Ketulusan Hati Ayah Menjaga Anak Perempuannya, Itulah Cinta Terindah

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

TERKAIT: Bagi Anak Perempuan, Ayah adalah Sosok Pahlawan Hebat Pertama di Hidupnya

TERKAIT: Di Balik Sosok Ayah yang Tampak Kuat, Ada Rasa Lelah yang Disimpan Sendiri

TERKAIT: Ayah, Sosok Paling Sabar yang Jadi Sumber Kekuatanku untuk Selalu Tegar

***

Oleh: Pramudita Kurnia

Papa dan aku suka mendengarkan musik. Penyanyi favorit kami sama, yaitu Celine Dion. Lagu Celine Dion favorit kita juga sama yaitu Because You Loved Me. Pernah suatu ketika aku menonton kuis wawasan umum di salah satu stasiun TV. Menurut host-nya, lagu ini dibuat penciptanya untuk sang Papa. Maka Papa kupersembahkan surat ini untukmu dan disertai terjemahan lagu favorit kita.

Semua Berkat Papa

Untuk semua waktu saat kau di sisi. Papa selalu menjagaku dan rela mengantarku kemana-mana. Bahkan saat aku kuliah. Aku tidak peduli omongan buruk teman-temanku atas perhatianmu ini, sampai sebesar sekarang aku masih gadis kecilmu yang selalu kau lindungi.

Untuk semua kenyataan yang kulihat karena dirimu. Papa, aku akui aku orang yang keras kepala. Aku paksakan diriku ikut kegiatan mahasiswa, tapi aku rapuh. Aku paksakan diriku wawancara kerja di luar kota namun gagal dan sulit kutempuh. Aku paksakan diri untuk jadi pemandu, namun ternyata bayanganku tak semudah itu. Kau yang memberi tahuku sebelum aku menjalaninya. Aku menyesal tak mendengarmu.

Untuk semua kebahagiaan yang kau bawa dalam hidupku. Papa apa pun yang kumau kau selalu penuhi. Sampai sebesar ini kau masih sanggup memenuhi permintaanku berkeliling naik sepeda motor tanpa mengeluh. Asal aku bahagia itu cukup bagimu.

Untuk semua kesalahanku yang telah kau luruskan. Aku payah dalam mengerjakan pekerjaan domestik rumah, tapi kau tak pernah mengadu pada Mama tentang kesalahanku. Kau perbaiki semua kesalahanku dengan sabar. Kau selalu menutupinya tanpa sedikit pun rasa marah.

Untuk semua mimpi yang kau wujudkan. Dulu aku benar-benar remaja kesepian, Pa. Waktu aku pertama kalinya nonton bioskop, tidak ada teman yang mau menemaniku. Papa yang bersedia menemaniku nonton bioskop untuk pertama kalinya. Dan ini mimpiku, aku tak kesepian karena kau selalu ada.

Terima Kasih untuk Semua Cintamu

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Perfect+Angle+Images
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Perfect+Angle+Images

Untuk semua cinta yang aku temukan pada dirimu. Papa hanya Papa, laki-laki yang mencintai aku. Tidak ada laki-laki lain. Tak perlu aku tangisi laki-laki lain yang tidak mencintaiku.

Selamanya aku akan berterima kasih untukmu, Papa. Mungkin aku takkan memberikanmu cucu. Tapi aku akan mengabdikan sisa hidupku untuk merawatmu dan Mama sebagai wujud terima kasih abadiku.

Kaulah yang mengangkatku. Aku takkan pernah lupa setiap PR yang kau coba bantu jelaskan padaku. Aku takkan lupa semua hadiah yang kau berikan saat aku sedih dan senang. Aku takkan pernah lupa semua waktu yang kau luangkan untukku.

Kau tak pernah membiarkanku terpuruk. Papa pelukmu saat aku mengaduh karena sakit lambung yang sangat perih. Pelukmu saat kucoba goreskan tanganku dengan kaca. Kau orang yang paling sakit melihatku seperti itu.

Kaulah yang melihatku melewati semua ini. Saat kecil aku dirundung. Saat kuliah aku mencoba belajar terlalu keras. Saat bekerja aku terjatuh gagal berkali-kali. Kau setia menyaksikan semua perjuanganku yang begitu pelik.

Kau Segalanya Bagiku

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Chaninnon
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Chaninnon

Kaulah kekuatanku saat aku lemah. Kau selalu menjadi penguatku di setiap asa. Penyemangatku saat aku mau menyerah karena cobaan menerpa. Pundakku saat kumenangis meratapi kegagalan.

Kaulah suaraku saat aku tak bisa bicara. Saat aku berdebat dengan Mama. Kau yang paling mengerti apa yang ingin kusampaikan dan mendamaikan kita berdua.

Kaulah mataku saat aku tak bisa melihat. Kau yang paling jeli dan paling tahu jika usahaku akan gagal. Kau yang paling tahu jika cita-citaku akan menemui banyak kesulitan. Kau bisa melihat apa yang tidak bisa kulihat, Papa.

Kau yang melihat apa yang terbaik dalam diriku. Ingatkah Papa? Pertama kali aku memandu grup besar, kau begitu sangat yakin aku dapat melakukannya. Namun aku ragu. Kau yang membesarkan hatiku dan melihat kelebihan terpendamku yang tak pernah kusadari.

Mengangkatku saat tak bisa kuraih. Papa kau yang terbaik. Siapa yang rela membantuku mencari buku tes Bahasa Jepang sampai aku lulus dengan nilai bagus? Siapa yang rela mengantarku ke sana sini sampai aku bisa pergi kesana kemari dengan mandiri? Itu kau Papa.

Kau memberiku keyakinan karena kau percaya itu. “Papa yakin Dita bisa lulus tepat waktu,” katamu saat aku mengerjakan tugas akhir. “Papa yakin pasti akan lancar acaranya,” katamu saat menemaniku memandu.

Aku benar-benar menjadi diriku sendiri. Kau tak pernah malu punya anak dengan Skizofrenia yang kikuk dan canggung. Kau bangga akan kekuranganku dan aku bangga menjadi diriku dan menjadi puterimu.

Karena kau menyayangiku, Papa. Mari kita rayakan hari ini dengan bernyanyi lagu favorit kita. Selamat hari Ayah, Papa. Because you loved me.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel