Ketua Komisi X DPR Ungkap Penyebab Biaya Kuliah di Indonesia Mahal

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menyoroti mahalnya biaya kuliah yang selama ini memberatkan. Salah satu penyebabnya karena skema Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang selama ini disubsidi pemerintah dengan anggaran terbatas.

"Kampus-kampus sekarang skema di Indonesia sekarang ini skemanya itu PTN-BH, artinya subsidi dari pemerintah sudah sepenuhnya," kata Huda saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (13/9).

Huda menyebut, karena subsidi yang terbatas, maka kampus mencari ladang usaha lain. Dari hal itu, biaya yang harus dibayar mahasiswa menjadi tidak murah.

"Akhirnya kampus kampus mau enggak mau harus mencari ladang unit usaha, ketika ada unit usaha yang terjadi akhirnya kampus menaikkan biaya yang itu dikenakan kepada mahasiswa dan ini enggak boleh terjadi kemahalan," ujarnya.

Huda mendorong pemerintah mengintervensi hal ini. Kemendikbud mengevaluasi skema PTN-BH untuk ditinjau ulang.

"Kedua, memastikan fokus anggaran untuk fungsi pendidikan termasuk di dalamnya dipakai untuk subsidi supaya biaya kemahalan kampus kuliah ini bisa diturunkan, apakah mungkin? Sangat mungkin, tinggal soal political will saja," kata Huda.

Kementerian Pendidikan dan Budaya mengubah sistem penerimaan bagi pelajar yang hendak masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Hal tersebut untuk menyelaraskan pencapaian pembelajaran tingkat dasar dan menengah dengan skema seleksi masuk PTN guna mendorong profit pembelajaran yang lebih holistik.

Menurut Nadiem, proses penerimaan mahasiswa yang sebelumnya memiliki gap antara minat siswa dengan program studi (Prodi) yang diinginkannya. Sehingga siswa cenderung memiliki ketidaksesuaian ketika memasuki dunia kerja.

"Untuk bisa melompat ke masa depan dan bukan hanya mengejar keterangan kita perlu pendidikan yang adil inklusif dan holistik," ungkap Menteri Nadiem yang dikutip dari laman YouTube Kemendikbud, Rabu (7/9).

Dalam pemaparannya, Nadiem menjelaskan terdapat tiga tahapan yang diubah dalam sistem penerimaan mahasiswa baru di PTN. Ketiga tahapan tersebut seleksi nasional dengan nilai rapot (SNMPTN), kedua seleksi melalui tes (SBMPTN), terakhir tes yang diselenggarakan oleh masing-masing PTN alias jalur Mandiri.

Kata Kemendikbud, pada seleksi SNMPTN para siswa tidak bisa memilih sesuai minat terhadap jurusan yang akan diambil di Perguruan Tinggi.

"Program studi dibatasi berdasarkan jurusan mereka di pendidikan menengah apakah IPA atau IPS itu yang akan menentukan pilihan program studinya pada saat di universitas," ungkapnya. [ray]