Ketua OJK: Pandemi COVID-19 Tingkatkan Ketahanan Pasar Modal RI

Fikri Halim, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan penutupan perdagangan pasar bursa saham pada tahun ini, Rabu, 30 Desember 2020. Sepanjang 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpengaruh isu pandemi COVID-19.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, mengatakan, wabah asal Wuhan, China tersebut telah membuat IHSG jatuh pada titik terendahnya pada tahun ini di pasar modal Indonesia.

Kata Wimboh, titik terendah itu tercatat pada 24 Maret 2020 yang berada di level 3.937. Oleh sebab itu, dia meminta supaya titik terendah itu diingat agar kejadian tersebut tidak lagi terulang dan bisa lebih diantisipasi.

"3.937 itu adalah titik terendah, kita ingat ini mudah-mudahan tidak pernah terulang lagi sehingga kita perlu catat di ingatan kita, itulah titik terendah pasar saham di Indonesia dalam masa-masa beberapa tahun terakhir," katanya dalam acara penutupan perdagangan saham di BEI.

Baca juga: Pendapatan VIVA 9 Bulan Pertama 2020 Capai Rp1,29 Triliun

Meski demikian, dia menegaskan bahwa pandemi tersebut juga memberikan kebaikan bagi pasar modal Indonesia. Menurutnya, COVID-19 telah membuat pasar modal Indonesia berdaya tahan tinggi.

Dengan adanya pandemi itu, IHSG dikatakan Wimboh sudah mampu menyentuh level 6.000 ke atas. Level itu mampu membangkitkan IHSG dari level terendahnya pada 24 Maret 2020 sebesar 53,7 persen.

"Kita patut bersyukur ujian pandemi telah meningkatkan ketahanan pasar modal kita, di mana pasar saham sudah meningkat beberapa waktu lalu sudah di atas 6.000 year to date. Terkoreksi 4,18 persen namun ini lebih baik dengan mengalami kenaikan 53,7 persen," ungkap dia.

Di sisi lain, dia melanjutkan, di tengah arus modal asing yang keluar di pasar modal sepanjang tahun ini, atau mencapai Rp47,89 triliun hingga 29 Desember 2020, investor ritel domestik ditekankannya terus meningkat.

"Arus dana keluar asing yaitu Rp47,89 triliun di pasar saham per 29 Desember kemarin dan Rp86,83 triliun di pasar SBN per 28 Desember lalu. IHSG masih mampu menunjukkan penguatan yang didorong oleh investor domestik termasuk investor ritel," ucap dia.

Seiring dengan meningkatnya partisipasi investor ritel domestik, rekor transaksi perdagangan baru berhasil dicapai pada 2020, yaitu frekuensi transaksi harian saham tertinggi pada 22 Desember 2020 sebanyak 1.697.537 transaksi.

"Di sisi demand tahun 2020 ini menjadi tahun kebangkitan investor domestik khususnya ritel yang semakin mendominasi transaksi di pasar saham," tegas Wimboh. (art)