanam menjadi langka dan kurang pengalokasian sehingga tidak mencukupi kebutuhan petani.

"Pengurangan pupuk subsidi membuat harga pupuk nonsubsidi naik tinggi, harganya mahal sekali Bu," kata Wakidi.

Harga hasil panen bawang merah yang rendah, lanjut dia, membuat petani kewalahan, bahkan harganya bisa anjlok sampai Rp7.000,00 per kilogram.

Baca juga: Ketua DPR minta Jembatan Gladak Perak segera diperbaiki

Seorang petani bernama Wiji bercerita banyak petani yang menggadaikan sertifikat tanahnya untuk modal pada musim tanam.

Selain itu, nasib petani sewa yang juga kesulitan karena harga panen rendah, sementara mereka hanya mendapat 1/4 dari hasil panen.

"Keadaan petani sangat memprihatinkan. Sertifikat (tanah) digadai semua sama petani di BRI. Petani tidak dikasih bantuan tidak apa-apa, yang penting harganya bisa stabil, Pemerintah harusnya ikut mengawasi," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Puan memberikan bantuan kepada kelompok petani di Mojorembug berupa 30 unit pompa air, 20 unit handsprayer, 10 hektare benih bawang merah, 1 ton pupuk NPK, 20 unit traktor roda dua, dan 10 unit cultivator.

Turut mendampingi Puan dalam kegiatan tersebut, antara lain anggota DPR RI Mindo Sianipar dan Plt. Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel