Keuangan Inklusif Bisa Jadi Solusi Kemiskinan  

  • Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNnews.com
    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNNEWS.COM - Sekitar 75 persen dari penduduk Indonesia memenuhi kehidupannya dengan uang kurang dari 4 dollar AS per hari. …

  • Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Tempo
    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    TEMPO.CO, Surakarta - Pembangunan jalan tol yang menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, berdampak menyusutnya lahan pertanian. …

  • Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    Merdeka.com
    Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    MERDEKA.COM. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menilai, sejak Presiden SBY mengeluarkan Instruksi Presiden No.15 Tahun 2011 tentang Perlindungan Nelayan, armada perikanan nasional justru bertumpuk di perairan kepulauan. …

TEMPO.CO, Jakarta - Kemiskinan bukan sekadar perkara kepemilikan modal. Lebih jauh dari itu, yaitu ketiadaan akses masyarakat terhadap sistem keuangan yang membuat mereka menjadi kaum papa. "Melalui program Branchless Banking, Bank Indonesia memberikan fasilitas intermediasi dan distribusi untuk pelaksanaan program keuangan inklusif," kata peneliti eksekutif Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia, Agusman, saat diskusi di Hotel Bidakara pada Senin, 29 April 2013.

Agusman menuturkan bahwa sistem branchless (tanpa kantor cabang) ini memungkinkan sistem pembayaran dan keuangan terbatas akan dilakukan dengan sarana teknologi. Jadi masyarakat yang tak terbiasa dengan sistem keuangan formal tetap bisa menabung meski tidak di bank. "Apalagi sekarang kebanyakan masyarakat memiliki handphone, ini memudahkan," ucapnya.

Ketua Koperasi Mitra Dhuafa, Slamet Riyadi, juga sepakat dengan konsep keuangan inklusif untuk memberdayakan masyarakat miskin. Namun, ia tidak setuju dengan skema yang dipaparkan Agusman. "Hanya sedikit masyarakat miskin, khususnya kaum ibu, yang bisa memanfaatkan teknologi," ucap Slamet.

Ia pun memilih untuk melakukan tatap muka dan diskusi agar masyarakat sadar akan proteksi terhadap dirinya sendiri. "Transaksi di koperasi kami juga tidak memakai agunan."

Dalam survei neraca rumah tangga Bank Indonesia (2011), hanya sekitar 48 persen rumah tangga yang memiliki tabungan di bank, lembaga keuangan non-bank, dan non-lembaga keuangan. Sisanya adalah warga yang seharusnya bisa diakomodasi kepentingan finansialnya melalui keuangan inklusif. Keuangan inklusif ini penting bagi kaum papa agar akses akan manajemen risiko (pensiun dan asuransi) menjadi tinggi.

MUHAMMAD MUHYIDDIN

Topik terhangat:

Gaya Sosialita | Susno Duadji | Ustad Jefry | Caleg | Ujian Nasional

Baca juga:

Susno Buron, Kejaksaan Tak Perlu Uber

Inilah Dinasti Politik Partai Demokrat

Gara-gara 'Nasi Kucing', Anas Batal ke KPK

Ical: Kasus Lapindo Efeknya Lebih Kecil dari ISL

Orang Miskin Dilarang 'Nyaleg'

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...