Khofifah siapkan enam kandidat calon pasangan di Pilgub Jatim

MERDEKA.COM. Untuk menandingi kekuatan pasangan incumbent Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2013, Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa wajib menyiapkan pasangan yang cukup mumpuni untuk mendongkrak perolehan suara signifikan. Ada enam nama yang disiapkan Bunda Muslimat NU ini, yang kelak salah satunya dipilih untuk mendampinginya di Pilgub Jawa Timur.

Sebab, pada Pilgub Jawa Timur yang digelar 29 Agustus mendatang, Khofifah minim dukungan. Hanya pemilik 13 persen suara atau setara 13 kursi di DPRD Jawa Timur, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) saja yang telah memberikan rekomendasi. Sementara partai politik (Parpol) yang menguasai kursi DPRD Jawa Timur, lebih memihak KarSa. Untuk itu, Khofifah harus bersanding dengan calon wakil gubernur yang memiliki elektabilitas cukup, agar mampu bersaing dengan sang kompetitor.

Seperti diketahui, pemilik 22 persen suara di DPRD Jawa Timur, Partai Demokrat, jelas akan memberi restunya kepada Soekarwo, yang notabene-nya sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur.

Sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang memiliki 17 kursi, juga jelas ingin mengusung calon dari internal partai, meski pada 27 Januari lalu, Khofifah sudah mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon yang diambilnya pada 23 Januri lalu di DPP PDIP.

Jika PDIP setuju untuk mengusung Bunda Muslimat NU itu, maka Khofifah akan dipasangkan dengan Bambang Dwi Hartano dan jadilah koalisi Ka'bah (Khofifah 'N' Bambang DH). Namun, modal 17 kursi memberi gengsi tersendiri bagi PDIP untuk menjadikan kadernya (hanya) sebagai orang nomor dua di Jawa Timur.

Pun begitu dengan Gerindra (8 kursi), PKS (7 kursi), PAN (7 kursi), PKNU (5 kursi), Hanura (4 kursi), PPP (4 kursi), yang dengan terang-terangan menyatakan dukungannya untuk KarSa meski rekomendasi pusat belum turun.

Sementara Partai Golkar, masih tarik ulur. Sebab, DPP hanya merekomendasi Soekarwo tanpa Gus Ipul (Saifulla Yusuf), sedangkan DPW kubu Martono (Ketua DPW Partai Golkar Jawa Timur) mendukung duet KarSa. Inilah yang menyebabkan Aburizal Bakrie selaku Ketua Umum DPP Partai Golkar enggan menurunkan rekomendasinya untuk KarSa seperti keinginan Martono.

"Jika Partai Golkar tidak mau memberi dukungannya untuk KarSa, kita tetap akan maju meski tanpa Golkar," kata Gus Ipul, ketika mengumumkan dirinya akan kembali bersama Soekarwo beberapa hari lalu.

Lalu bagaimana dengan Khofifah dan PKB-nya? Sebab, jika PKB, yang hanya memiliki 13 kursi itu, tidak juga menemukan Parpol yang bisa diajak untuk berkoalisi, maka buyarlah mimpi Khofifah untuk bisa merebut kembali kemenangannya yang hilang pada Pilgub Jawa Timur 2008 silam.

Kesempatan masih terbuka lebar, PKB masih memungkinkan melamar PBR dengan 1 kursinya dan PDS yang juga memilik 1 kursi. Bahkan, masih mungkin, jika Golkar yang telah menyiapkan enam orang calon wakil gubernur, memutuskan untuk mendukung Khofifah.

Sebab, pada poin nomer empat hasil sidang Rakorda Partai Golkar Jawa Timur menyebutkan, Golkar hanya akan mendukung dan mengusung Soekarwo sebagai Cagub Jawa Timur periode 2014-2019. Dengan catatan, Soekarwo bersungguh-sungguh memperhatikan partai berlambang pohon beringin itu sebagai partai pengusung pada Pilgub Jatim 2013.

Kemudian, seperti yang dikatakan Dewan Penasehat DPP Partai Golkar, Akbar Tanjung beberapa hari lalu, kalau pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada Soekarwo untuk memilih dan menentukan satu di antara tujuh nama Cawagub yang disiapkan Golkar, yaitu Martono, Ridwan Hisjam, Gatot Sudjito, Rendra Kresna, Sambari Halim Radianto, Sabron Pasaribu dan Heri Sugiyono.

"Dari hasil Rakorda sudah jelas tidak menyebut nama Gus Ipul. Tapi, kenapa kok diplintir seolah-olah Golkar mendukung KarSa jilid II. Yang didukung itu Soekarwo, bukan Karsa," tegas mantan ketua DPR RI tersebut.

Maka, jika hanya berharap merekomendasi orang nomor dua saja, Golkar bisa berkoalisi dengan PKB untuk mendukung Khofifah daripada mendukung KarSa yang ngotot ingin tetap berpasangan dengan Gus Ipul.

Sementara itu, saat berada di Surabaya, Selasa (12/2) sore untuk mengikuti "Rapat Pembahasan Issue-Issue Strategis Untuk Badan/Lembaga Teknis BKPK Dekopin" di Hotel Utami Surabaya, Khofifah mengatakan, kalau timnya sudah melakukan survey terhadap calon pasangan yang akan maju bersama di Pilgub Jawa Timur dengan dirinya. "Sudah ada beberapa nama kandidat bakal calon wakil gubernur yang akan mendampingi saya di Pilgub mendatang," katanya.

Khofifah juga menceritakan, pada awalnya hanya ada lima nama yang masuk bursa Bacawagub. Lima nama yang masuk itu juga bukan sembarang nama, mereka semua sudah melalui tahapan survei dan semua cukup bagus. Bahkan kelima nama itu juga sudah dibahas oleh tim senior.

"Ya saya serahkan sepenuhnya pada hasil musyawarah pada senior yang sukarela membantu saya," ungkap Khofifah tanpa menyebut nama lima calon pasangan yang akan dipilihnya.

Tanggal 7 Februari lalu, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) itu, juga sudah menerima hasil survei yang dilakukan pada lima bakal calon wakil gubernur yang akan mendampinginya.

"Kemudian saya ditanya, apakah ada nama tambahan? Dan di tengah jalan ternyata ada usul untuk exercise satu nama, sehingga menjadi enam orang, dan saya serahkan pada para senior ini untuk menilai," tambahnya.

Siapapun nama yang direkomendasikan sebagai calon wakilnya, Khofifah memastikan tidak akan menjadi masalah, sebab dia mudah menyesuaikan diri dengan siapapun.

Sayangnya, Khofifah tetap tidak menyebutkan siapa enam orang yang masuk kandidat calon wakilnya itu. Dia hanya mengatakan ada beberapa nama memang dari kalangan partai, namun beberapa nama lainnya dari non parpol. "Tidaklah, belum saatnya disebutkan, kan tidak etis dan biar menjadi penasaran orang. Tapi pada waktunya nanti pasti akan tahu semua," kelakarnya menutup pembicaraan.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.