Ketum Pemuda Muhammadiyah: Seruan Jihad di Azan Bentuk Penistaan Agama

Agus Rahmat
·Bacaan 1 menit

VIVA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Sunanto, menilai pihak-pihak yang menyelipkan seruan jihad di kumandang azan 'hayya alal jihad' adalah ciri orang frustrasi.

Menurut dia, orang tersebut frustrasi lantaran tidak mampu menjalani hidup. Sampai seruan azan yang mengajak mendirikan salat, malah diselipkan untuk jihad.

"Agama yang harusnya menjadi fondasi kekuatan mental dalam menjalani hidup ini dengan penuh kebahagiaan, kemudian berubah sesuatu yang mengerikan di tangan orang frustasi," kata pria yang akrab disapa Cak Nanto itu dalam keterangannya yang diterima VIVA, Selasa 1 Desember 2020.

Baca juga: Jokowi Kantongi Nama Calon Kapolri Pengganti Jenderal Idham

Dia sepakat bahwa selipan 'hayaa alal jihad' di kumandang azan sama sekali tidak ada dasar hukumnya. Tidak ada dalil agama yang dapat dijadikan pembenaran.

Justru yang dia lihat, pihak-pihak yang menambahkan seruan jihad itu sebenarnya justru telah menista agamanya sendiri.

"Dapat dikatagorikan sebagai penistaan agama. Kondisi negara kita tidak dalam keadaan perang, maka tidak ada alasan ajakan jihad itu dikumandangkan," jelasnya.

Cak Nanto juga menilai, perlu bagi aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas. Perlu gerak cepat, untuk menindak pelaku tersebut.

"Kemenag dan Kominfo segera mengambil langkah-langkah agar video itu tidak lagi beredar secara luas," katanya.

Sebelumnya sebuah video orang mengumandangkan azan mendadak menjadi viral. Bagaimana tidak, lafadz azan ada yang diubah dengan seruan berjihad. Tak ayal seruan kalimat 'hayya alal jihad' langsung mendapat reaksi dari berbagai tokoh dan kalangan.

Video pendek yang beredar di youtube dengan judul 'Merinding Azan di Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin pimpinan Habib Bahar bin Smith' tersebut diposting pada Senin 30 November 2020 dan langsung banjir komentar. (ren)