Kim Jong-un Akui Rancangan Ekonomi Korea Utara Gagal

Ezra Sihite, BBC Indonesia
·Bacaan 2 menit

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, mengakui rencana ekonomi lima tahun yang dirancang negara itu gagal mencapai sasaran di "hampir setiap sektor".

Kim Jong-un mengatakan hal itu dalam pembukaan kongres Partai Pekerja pada Rabu (06/01). Sesungguhnya kongres seperti itu jarang diadakan, kali ini merupakan kongres kedelapan dalam sejarah partai.

Rekaman gambar televisi menunjukkan balai sidang di ibu kota Korea Utara (Korut), Pyongyang, dipenuhi ribuan delegasi. Tak seorang pun tampak mengenakan masker dan serentak berdiri menyambut kedatangan Kim.

Dalam pidatonya, pemimpin tertinggi Korut mengatakan strategi lima tahun yang diumumkan pada tahun 2016 telah "gagal besar dalam mencapai sasarandi hampir semua sektor " dan kesalahan harus "diakui terang-terangan".

Korea Utara menutup perbatasan pada Januari tahun 2020 untuk mencegah penyebaran virus corona, meskipun mengaku tidak ditemukan kasus di sana.

Penutupan perbatasan tersebut menyebabkan Korea Utara terputus dari negar tetangga sekaligus sekutunya, China.

Perdagangan antara kedua negara turun hingga sekitar 80%.

Bencana alam seperti topan dan banjir menghancurkan rumah serta tanaman di Korea padahal negara itu masih dikenai sanksi internasional, termasuk dalam kaitan program nuklirnya.

Di bagian lain, Kim Jon-un menyerukan perlunya swasembada dan juga memuji para pengurus partai dalam upaya memerangi ancaman virus corona.

Korea Utara melaporkan ribuan kasus suspek Covid-19 kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), meskipun belum mengakui ada kasus terkonfirmasi di negara itu.

Fakta bahwa Kim Jong-un mengakui kesalahan tidak aneh, menurut wartawan BBC di Seoul Laura Bicker, bahkan itu semakin menjadi kebiasaannya.

Tidak jelas bagaimana Kim akan mengatasi kondisi tahun-tahun paling suram selama puluhan tahun ini, lapor Bicker.

Kim diperkirakan akan mengumumkan rencana pembangunan ekonomi baru untuk lima tahun ke depan.

Pengakuan kegagalan mencapai target pembangunan disampaikan hanya dua minggu sebelum presiden terpilih Amerika Serikat, Joe Biden, dilantik untuk menggantikan Donald Trump.

Kim dan Trump mempunyai hubungan yang cukup bersahabat, kendati tidak ada kemajuan berarti dalam perundingan program nuklir Korea Utara.