Kian Berjejal Karena Rute Baru KRL

Merdeka.com - Merdeka.com - Sejak switch over 5 di Stasiun Manggarai dilakukan pada 28 Mei 2022, kepadatan penumpang KRL masih terjadi. Sesama penumpang KRL, terpaksa saling berhimpitan. Tak jarang, penumpang memaksakan diri agar tetap muat untuk masuk ke dalam gerbong.

"Kondisinya seperti dulu sebelum pandemi, berjejal di depan pintu karena enggak muat. Tapi bisa apa lagi, enggak ada pilihan, kalau tunggu gerbong sepi, enggak akan sepi," ucap Herman di Stasiun Manggarai, Jumat (3/6).

Herman merupakan pegawai outsourcing yang bertugas sebagai office boy. Dia menyewa kamar kos kecil di daerah Tebet. Untuk menuju kantornya, Herman harus turun di stasiun Sudirman. Pada switch over 5 Manggarai kali ini, dia mau tak mau harus merasakan kondisi saling himpit antar sesama penumpang KRL.

"Sebelumnya juga banyak orang untuk tujuan Sudirman, Tanah Abang, cuma kali ini rasanya semakin penuh," ucapnya.

suasana stasiun manggarai saat jam pulang kantor
suasana stasiun manggarai saat jam pulang kantor

©2022 Liputan6.com/Herman Zakharia

Dahlia, pegawai dari perusahaan swasta pun sedikit kepayahan dengan kondisi switch over 5 Manggarai. Sebab, jumlah penumpang KRL akan membludak saat memasuki jam sibuk, dimulai pukul 16.00 WIB - 18.00 WIB. Relasi perjalanan Diah setiap hari adalah Stasiun Juanda-Stasiun Tebet.

"Dari Stasiun Juanda saja sudah jarang dapat tempat duduk, karena di kereta itu kan ada juga penumpang dari KRL relasi Bekasi, bisa dibayangkan penumpang KRL Bogor/Depok saja sudah membludak, ditambah dengan penumpang KRL relasi Bekasi," keluhnya.

Pantauan merdeka.com, Jumat (3/6), penumpukan mobilisasi penumpang KRL terjadi saat penumpang relasi Bekasi/Cikarang harus turun satu lantai untuk berganti rangkaian kereta. Pusat keramaian orang terjadi di tangga, pintu masuk gerbong yang dekat dengan tangga.

Petugas wara-wiri mengarahkan penumpang agar tetap berhati-hati saat antre turun lantai menggunakam tangga. Di Stasiun Manggarai, sebenarnya juga disediakan lift. Namun banyak orang memilih menggunakan tangga lantaran batas daya kapasitas maksimum lift dan sebagainya.

kian berjejal karena rute baru krl
kian berjejal karena rute baru krl

Di kereta relasi Bekasi/Cikarang, kondisi saling dorong agar bisa masuk ke dalam gerbong juga tetap terjadi. Penumpang tak ingin ketinggalan kereta dan menunda ketibaan mereka untuk segera beristirahat di rumah masing-masing.

Namun, kondisi saling dorong tidak terjadi di setiap gerbong kereta. Jika berjalan ke arah utara, beberapa gerbong sangat kontras dengan gerbong yang berdekatan dengan tangga.

"Karena kan orang pasti mau langsung masuk, kalau jalan ke depan juga penuh orang, pilar juga besar banget jadi untuk berjalan aja antre. Daripada ketinggalan mending masuk ke gerbong dulu baru susur buat cari gerbong yang agak lowong," ucap Rani, pegawai bank yang berkantor dekat dari Stasiun Jakarta Kota.

"Sebenarnya KRL Bekasi penumpangnya tidak sepadat Bogor/Depok, karena mereka bisa ambil rute Kota-Ancol, transit di Kampung Bandan dan pindah kereta tujuan Bekasi. Tapi memang perjalanan makin panjang," imbuhnya.

Adapun rute yang mengalami peralihan (switch over) yaitu relasi perjalanan Bekasi-Kota menjadi Bekasi-Tanah Abang melalui Kampung Bandan. Switch Over dilakukan dengan mengaktifkan jalur sementara atau temporary track di Jalur 1 dan Jalur 2.

Untuk Jalur 3 sebagai peron relasi tujuan Bekasi/Cikarang, akan ditutup, sistem persinyalan akan diganti, dan jaringan listrik aliran atas (JLAA) akan diganti untuk menyesuaikan perubahan jalur. Jalur 1 dan Jalur 2 hanya akan digunakan untuk Kereta Api Jarak Jauh.

Adapun, KRL Commuterline lintas Bekasi/Cikarang akan dilayani di Jalur 6 dan Jalur 7. Lintas Bogor Line dilayani di Jalur 10, Jalur 11, Jalur 12, dan Jalur 13.

suasana stasiun manggarai saat jam pulang kantor
suasana stasiun manggarai saat jam pulang kantor

©2022 Liputan6.com/Herman Zakharia

Direktur Utama Kereta Api Indonesia (Persero), Didiek Hartantyo menjelaskan, perubahan pola operasi perjalanan KRL Commuterline yang dimulai sejak Sabtu (28/5) bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan pelayanan perjalanan KRL Jabodetabek.

"Perubahan pola operasi harus dilakukan, karena adanya pembangunan infrastruktur perkeretaapian yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan para pengguna KRL," kata Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dalam keterangannya, Senin (30/5).

Menurutnya, pengguna KRL diprediksi akan terus meningkat jumlahnya, sehingga perubahan pola operasi perlu dilakukan seiring pelaksanaan Switch Over ke-5 atau SO5 di Stasiun Manggarai oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Sebelum adanya SO5, pengguna KRL harus menyeberang rel ketika melakukan transit di Stasiun Manggarai, dimana hal tersebut sangat membahayakan. Namun saat ini, pengguna KRL cukup naik dan turun menuju peron tujuan dengan menggunakan lift, eskalator, dan tangga manual.

Adanya gedung baru ini juga membuat pengguna KRL lebih nyaman saat berpindah jalur serta menunggu kedatangan KRL di peron yang lebih luas. Lebih lanjut, memasuki hari ke-3 perubahan pola operasi KRL, situasi Stasiun Manggarai dan arus pengguna KRL sudah mulai terkendali.

Kepadatan para pengguna KRL dapat segera terurai setelah berbagai antisipasi yang dilakukan oleh KAI seperti pengoperasian KRL Feeder relasi Manggarai - Angke/Kampung Bandan PP di jalur 7 pada jam-jam sibuk dan KRL tujuan Bekasi/Cikarang dari Tanah Abang di jalur 9, penambahan petugas untuk mendampingi dan mengarahkan pengguna KRL, perbaikan pola operasi dan stabling KRL, serta pengoptimalan rangkaian KRL.

"Kami telah menambah petugas dan menyiapkan papan petunjuk arah untuk mengarahkan, mengatur antrean, serta membantu menjelaskan kepada pengguna KRL yang masih kebingungan," terangnya. [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel