Kim Yo Jong si Adik Kim Jong-un, Pemimpin Korea Utara Selanjutnya?

Liputan6.com, Pyongyang - Saat dunia menunggu kepastian kabar pemimpin Korea Utara Kim Jong-un ditengah rumor kesehatannya yang memburuk --bahkan diisukan meninggal-- pada usia 36, semua mata tertuju pada adik perempuannya, Kim Yo Jong yang berusia 31 tahun.

Perempuan itu digadang-gadang sebagai kandidat utama untuk menggantikan Kim Jong-un untuk memimpin negara yang kepemimpinannya selama ini berdasarkan garis keturunan keluarga Kim. Tetapi, apakah dia memiliki apa yang diperlukan untuk memimpin rezim yang lama ditandai dengan kebrutalan ekstrem?

Kim Yo Jong mungkin baik-baik saja.

Menanjaknya karier Kim Yo Jong di dalam Departemen Organisasi dan Bimbingan Mahakuasa Korea Utara (OGD) menjadikannya 'Orang Nomor 2 di Korea Utara' di mata para birokrat Partai Buruh --dan itu menjadikannya bukan hanya pewaris tahta Kim Jong-un yang paling nyata, tetapi juga sudah menjadi figur otoritas sentral rezim saat ini.

Jika, seperti yang telah dilaporkan, Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un kritis dan hampir meninggal setelah prosedur pembedahan, Kim Yo Jong mungkin sudah memiliki kekuatan untuk menangkis setiap tantangan terhadap klaimnya untuk memimpin Korea Utara.

"Dia membuat keputusan tentang apa yang cukup penting dalam rezim Kim Jong-un," kata akademisi Robert Collins, yang menghabiskan lebih dari 40 tahun menganalisis Korea Utara, seperti dikutip dari the Daily Beast, Minggu (26/4/2020).

Collins, penulis studi panjang tentang badan pemerintahan di pusat kekuasaan di Utara, mengatakan Kim Yo Jong menggunakan otoritas semacam itu di sekitar OGD untuk memaksa para pejabat partai "untuk takut dan menghormatinya."

Pentingnya Kim Yo Jong di OGD, yang memiliki otoritas penting atas 26 juta warga negara itu, menambah kesan yang berkembang bahwa dia telah dipersiapkan selama bertahun-tahun untuk mengabdi sebagai penerus Kim Jong-un jika dia absen karena masalah medis atau, jika dia mati, sambil menunggu putra Kim Jong-un, seorang putra yang masih berusia sekitar 10, untuk mengambil alih mantel kepemimpinan berikutnya.

 

Kekuasaan yang Sudah Jelas

Ekspresi Kim Yo Jong saat melakukan pertemuan dengan Presiden Korsel, Moon Jae-in di Seoul, Korea Selatan, Sabtu, (10/2). Presiden Moon mengadakan makan siang untuk pejabat senior Korut termasuk adik Kim Jong-Un. (Kim Ju-sung/Yonhap via AP)

Tidak ada keraguan tentang tempat adik perempuan Kim Jong-un dalam dinasti yang berkuasa di Korea Utara.

Buktinya terletak pada meningkatnya kebebasan Kim Yo Jong berbicara tentang masalah kebijakan --hak istimewa yang hanya bisa dia miliki dengan persetujuan penuh jika bukan kolaborasi dari saudara lelakinya-- dan itu termasuk hubungannya dengan Presiden AS Donald Trump.

Munculnya Kim Yo Jong sebagai 'perwakilan' saudaranya datang setelah bertahun-tahun di mana ia telah secara perlahan mengubah posisinya menjadi penguasa.

Pada awal tahun 2002, Pemimpin Tertinggi Kim Jong-il dengan bangga mengatakan kepada lawan bicara asing bahwa putri bungsunya, Kim Yo Jong, tertarik dalam politik, kata Bruce Bennett, pakar Korea Utara di Rand Corporation.

"Kami tahu bahwa ia ingin menggunakan kekuasaan dan otoritas di Korea Utara,” dan bahkan ingin berkarier di "sistem politik" negara itu.

Bennett berspekulasi bahwa pernyataan penting Kim Yo Jong, yang ditulis pada awal Maret menegur Korea Selatan karena mengkritik Korea Utara untuk salah satu dari uji coba rudal jarak pendek yang dipesan oleh saudara lelakinya, mungkin telah ditulis olehnya Kim Jong-un tetapi "dikeluarkan dengan namanya untuk membuat dia tampak menonjol."

Sejauh yang dapat diketahui siapa pun, ia tidak membuat pernyataan besar ketika memulai debut internasional dengan menghadiri Olimpiade Musim Dingin 2018 di kota pegunungan Pyeongchang, Korea Selatan. Bahkan ketika dia bertemu Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, memberikan kepadanya surat dari saudara lelakinya yang mengundangnya untuk pertemuan puncak, dia pada dasarnya hanya menyampaikan harapan bahwa keduanya dapat segera bertemu.

Kunjungannya sarat dengan makna khusus. Para pejabat tinggi Korea Utara tentu saja mengunjungi Korea Selatan pada acara-acara khusus di masa lalu, tetapi belum pernah ada anggota keluarga penguasa Korea Utara menginjakkan kaki di Korea Selatan.

David Straub, yang juga menganalisis Korea Utara sebagai diplomat senior AS, percaya Kim Yo Jong memiliki cara untuk menyampaikan apa yang dia pikirkan hanya dengan ekspresinya.

"Saya tidak akan pernah lupa ketika dia datang ke Olimpiade Korea Selatan dan duduk tepat di belakang Wakil Presiden Mike Pence,” katanya. "Pence secara resmi mengabaikannya, tapi matanya (Kim Yo Jong)! Seandainya mata bisa membunuh!"

 

Kekuasaan yang Rapuh?

Ekspresi adik perempuan Kim Jong-un, Kim Yo-jong saat tiba di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan, Jumat (9/2). Kim Yo-jong menjadi anggota pertama keluarganya yang mengunjungi Korea Selatan sejak Perang Korea 1950-1953 (AP Photo/Ahn Young-joon)

Namun, meski punya presensi yang cukup tinggi di rezim Kim Jong-un, seorang pembelot Korea Utara mengatakan bahwa Kim Yo Jong memiliki kekuasaan yang rapuh.

"Dia memiliki kekuatan besar untuk mengendalikan elit Korea Utara, tetapi jika Kim Jong-un lengser atau mati, dia tidak bisa terus-menerus mempertahankan kekuasaan. Korea Utara tidak menerima kekuatan wanita," kata Kem Eom si pembelot, seperti dikutip dari the Daily Beast.

Bob Collins, penulis buku studi tentang Departemen Organisasi dan Bimbingan Korea Utara (OGD) mencatat, walaupun Kim Yo Jong menonjol dalam badan yang penting itu,

“Dia hanya bisa menjadi pemimpin jika dia adalah kepala OGD. Kalau tidak, dia tidak akan memiliki basis kekuatan yang cukup untuk merebut dan memegang kekuasaan."

Ken Eom, yang membelot dari Korea Utara setelah bertugas 10 tahun di tentara Korea Utara, menambahkan, "(bisa saja) jika Kim Jong-un mati, pada saat yang sama Kim Yo Jong juga akan keluar."

Untuk saat ini, kekuatan tertinggi mungkin bukan apa yang diinginkan Kim Yo Jong, tetapi tugas sebagai 'pelaksana tugas pemimpin' akan sesuai dengan "peran tradisional yang sering kita lihat di Asia Timur," kata Steve Tharp, seorang veteran militer selama puluhan tahun dan memiliki pengalaman anlisis kebijakan sipil yang berurusan dengan masalah Korea Utara.

Seorang 'pelaksana tugas' pernah memerintah pada abad ke-19, ia mencatat, sebelum Raja Korea terakhir, Kojong, sudah cukup umur untuk memerintah dengan haknya sendiri dan sebelum Jepang mengambil alih negara itu pada tahun 1910.

Simak video pilihan berikut: