Kilang minyak Libya masih ditutup, KTT perdamaian diuji

Benghazi, Libya (AP) - Kilang-kilang serta fasilitas produksi minyak utama Libya pada Senin (20/1) masih tutup, kata perusahaan minyak nasional. Penutupan itu merupakan tanda bahwa pasukan di wilayah timur negara itu belum memperlihatkan dukungan pascapenyelenggaraan KTT internasional untuk mengakhiri perang saudara di Libya.

Perusahaan Minyak Nasional Libya membenarkan bahwa pihaknya telah mengajukan klausul keadaan kahar atas ekspor minyak dari dua kilang utama di wilayah selatan. Ketentuan tersebut memungkinkan kegagalan dalam memenuhi kontrak internasional, karena ada peristiwa yang mengganggu secara tiba-tiba, dapat dimaklumi.

Penutupan yang terus berlangsung di semua fasilitas minyak oleh pasukan di Libya timur itu meningkatkan tekanan pada penguasa mereka di wilayah barat, yaitu pemerintahan yang berkedudukan di ibu kota negara, Tripoli, dan didukung PBB.

Negara-negara kuat dunia yang berkepentingan dalam konflik di Libya, yang telah berlangsung lama, pada Minggu (19/1) menyatakan janji untuk menghormati embargo senjata --yang sering dilanggar--- serta menekan pihak-pihak bertikai untuk mewujudkan gencatan senjata.

Tapi di lapangan, ketegangan masih tinggi. Saat para pemimpin dunia bertemu untuk membicarakan penurunan ketegangan militer, para pengamat mengatakan bentrokan muncul di luar Tripoli, yang merupakan ujian bagi gencatan senjata sepekan.

Pasukan mantan jenderal Khalifa Hifter telah berupaya mengepung ibu kota selama berbulan-bulan.

"Semua orang khawatir," kata Mohamed Eljarh, analis politik yang berpusat di kota timur, Tobruk.

"Saya khawatir saat ini tidak ada keinginan dari pihak-pihak bertikai untuk melaksanakan gencatan senjata," tambah Eljarh.

Seorang dokter dan warga di Tripoli selatan, Mohamed Malek, 27 tahun, mengatakan ia meninggalkan kompleks perumahannya pada Minggu malam ketika mendengar suara tembakan secara sporadis.

Satu warga Tripoli lainnya, Ahmed Werfali, 34 tahun, mengatakan ia mendengar suara ledakan keras pada Senin pagi serta beberapa bentrokan sepanjang malam. Namun, kekerasan tersebut lebih sedikit dibandingkan dengan gempuran senjata berat secara rutin sebelum gencatan senjata diberlakukan, katanya.

Para petugas bantuan di daerah pinggiran ibu kota mengatakan mereka selama beberapa hari belum bisa mengurus jasad-jasad karena pertempuran terus berlangsung.

"Kami menemukan enam jenazah terjebak di bawah reruntuhan, tapi ada penembakan terus-menerus dan sampai hari ini kami tidak bisa mendatangi lokasi," kata Assad Jaafar, juru bicara Bulan Sabit Merah.

Puluhan orang dari kelompok suku yang setia kepada Hifter pada Senin lanjut berkemah di dua kilang minyak di selatan, al-Sharara dan al-Feel. Al-Shara adalah kilang minyak terbesar Libya.

Kelompok-kelompok suku sekutu Hifter memblokade sebuah jalur pipa utama pada akhir pekan hingga menghentikan aliran produksi minyak 38.000 barel per hari. Penghadangan itu juga berpotensi menurunkan produksi nasional ke angka lebih kecil dibandingkan tingkat normal.

"Pendudukan ini akan diteruskan," demikian dinyatakan Mohamed Maikal, pemimpin kelompok yang menduduki kilang-kilang minyak itu, yang dikenal sebagai daerah Fezzan. "Tampaknya tidak ada harapan setelah apa yang berlangsung di Berlin."

Para pemrotes menuduh pemerintahan di Tripoli, yang mengendalikan Bank Sentral, telah menggunakan pemasukan dari minyak untuk mendanai operasi militer memerangi pasukan Hifter.

Penghentian produksi di selatan terjadi setelah penutupan pada akhir pekan di terminal-terminal ekspor di wilayah timur. Hanya kilang-kilang di pantai serta satu fasilitas lebih kecil yang masih beroperasi, kata perusahaan minyak nasional itu.

Minyak, yang merupakan andalan ekonomi Libya, telah sekian lama menjadi faktor kunci dalam perang saudara karena otoritas pihak-pihak bertikai bergelut untuk menguasai kilang minyak dan devisa negara. Libya memiliki cadangan minyak terbesar kesembilan di dunia dan terbesar di Afrika.

Masih belum ada kejelasan apakah komitmen untuk menghentikan campur tangan asing, yang diumumkan di Berlin, akan terbukti lebih efektif dalam meredakan perang --yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di Libya-- dibandingkan dengan janji-janji pada masa lalu yang banyak diabaikan.

Jalel Harchaoui, pakar Libya pada Netherlands Institute of International Relations, mengatakan KTT Berlin tidak menghasilkan apa-apa bagi "mekanisme konkret" yang diperlukan untuk memastikan semua pihak terkait dalam konflik mematuhi komitmen gencatan senjata serta penurunan ketegangan.

Dua pemimpin Libya yang bersaing keras, Perdana Menteri Fayez Sarraj dan mantan jenderal Hifter, tidak menandatangani dokumen apa pun, apalagi bertemu muka di ruangan yang sama. Kanselir Jerman Angela Merkel dan menteri luar negeri Jerman mengatakan mereka telah bertemu dengan para pemimpin itu secara terpisah menjelang KTT.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, ketika berbicara kepada para wartawan dalam perjalanannya dari Berlin, mengkritik Hifter yang tidak menandatangani peta jalan untuk mengakhiri perang. "Masih verbal, disaksikan oleh pihak-pihak yang berpartisipasi dalam pertemuan itu," kata Erdogan, seperti dikutip kantor berita negara Anadolu.

Duta Besar Jerman untuk PBB Christoph Heusgen mengatakan kepada para wartawan pada Senin bahwa masalah paling penting saat ini adalah pihak-pihak bertikai di Libya merundingkan "gencatan senjata sesungguhnya." Pembicaraan tersebut diharapkan akan dimulai pekan ini di Jenewa di bawah naungan PBB, katanya.

"Yang paling penting adalah semua orang mengakui bahwa tidak ada penyelesaian militer bagi konflik ini," kata Heusgen.

___

DeBre melaporkan dari Kairo. Penulis Associated Press Sam Magdy di Kairo, Suzan Fraser di Ankara, dan Edith M. Lederer di PBB berkontribusi untuk laporan ini.