Ketua Kadin sebut kolaborasi dan inklusivitas kunci pemulihan ekonomi

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid menyebutkan kolaborasi dan inklusi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk komunitas bisnis, merupakan kunci pemulihan ekonomi domestik dan global.

Hal tersebut disampaikan Arsjad merespon keberhasilan dari penyelenggaraan B20 Summit beberapa waktu lalu yang menyatukan CEO kaliber dunia, pemimpin dari organisasi terkemuka dunia, dan para pengusaha, serta investor dari belahan dunia.

"Kita berada di sini untuk kolaborasi dan inklusi, yaitu tentang bahu membahu, bekerja sama, serta memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal dari tekad pemulihan global ini. Izinkan saya jujur, bahwa kolaborasi yang kami kenal adalah gotong royong dan inklusivitas adalah bhinneka tunggal ika," ujar Arsjad dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

Indonesia, lanjut Arsjad, telah belajar dan senantiasa terus bertumbuh untuk mencintai perbedaan. Sejarah bangsa Indonesia dipenuhi dengan kisah gotong royong yang heroik. Hal itu dapat terjadi karena Indonesia lahir dari kemajemukan, baik dari sisi suku, budaya, ras, dan agama, dari 270 juta penduduk yang berdiam pada lebih dari 16 ribu pulau.

Baca juga: Kadin sebut UMKM Indonesia bisa jadi rujukan dunia

"Kami membawa warisan yang telah tertanam turun temurun sejak Indonesia lahir dan membentuk bangsa ini bertumbuh dan menjadi lebih kuat bahkan pada saat pandemi sedang berlangsung sebagai warisan dunia saat ini," kata Arsjad.

Menurut Arsjad, saatnya dunia meresapi nilai-nilai gotong royong dan bhinneka tunggal ika tersebut dalam prinsip-prinsip yang disepakati bersama terkait pentingnya kolaborasi dan tindakan nyata yang inklusif dalam mendorong pemulihan ekonomi global.

"Indonesia bisa menjadi teladan bagi dunia internasional untuk menjaga persatuan dan perdamaian dunia di tengah banyak tantangan dan perbedaan yang menajam," ujar Arsjad.

Arsjad mengaku, tidak mudah memang menyatukan semua perbedaan, kepentingan, dan ambisi dari berbagai negara. Namun, pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif di tengah rentetan pertumbuhan negatif negara-negara lain telah memberikan bukti yang kuat dan tak terbantahkan.

Ia menilai hal itu mungkin terjadi karena soliditas Indonesia yang tumbuh dari kolaborasi dan inklusivitas saat menghadapi pandemi.

Baca juga: Kadin nilai PHK sektor padat karya karena geopolitik global

Pada saat yang sama, karena pandemi, ketimpangan antara satu negara dan negara yang lain menjadi lebih jelas. Standar penanganan yang berbeda-beda, kemampuan merespon yang tinggi dan rendah telah membawa sejumlah dampak yang tidak diinginkan bagi sejumlah negara.

Hal itu diperberat lagi dengan datangnya konflik geopolitik yang berkepanjangan, yang semakin memperlebar jurang antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang atau yang masih tertinggal. Sementara itu, sifat destruktif dari paradigma ekonomi masif yang meninggalkan lingkungan dan masyarakat masih terus terjadi.

"Ketika menerima tanggung jawab sebagai host of B20, serta merta pikiran saya langsung tertuju pada gotong royong dan bhinneka tunggal ika. Bagaimana kita akan menjembatani perbedaan-perbedaan yang datang dari berbagai belahan dunia? Nilai-nilai fundamental inilah yang menyemangati saya. Karena kita sudah membawa rasa persatuan dan aksi kolaboratif ini dari tahun-tahun sebelumnya ke tahun ini, dan sekarang kepada dunia di masa depan," kata Arsjad.