Kiai Wahid Zaini, Cakrawala Pemikiran dan Kiprahnya di NU

Syahdan Nurdin, kisahteldan
·Bacaan 7 menit

VIVAKiai Wahid Zaini adalah sosok ulama karismatik, kaya akan khazah keilmuan. Perjuangannya malang melintang di organisasi NU. Pemikiran dan sepakterjangnya turut mendorong laju organisasi yang dinahkodainya.

KH Abdul Wahid Zaini merupakan putera kedua KH Zaini Mun'im, pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Ia lahir pada hari Jumat tanggal 17 Juli 1942 di Desa Galis, Pamekasan Madura.

Enam saudara Kiai Wahid, sebutan KH Wahid Zaini yaitu; KH Moh. Hasym Zaini (alm), Nyai Hj. Aisyah (kemudian di persunting oleh KH Hasan Abdul Wafi), KH Fadlurrahman Zaini, KH Fadlurrahman Zaini, KH Moh. Zuhri Zaini, KH Abdul Haq Zaini (alm), KH Nur Chotim Zaini (alm).

Kiai Wahid Kecil mendapat pendidikan untuk pertama kalinya langsung dari ayahandanya tercinta. Sebagai putra, ia patuh dan tawadu' terhadap kedua orangtuanya.

Sementara sebagai santri dan murid, selain memiliki kecerdasan dan tingkat intelegensia yang tinggi, beliau juga tekun dalam belajar. Sehingga di usianya yang masih remaja beliau telah cukup kuat pemahamannya terhadap ilmu agama.

Menginjak usia dewasa, ia kemudian mondok ke Pesantren Paterongan Jombang, yang saat itu diasuh oleh KH Musta'in Romli. Beliau juga meneruskan jenjang pendidikannya di sekolah Pendidikan Mu'allimin Atas (saat ini menjadi MTs dan MA).

Di Pesantren ini beliau bukan hanya memperdalam ilmu agama tapi juga menekuni ilmu pengetahuan umum dan memulai karier pertama kalinya sebagai aktivis organisasi di Ikatan Pelajar Nadlatul Ulama (IPNU).

Waktu itu, ia menjabat ketua Dapartemen Pendidikan dan Kader IPNU Cabang Jombang. Setamat pendidikan Mu'alimin Darul Ulum pada tahun 1962, Wahid Muda melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya.

Di IAIN, dia masuk di Fakultas Syari'ah dan memilih Jurusan Akhwal As-Shaksyiah. Dan dalam waktu yang bersamaan itu pula, ia kuliah di Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang pada Jurusan Hukum. Sejak menempuh pendidikan formal di Perguruan Tinggi (PT), karier aktivis Kiai Wahid Muda semakin meluas.

Selain tercatat aktif di IPNU, bersama sahabat-sahabatnya di kampus beliau ikut merintis berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di sini jiwa aktivis ia semakin tumbuh. Selain dipilih sebagai ketua Departemen Mahasiswa dan Perguruan Tinggi IPNU Jatim, ia juga dipercaya sebagai ketua Komisariat PMII IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Pada tahun 1963 ia ikut merintis berdirinya PMII Cabang Surabaya. Kemudian antara tahun 1964-1966 ia ikut merintis berdirinya PW-PMII Jatim. Mengabdi di NU dari Jenjang ke Jenjang setelah ia lulus di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, tepatnya pada tahun 1968, Kiai Wahid pulang ke kampung halamannya di desa Karangayar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Setibanya di Paiton, selain membantu ayahandanya mengurusi Pesantren Nurul Jadid, beliau mulai terdorong untuk ikut aktif di organisasi Nahdlatu Ulama (NU). Dorongan itu muncul, setelah ayahandanya, KH Zaini Mun'im, yang saat itu sebagai Rois Syuriyah PCNU Kraksaan, dan kakak iparnya, KH Hasan Abdul Wafi sebagai wakil Rois, mengajaknya untuk merintis beridirnya MWC-MWC NU di Probolinggo.

Tak lama kemudian beridirilah MWCNU Paiton. Pada tahun 1971, Kiai Wahid di percaya menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan periode 1971-1975. Sementara pada periode 1978-1980, ia dipercaya sebagai Wakil Khatib Syuriyah di Pengurus Wilayah NU Jatim, di bawah KH Mahrus Ali sebagai Rois Syuriyah, dan KH Imron Hamzah sebagai Khatib.

Kemudian pada periode 1980-1984, Kiai Wahid dipercaya sebagai Khatib Awwal yaitu dengan dikeluarkannya SK dari PBNU dengan Nomor: 1535/Tnf/PB/A/XII-'80, tentang susunan Pengurus Wilayah Jawa Timur Periode 1980-1984.

Katib Awaal masih dipercayakan kepadanya hingga periode 1984-1988. Kiai Wahid dalam mengurusi NU seperti tak pernah ada rasa lelah. Di samping ia juga sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid menggantikan kakaknya, KH Moh. Hasym Zaini yang lebih awal meninggalkan Kiai Wahid beserta keluarga.

Namun di tengah padatnya urusan di pesantren, ia tetap semangat, giat dan telaten mengurusi NU. Hal itu karena prinsipnya "jadi pengurus harus ngurus, bukan yang diurus." Ketelatenannya bukan hanya diakui oleh pengurus tingkat cabang, namun juga dirasakan oleh pengurus wilayah Jatim.

Karena itu, untuk periode tahun 1988-1992 ia masih dipercaya menduduki jabatan Wakil Rais Syuriyah. Sebagaimana Kiai Wahid di kenal dengan gagasan-gagasannya yang segar, selama aktif di PWNU Jawa Timur itu pula ia melakukan terobosan-terobosan demi kemajuan NU, di antaranya; pertama, mengfungsikan kantor NU sebagai tempat konsultasi.

Tujuannya untuk menampung aspirasi masyarakat dan melayani kepentingan warga NU. Untuk itu, dalam setiap harinya kantor NU wajib diisi oleh pengurus inti NU, baik ketua, wakil ketua atau lainnya.

Kedua, program yang dijalankan antara satu periode dengan periode selanjutnya harus berkesinambungan. Hal ini supaya masyarakat betul-betul dapat merasakan program NU dalam satu periode.

Ketiga, pentingnya peta jama'ah NU di pedesaan maupun di kota. Hal ini untuk mengetahui sosio-kultur dan kebutuhan warga NU di masing-masing daerah. Sehingga program yang direncanakan NU tidak terjadi kontra produktif.

Pemikiran-pemikiran cemerlang Kiai Wahid ini disambut baik oleh pengurus. Dalam menyampaikan pandangannya ia seringkali menyampaikan dalam diskusi-diskusi kecil dengan para pengurus lainnya sehingga gagasan-gagasannya mudah diterima.

Waktu demi waktu, nama Kiai Wahid semakin masyhur di kalangan masyarakat NU. Ia bukan hanya masyhur di kalang PWNU tapi juga dikenal luas hingga tingkat nasional.

Puncaknya pada Muktamar ke-29 di Cipasung, Jawa Barat, tahun 1994, nama Kiai Wahid mencuat sebagai kandidat kuat setelah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan namanya sempat melampaui Gus Dur. Namun ia memilih menarik mundur suara pendukungnya dan dilarikan kepada Gus Dur.

Sebab ia sadar dan jernih, untuk memimpin NU saat itu, Gus Dur masih yang terbaik. Dan akhirnya, Gus Dur terpilih lagi sebagai ketua Tanfidziyah PBNU untuk yang ketiga kalinya.

Pada masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU periode 1994-1999, Kiai Wahid dipercaya sebagai salah satu ketua di bawah Gus Dur. Masuknya Kiai Wahid dalam jajaran pengurus PBNU menjadi harapan banyak orang dapat membumikan ide-ide Gus Dur.

Sehingga gagasan-gagasan startegis Gus Dur tetang pemberdayaan umat akhirnya dapat terjembatani. Berjuang di LAKPESDAM Kiai Wahid Zaini juga tercatat sebagai salah satu perintis berdirinya Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM).

Setelah LAKPESDAM berdiri, ia juga yang dipercaya sebagai Direktur untuk wilayah Timur yang, meliputi seluruh daerah Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 1984. Sebagai Direktur, Kiai Wahid mempunyai terobosan-terobosan strategis mengenai pengembangan Sumber Daya Manusia melalui LAKPESDAM; pertama, bagi Kiai Wahid, LAKPESDAM harus dipandang sebagai jam'iyah.

Sebab menurutnya, pemahaman mengenai jam'iyah perlu ada revisi ulang, terutama pada aspek program strategis NU, harus dibenahi menjadi program yang membumi (konkret), sehingga warga NU dapat menikmatinya secara langsung.

Kedua, pengembangan sumber daya manusia harus dijadikan program prioritas dan kebutuhan mendasar, baik SDM pengurus maupun SDM warga Nahdliyin. Berangkat dari peta pemikiran tersebut, LAKPESDAM Jatim yang dinadkodai Kiai Wahid, telah melakukan proyek pencerahan melalui kegiatan diskusi, seminar, dan pelatihan-pelatihan.

Dalam diskusi-diskusi itu ia hadirkan tokoh-tokoh nasional seperti Gus Dur, Dr. Syaifuddin Zuhri, MM Billah dan tokoh lainnya dari kader-keder NU yang memiliki konsen di bidangnya.

Disamping itu, juga melakukan pendampingan gerakan pemberdayaan ekonomi kerakyatan seperti pembinaan kelompok simpan pinjam, dan lain-lain.

Dengan demikian, warga NU bukan hanya disuguhi dengan pengajian agama, meski hal itu sangat penting, tapi juga kesadaran pemberdayaan masyarakat. Kemudian pada tahun 1990, Kiai Wahid mengakhiri jabatannya sebagai Direktur LAKPESDAM.

Berjuang di Rabithatul Ma'hadil Islamiyah (RMI)

Kiprah Kiai Wahid Zaini di Rabithatul Ma'hadil Islamiyah (RMI) dimulai sekitar tahun 1984, menggantikan KH Najib Wahab sebagai ketua umum RMI. Posisi ketua umum digantikan Kiai Wahid karna KH Najib Wahab wafat setelah menggantikan KH Masykur, ketua umum RMI periode 1984-1988, yang terpilih setelah RMI ditetapkan menjadi Badan Otonom (Banom) pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo.

Kiai Wahid dipercaya sebagai ketua umum RMI selama 2 periode. Karena pada Muktamar NU ke-28 di Krapyak Jogyakarta, ia kembali dipilih menjadi ketua umum RMI periode 1988-1993. Sebagai ketua umum RMI, Kiai Wahid banyak melakukan terobosan baru.

Di antaranya; pertama, merintis terbentuknya pengurus RMI ditingkat Cabang dan wilayah, baik pulau Jawa, pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan hampir seluruh provinsi di Indonesia. Kedua kontekstualisasi fiqih melalui kegiatan halaqah di pondok pesantren. Kegiatan ini pernah diselenggarakan di pesantren Watuvongol Jawa Barat, Darul Ulum Jombang, Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Nurul Jadid Paiton, Cipasung dan Blok Agung Banyuwangi.

Selain itu, Kiai Wahid juga menggagas berdirinya Ma'had Aly sebagai lembaga setingkat Perguruan Tinggi (PT) di Pesantren. Hal ini seiring dengan visi dan misi RMI yang ingin mengembangkan pendidikan pesantren. Kini beberapa pesantren telah mendirikan Ma'had Aly seperti pesantren Salifiyah Syafi'iyah Sukorejo Sitibondo yang konsentrasi pada Fiqih, pesantren Krapyak Yogyakarta yang konsentrasi pada Usul Fiqh, dan pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo yang konsentrasi pada Dirosah Islamiyah. Capaian demi capaian tersebut tak lain adalah buah dari pemikiran dan sepakterjang Kiai Wahid Zaini.