Khawatir Digulingkan, Kim Jong-un Larang Warga Korut Pakai Jeans dan Gaya Rambut Mullet

·Bacaan 1 menit

Fimela.com, Jakarta Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dilaporkan melarang warganya menggunakan skinny jeans dan gaya rambut mullet. Hal ini dilakukan Kim Jong-un dalam upaya mengendalikan anak muda.

Melansir dari laman Mirror, Kim Jong-un disebutkan takut para pemuda akan terpengaruh budaya barat sehingga dapat menyebabkan runtuhnya rezim.

Jeans robek dan skinny jeans, serta potongan rambut mullet, semuanya dipandang sebagai tanda "invasi gaya hidup kapitalistik". Kim Jong-un yang semakin khawatir akan digulingkan, telah memutuskan hukuman ke kamp kerja paksa bagi yang kedapatan bergaya fashion tersebut.

Surat kabar negara The Rodong Sinmun, meluncurkan seruan baru agar barang-barang semacam itu dijauhkan karena takut membuat negara "runtuh seperti tembok lembap".

"Sejarah mengajarkan kita pelajaran penting bahwa sebuah negara bisa menjadi rentan dan akhirnya runtuh seperti tembok lembap terlepas dari kekuatan ekonomi dan pertahanannya jika kita tidak berpegang pada gaya hidup kita sendiri," demikian bunyi dalam surat kabar Korea Utara itu.

"Kita harus waspada bahkan pada tanda sekecil apapun dari gaya hidup kapitalistik dan berjuang untuk menyingkirkannya." lanjutnya.

Larangan lainnya

Kim Jong-un melarang anak muda di negaranya menggunakan skinny jeans dan gaya rambut mullet  (Foto: Unsplash/Tamara Bellis)
Kim Jong-un melarang anak muda di negaranya menggunakan skinny jeans dan gaya rambut mullet (Foto: Unsplash/Tamara Bellis)

Menurut Kantor Berita Yonhap, Kim Jong-un telah memberlakukan hukuman yang lebih keras bagi mereka yang ditemukan memiliki video yang dibuat di Korea Selatan. Rambut yang diwarnai, kaus oblong, dan tindikan juga dilarang, klaim laporan itu.

Dilansir Express, di bawah undang-undang negara tersebut, pria dan perempuan hanya boleh memiliki satu dari 15 potongan rambut alternatif. Dokumen tersebut mengatakan mullet dan gaya rambut tidak sah lainnya dianggap sebagai "perilaku anti-sosialis".

Pejabat Pyongyang di Korea Utara juga menindak musik pop yang menyusul kesuksesan band K-pop Korea Selatan seperti BTS dan BLACKPINK. Salah satu situs propaganda rezim telah membandingkan musik pop dengan "perbudakan" dan menyebut orang terikat dengan "kontrak yang sangat tidak adil".

#Elevate Women