Kilang Balongan terbakar, Anggota Komisi VII minta tim investigasi

Satyagraha
·Bacaan 2 menit

Anggota Komisi VII DPR RI Rofik Hananto meminta adanya pembentukan tim investigasi untuk mengetahui penyebab kebakaran di kilang minyak Pertamina RU (Refinery Unit) VI Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada pukul 00.45 WIB saat terjadi hujan deras dan petir, pada tangki T-310G.

"Terkait musibah kebakaran Kilang minyak Pertamina RU (Refinery Unit) VI Balongan dini hari tadi, saya mengucapkan turut berbelangsungkawa atas terjadinya musibah ini. Kami mendorong agar segera dibentuk tim investigasi yang mendalam untuk mengetahui penyebab kebakaran ini," kata Rofik lewat keterangan resmi diterima di Jakarta, Senin.

Refinery Unit (RU) VI Balongan merupakan kilang keenam dari tujuh kilang Direktorat Pengolahan PT Pertamina (Persero) dengan kegiatan bisnis utamanya adalah mengolah minyak mentah (Crude Oil) menjadi produk-produk BBM (Bahan Bakar Minyak), Non BBM dan Petrokimia.

Baca juga: BPH Migas menjamin ketersediaan dan kelancaran pendistribusian BBM

Rofik juga meminta agar Pertamina dibantu dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu untuk segara melakukan langkah evakuasi bagi warga yang berada di sekitar kilang minyak, dan memastikan keamanan dan pemenuhan bantuan untuk kebutuhan warga di Pengungsian.

Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 200-an warga yang diungsikan di Pendopo Kabupaten Indramayu, sekitar 400 orang di Islamic Center Indramayu dan sekitar 350 warga di GOR Perumahan Bumi Patra.

Rofik juga meminta agar PT Pertamina dapat memastikan pasokan BBM di Banten, DKI dan sebagian Jawa Barat tetap terjaga dengan baik.

Baca juga: Pertamina isolasi area Tanki T-301 Balongan dengan penanganan cepat

"Saya minta kepada Pertamina untuk memastikan pasokan BBM tetap terjaga dengan baik, jangan sampai dengan musibah kebakaran yang terjadi di Kilang Balongan dapat mengakibatkan krisis BBM dan ketergantungan terhadap Impor BBM," tegas Rofik.

Refinery Unit VI Pertamina Balongan merupakan pemasok utama BBM untuk DKI Banten dan sebagian Jabar, dibangun tahun 1994 dengan teknologi baru dan nilai keekonomian sangat baik.

Kilang ini juga masuk dalam program Strategis Nasional RDMP (Refinery Development Master Plan) Pertamina dan sedang melalui proses Pemancangan (Pilling) untuk Peningkatan Kapasitas Produksi Kilang dari 125 MBSD menjadi 150 MBSD juga peningkatan produksi Naptha dari 5,29 MBSD menjadi 11,6 MBSD.

Baca juga: Dirut Pertamina: Masyarakat tidak perlu "panic buying," stok BBM aman

Baca juga: Pertamina kehilangan 400 ribu barel akibat kebakaran Kilang Balongan