Khatib: Maknai hadits Ramadhan secara majasi bukan tekstual

Khatib Shalat Idul Fitri 1443 H, Haji Irwan Musa mengatakan hadits ketika memasuki Ramadhan maka setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup hendaknya dimaknai secara majasi, bukan tekstual.

"Setan dibelenggu di bulan Ramadhan bukan berarti setan tidak akan mengganggu dan menggoda manusia untuk melakukan perbuatan dosa," kata Khatib Irwan pada Shalat Id di Lapangan Tikala Manado, Senin.

Buktinya, menurut dia, saat puasa masih banyak yang tidak shalat dan batal puasa lantaran tidak kuat menahan lapar dan haus dan akhirnya pergi mencari makanan dan minuman.

"Secara majasi setan dibelenggu berarti umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa diberikan kemampuan lebih untuk tidak menuruti bisikan-bisikan setan," katanya.

Baca juga: Khatib Shalat Idul Fitri ajak umat perbanyak bekal di dunia

Baca juga: Khatib Shalat Id: Orang bertakwa sangat mudah memaafkan kesalahan

Berikutnya, makna kata pintu surga dibukakan dan pintu neraka ditutup, "Kita harus pahami bahwa maksud pintu surga dibuka karena di bulan puasa segala amal saleh akan dilipatgandakan pahalanya sehingga kesempatan untuk masuk surga menjadi besar," ujarnya.

Selanjutnya, makna pintu neraka ditutup berarti di bulan puasa kesempatan melakukan perbuatan dosa lebih kecil jika dibandingkan dengan bulan-bulan biasa.

Ibadah Shalat Id yang dilaksanakan di Lapangan Tikala Manado juga dihadiri Wali Kota Manado Andrei Angouw, Wakil Wali Kota Manado, Richard Sualang, Asisten II Setdaprov Sulut Praseno Hadi, jajaran pimpinan Kemenag Sulut dan Kota Manado, PHBI dan jamaah.*

Baca juga: Khatib: Pintu surga terkunci perlu diketuk

Baca juga: Gubernur Kalteng Shalat Id bersama warga di halaman rumah jabatan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel