Ketua IDI Ungkap Penyebab Pasien COVID-19 Meninggal Saat Isoman

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kasus pasien COVID-19 yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri di rumah belakangan menjadi sorotan. Bahkan dari data LaporCovid-19 per 20 Juli 2021 sebanyak 712 pasien COVID-19 meninggal saat menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah sejak Juni 2021.

Jumlah tertinggi kematian pasien isoman terjadi di Jawa Barat sebanyak 248 kasus atau 35 persen dari jumlah keseluruhan. Kota Bekasi menjadi lokasi dengan kasus terbanyak, dengan kematian 84 orang, disusul Kota Bogor dengan kematian 75 orang.

Lantas apa yang membuat angka pasien COVID-19 yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri di rumah begitu tinggi? Terkait hal ini, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Daeng M. Faqih menjelaskan lantaran keterisian rumah sakit yang penuh di tengah pandemi saat ini.

"Sekarang banyak yang meninggal isoman itu memang karena pertama banyak yang seharusnya sudah dirawat di rumah sakit dengan saturasi di bawah 94 bahkan saturasinya rendah sekali 80 atau bahkan 70 itu karena tidak ada kamar terpaksa di rawat di rumah," kata dia dalam virtual conference pada acara Dukungan Good Doctor untuk Program Vaksinasi Nasional dan Penanganan COVID-19 di Indonesia, Kamis 22 Juli 2021.

Lebih lanjut, Daeng menjelaskan bahwa pasien yang sudah mengalami kondisi tersebut harusnya sudah harus dirawat di rumah sakit, dan tidak boleh melanjutkan kegiatan isolasi mandiri di rumah.

"Ini memang agak berat sekali kita hadapi, sebenarnya dia bukan termasuk kriteria isoman. Tetapi dia terpaksa dirawat di rumah karena tidak ada tempat di rumah sakit. Ini yang menyebabkan banyak kasus yang meninggal karena dia harus mendapatkan fasilitas yang ada di rumah sakit, tindakan tertentu di rumah sakit tapi dia tidak mendapatkan," tutur Daeng.

Selain itu, dijelaskan Daeng pasien gejala ringan dan OTG yang menjalani isolasi mandiri yang meninggal di rumah itu terjadi karena pasien dan pendamping pasien dalam hal ini keluarga terdekat tidak mengerti kondisi atau tanda terjadinya perburukan pada pasien.

Gejala COVID-19

Kalau dikatakan ada yang sembuh ada, mungkin banyak. Tapi kasus yang meninggal juga cukup banyak. Kalau gejala OTG dan ringan ada kasus yang meninggal ada meski tidak banyak

"Karena dia terjadi perburukan yang isoman maupun pendamping isoman keluarganya mungkin di rumah tidak mengerti bahwa dia sudah lebih buruk dan seharusnya sudah ke rumah sakit tapi tetap dirawat di rumah. Ini yang dikhawatirkan terjadi perburukan sampai menimbulkan kematian," kata Daeng.

Daeng menjelaskan, penting bagi pasien isoman didampingi oleh tenaga medis atau dokter untuk meningkatkan angka kesembuhan perawatannya lebih baik.

"Masih banyak masyarakat awam yang tidak belum mengetahui, karena mengira penyakitnya belum parah. Banyak terjadi seperti itu karena masyarakat awam yang belum well educated, dengan tersambung didampingi melalui telemedicine maka yang melakukan isoman mereka akan dipantau oleh dokter sehingga tidak terjadi keterlambatan atau tidak ketidaktahuan yang bersangkutan sebenarnya sudah harus mencari perlindungan yang lain," tutur Daeng.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel