Kiat didik anak di negeri minoritas Muslim Jepang

Mendidik anak memang memiliki tantangan tersendiri, terlebih di luar negeri termasuk Jepang, di mana Muslim merupakan minoritas.

Kepala Sekolah YUAI Japan International Islamic School Yetti Dalimi dalam diskusi yang bertajuk “Rambu-Rambu Mendidik Anak di Negeri Islam Minoritas” di Yokohama, Minggu membagikan sejumlah kiat dalam mendidik anak di negeri Bunga Sakura itu.

Menurut Yetti, pertama, perlu membangun kedekatan dengan anak atau attachment dengan memberikan kasih sayang secara fisik baik berupa pelukan, kecupan, maupun secara psikis seperti perhatian dan apresiasi.

Attachment kepada anak itu penting sekali karena membangun rasa secure, rasa aman. Banyak permasalahan anak-anak karena mereka merasa insecure, merasa tidak aman,” katanya.

Baca juga: Orangtua Indonesia masih didik anak dengan kekerasan

Rasa tidak aman itu lah merupakan akar dari tantrum akibat anak-anak tidak bisa mengekspresikan perasaannya, seperti kekesalan dan stres.

Kedua, memanfaatkan waktu berkualitas, yakni di pagi hari saat anak bangun tidur dan saat akan tidur karena momentum tersebut merupakan waktu terbaik untuk membangun attachment.

“Banyak dipeluk, banyak bercerita, banyak komunikasi. Jadi komunikasi dengan anak itu bukan hanya interpersonal melainkan intrapersonal,” ujarnya.

Ketiga, menggunakan kalimat positif dalam mengarahkan anak. Yetti mengatakan seringkali anak-anak melakukan perbuatan yang menurut orang tua tidak baik bukan karena anak tersebut ingin melakukannya, melainkan karena mereka tidak tahu.

Keempat, jadikan rumah sebagai zona nyaman anak dengan membebaskan mereka untuk bermain karena itu akan membangun kepercayaan diri.

“Kalau ini tidak boleh, itu tidak boleh, kita tidak memberikan kepercayaan diri kepada anak. Semuanya serba permisif. Biarkan mereka pakai baju sendiri, kasih makan meskipun berantakan dan jatuh-jatuh, itu membangun rasa percaya diri,” katanya.

Menurut dia, rasa nyaman yang ditanamkan di dalam rumah akan membuat anak-anak merasa aman saat dunia di luar sana sedang mengancamnya dan mencoba merobohkan identitasnya.

Baca juga: Orang tua harus realistis saat beri target ke anak

“Buatlah rumah itu tempat curhat, tempat mereka bebas berekspresi dengan membangun komunikasi yang baik,” katanya.

Keempat, mengedepankan persamaan dibanding perbedaan. Menurut dia, tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak menghadapi tantangan tersendiri di negeri minoritas Muslim, contohnya bullying atau perundungan.

Yetti mengatakan perbedaan budaya antara di keluarga dan di lingkungan pendidikan ataupun pertemanan berpotensi memunculkan kebingungan pada anak-anak yang apabila tidak segera diatasi, anak akan mengalami krisis identitas.

“Kita tidak boleh menyalah-nyalahkan budaya orang. Yang harus kita lakukan adalah memberikan kekuatan kepada anak kita bahwa anak kita kuat meski di-bully misalnya, bahwa anak kita tidak membenci mereka meski mereka berbuat tidak baik kepada kita,” katanya.

Yetti menjelaskan rasa aman, kasih sayang, rasa percaya diri yang ditanamkan pada anak sejak dini akan membentuk daya lenting atau resilience.

Menurut sejumlah literatur, lanjut dia, daya lenting merupakan salah satu kecerdasan selain kecerdasan spiritual yang paling menentukan kesuksesan seorang anak.

Kelima, cari lingkungan yang mendukung. Yetti mengatakan bersosialisasi merupakan salah satu kebutuhan manusia, karena itu lingkungan yang mendukung penting bagi proses pendidikan anak.

Baca juga: Siti Fauziah: Guru juga bentuk karakter anak didik

Baca juga: Kak Seto: Semua pihak perlu pastikan kesiapan anak jalankan PTM

Baca juga: Psikolog sarankan orang tua kendalikan diri sebelum didik anak

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel