Khofifah: Kearifan Lokal Tidak Lagi Dianggap Penting

Semarang (ANTARA) - Ketua Umum Pimpinan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menilai kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini tidak lagi dianggap penting untuk membangun karakter diri.

"Sekarang, berapa banyak budaya, tarian, dan bahasa yang sudah hilang," katanya, usai pelantikan pengurus Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, di Semarang, Jumat.

FKPT Jateng merupakan forum bentukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerja sama dengan Pimpinan Pusat Muslimat NU, dan menjadi yang keempat, setelah FKPT Riau, Lampung, dan Sumatera Selatan.

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu mencontohkan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Ambon, Maluku, berupa "bapa raja" (kepala adat desa) dan "mama raja", atau istri kepala adat desa.

"Dulu, ketika di Ambon itu masih `existing` konsep desa, di situ ada `bapa raja` dan `mama raja`. Mereka ini kepala desa, sekaligus kepala adat. Kalau ada persoalan, peran satu orang ini mampu untuk menyelesaikannya," katanya.

Namun, kata Ketua Umum Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah, Surabaya, itu, "bapa raja" sekarang ini diganti dengan lurah sehingga kearifan lokal yang dimiliki masyarakat menjadi pudar.

Dengan berganti menjadi lurah, kata dia, kekuatan-kekuatan adat, pemberi kearifan, dan peredam konflik seperti yang dimiliki "bapa raja" ikut pudar karena kepala adat dan lurah itu institusi yang berbeda.

Demikian pula yang terjadi dengan kearifan-kearifan lokal di daerah lain, kata dia, sehingga harus dijadikan pelajaran agar jangan sampai kearifan lokal yang dimiliki menjadi redup, dan akhirnya hilang.

Selain itu, ia juga menyoroti kehidupan masyarakat sekarang yang dihadapkan pada kian berkembangnya teknologi informasi yang menjadikan dunia maya menjadi ruang interaksi menggantikan interaksi "face to face".

"Orang seakan memiliki waktu yang luar biasa untuk berinteraksi di dunia maya, seperti mengomentari foto temannya, status temannya. Dunia maya memang penting untuk membangun `human relationship`," katanya.

Ia mengakui bahwa terkadang ada kepekaan sosial yang terbangun lewat "chating". Tetapi di sisi lain, kepekaan sosial yang seharusnya terbangun melalui interaksi langsung antarmanusia kemudian menjadi longgar.

"Hubungan manusia secara `face to face` akhirnya tergantikan oleh sesuatu yang sifatnya maya. Dunia maya memang penting, tetapi jangan pernah menganggap hubungan `face to face` sebagai sesuatu yang tidak penting," kata Khofifah.(ar)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.