Ketua DPRD Trenggalek Siap Digantung Jika Korupsi

Trenggalek (ANTARA) - Saniman Akbar Abbas, Ketua DPRD Trenggalek, Jawa Timur, Jumat, mengumbar sumpah bahwa siap digantung jika memang dirinya terbukti melakukan korupsi uang hasil pemotongan gaji/perjalanan dinas anggota dewan setempat.

Pernyataan itu disampaikan Abbas menanggapi pemeriksaan selama enam jam lebih di kantor kejaksaan negeri setempat, Kamis (27/12) dengan status barunya sebagai tersangka.

"Sudahlah, kalau saya korupsi (saya) siap digantung," ucapnya dengan nada lantang.

Ia tidak bicara banyak mengenai materi penyidikan yang telah dijalaninya bersama Kasubbag TU DPRD Trenggalek, Sulistyowati, sehari sebelumnya.

Tokoh sentral DPC PDIP Kabupaten Trenggalek ini berulangkali hanya menegaskan bahwa kebijakan pemotongan gaji dan dana perjalanan dinas anggota dewan tersebut bukanlah kebijakan Akbar Abbas (dirinya), dalam kapasitas ketua DPRD.

Sebaliknya, lanjut dia, kebijakan pemotongan itu merupakan keputusan bersama dan telah disepakati seluruh anggota dewan.

"Saya tidak menikmati sama sekali uang hasil pemotongan itu, bahkan pegang saja tidak. Pemotongan itu dilakukan melalui kesekretariatan dan telah dipertanggungjawabkan ke DPRD," jelasnya.

Abbas justru mengaku dirinya merupakan satu-satunya anggota DPRD yang memberikan nominal pemotongan paling besar dibanding anggota dewan lain.

Dari total uang hasil pemotongan yang dipermasalahkan pihak kejaksaan sebesar Rp260 juta lebih, lanjut dia, Abbas mengaku menyumbang paling besar, yakni Sekitar Rp34 juta.

"Uang saya bahkan terpakai untuk menalangi dana taktis DPRD hingga Rp60 juta lebih, dan sampai sekarang belum dikembalikan," ungkap Abbas mengilustrasikan bagaimana dia lebih banyak berkorban untuk memenuhi kebutuhan operasional DPRD ketimbang menikmati uang hasil "pungli".

"Uang (hasil pemotongan) itu digunakan untuk anggota dewan yang sakit, anggota yang naik haji juga kita bantu, untuk kegiatan agustusan, peringatan hari jadi Kabupaten Trenggalek, dan aneka kegiatan sosial lainnya," imbuh dia menguraikan maksud dan tujuan pemotongan gaji dewan selama ini.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Kejaksaan Negeri Trenggalek, Adianto mempersilahkan klaim pembelaan diri yang disampaikan Akbar Abbas.

Ia menganggap setiap orang yang tengah berperkara berhak untuk membela diri, dan menyatakan tidak bersalah atas perkara yang disangkakan. Asumsi tersebut juga berlaku bagi Ketua DPRD Trenggalek, Akbar Abbas, meski kejaksaan mengklaim telah mengantongi bukti-bukti kuat atas pelanggaran pasal korupsi sebagaimana diatur dalam undang-undang tipikor.

"Biarkan saja, itu hak tersangka dan setiap orang untuk membela diri. Kejaksaan tetap akan memproses karena bukti petunjuk kami untuk menetapkan dia sebagai tersangka sudah cukup," tandas Kajari.

Ia menyampaikan, pemeriksaan maraton yang dilakukan tim penyidik terhadap tersangka Akbar Abbas maupun Sulistyowati untuk sementara dianggap cukup.

Pihaknya saat ini hanya ingin fokus pada pengembangan penyidikan dengan memeriksan saksi-saksi lain, terutama dari kalangan anggota dewan yang belum memberi kesaksian.

Ketua DPRD Trenggalek, Saniman Akbar Abbas resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pemotongan gaji dan uang saku kunjungan kerja anggota dewan sebesar tiga persen per orang.

Selain ketua DPRD, kejaksaan juga telah menetapkan Kasubbag Tata Usaha Sekretariat DPRD Trenggalek, Sulistyowati sebagai tersangka dalam kasus yang sama.

Dugaan korupsi tersebut terjadi sejak tahun 2010 hingga Agustus 2012.(tp)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.