Kiai NU Kritik Keras PBNU yang Dianggap Membela Mardani H Maming

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus dugaan korupsi yang membelit Bendahara Umum (Bendum) PBNU Mardani H Maming dianggap ikut mencemarkan organisasi Islam terbesar di RI. Sebab, hingga kini tersangka KPK dalam dugaan suap dan gratifikasi IUP Tanah Bumbu itu tak mendapat sanksi dari organisasi.

Kritik keras ini dilontarkan oleh Wakil Ketua PWNU Jatim KH Abdus Salam Shohib. Ia menyatakan, PBNU hingga kini dianggap lebih membela Bendum Mardani H Maming yang telah menjadi tersangka KPK. Padahal, perkara yang membelit Mardani ini dianggap cukup berat.

"Saya heran dengan PBNU ketika Bendum (Mardani H Maming) jelas-jelas bermasalah hukum yang bikin malu organisasi serta meruntuhkan marwah jamiyyah, sama sekali tidak ada upaya untuk menertibkannya, apakah hanya dengan sekadar menonaktifkan sampai masalahnya selesai?" katanya, Jumat (22/7).

Gus Salam menambahkan, dirinya membandingkan sikap Ketum PBNU Gus Yahya terhadap Katib PCNU Jombang demisioner Ahmad Syamsul Rizal. Perkara Jombang itu dianggap cukup cepat disikapi PBNU, meski terkesan subyektif.

"Sementara dengan (kasus) PCNU Jombang Ketum PBNU merespon dengan tuduhan yang tendensius, subyektif tanpa bukti dan penuh asumsi, serta hanya berdasarkan info sepihak dari anak buahnya," tegas Gus Salam.

Seperti diketahui, saat ini Bendum PBNU Mardani H Maming menjadi tersangka KPK dan sedang proses mengajukan praperadilan melawan KPK di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

PBNU memberikan pembelaan terhadap Bendum Mardani untuk melawan KPK dengan menunjuk dua kuasa hukum kondang yang selama ini justru dikenal sebagai pegiat anti korupsi, yakni Bambang Widjojanto (eks pimpinan KPK) dan Denny Indrayana (eks Wamenkumham dan Staf Khusus Presiden SBY untuk bidang Hukum, HAM dan Pemberantasan KKN - Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel