Kini Dicopot, Ini Deretan Pernyataan Kapolres Jaksel soal Kasus Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Kombes Budhi Herdy Susianto dinonaktifkan sebagai Kapolres Jakarta Selatan. Perwira menengah polisi itu dicopot dari jabatan buntut perkara baku tembak antar ajudan Irjen Ferdy Sambo di rumah dinas Kadiv Propam Polri, pada Jumat (8/7) lalu. Insiden itu menewaskan Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat akibat ditembak Bharada E.

Keputusan menonaktifkan Budhi disampaikan Polri usai gelar perkara awal laporan dugaan pembunuhan berencana dilayangkan kuasa hukum keluarga Brigadir J. Selain mencopot Kapolres Jaksel, Polri juga menonaktifkan Brigjen Hendra Kurniawan sebagai Kabiro Pengamanan Internal Divpropam Polri serta sebelumnya Irjen Ferdy Sambo sebagai Kadiv Propam.

Sebelum pencopotan Budhi sebagai Kapolres, penanganan kasus baku tembak antara Bharada E dan Brigadir J itu sebelumnya ditangani Polres Jakarta Selatan. Budhi mengatakan, insiden polisi tembak polisi dilaporkan sendiri Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo ke Polres Jakarta Selatan pada Jumat (8/7).

Polres Jaksel Ungkap Kasus Setelah 3 Hari

Menurut Budhi, Irjen Ferdy Sambo saat itu melaporkan adanya pelecehan dialami istrinya. Namun Budhi tak menjelaskan secara rinci terkait dugaan pasal yang dilaporkan oleh istri dari Irjen Ferdy Sambo tersebut. Setelah mendapatkan laporan, penyidik Polres Jaksel langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Budhi juga menjelaskan alasan kasus baru terungkap ke publik setelah tiga hari peristiwa berlalu. Menurut Budhi, karena saat itu malam IdulAdha, ada sebagian yang merayakan pada hari Sabtu sehingga konsentrasi tidak ke Polres Jaksel.

"Kami memanggil tim inafis, palang hitam, mobil ambulans dan sebagainya semua di sana proses yang dilaksanakan sudah sesuai standar prosedur SOP Kepolisian dalam menangani perkara atau laporan masyarakat," kata Budhi kepada wartawan di Polres Jakarta Selatan, Selasa (12/7).

Sebut Jari Brigadir J Putus karena Pegang Senjata Pakai Dua Tangan

Mantan Kapolres Jakarta Utara ini juga menjawab keraguan keluarga terkait penyebab kematian Brigadir J. Pihak keluarga sebelumnya menemukan kejanggalan terkait kematian Brigadir J setelah melihat langsung kondisi almarhum.

Salah seorang keluarga, Rohani Simanjuntak mengungkap adanya luka lebam atau memar di jasad Brigadir Yoshua.

Rohani menyampaikan, awalnya pada Minggu 10 Juli 2022, keluarga melihat adanya darah segar yang merembes melalui jari kelingking jasad Brigadir J atau Yoshua. Sebab itu, keluarga berinisiatif untuk membuka pakaian jenazah tersebut.

Menurut Rohani, luka tembakan juga terlihat di tangan sebelah kiri. Adapun jari kelingking dan jari manis tangan kiri Brigadir J atau Yoshua tampak patah.

"Terus luka di kaki sebelah kanan ada juga. Jadi kalau dugaan dari sana itu ada tembak-menembak. Kalau ada tembak menembak nggak mungkin sampai ada luka-luka memar, luka di kaki seperti benda tajam," kata Rohani berdasarkan video yang dikutip, Selasa (12/7).

Budhi berdalih, jari Brigadir J putus karena cara Brigadir J yang memegang tembakan. Saat Brigadir J melakukan penembakan terhadap Bharada RE, dia memegang senjatanya dengan menggunakan dua tangan.

"Dan disampaikan pula tadi ada peluru yang kena ke jari Brigadir J itu sendiri. Kemudian tembus dan mengenai bagian tubuh yang lain," kata Budhi.

Budhi menegaskan, tidak ada luka penganiayaan atau potongan dari Brigadir J. Seluruh luka yang terjadi di tubuh Brigadir J berasal dari peristiwa tembak menembak antara Brigadir J dan Bharada RE.

"Saya tegaskan semua luka yang ada pada tubuh Brigadir J berdasarkan hasil autopsi sementara berasal dari luka tembak," katanya.

Dia menegaskan, Polri akan profesional mengungkap pelanggaran pidana dalam peristiwa tersebut. Hal senada dikatakan Karopenmas Divhumas Mabes Polri Brigjen Ahmad Ramadhan.

Ramadhan menjelaskan jika luka sayatan yang ada di tubuh jasad Brigadir J berasal dari gesekan yang berasal dari proyektil baku tembak dengan Bharada E. Bukan berasal senjata lain melainkan hasil tembakan dari Bharada E yang melesatkan lima tembakan.

Bilang CCTV Rusak

Budhi sebelumnya juga menyebut Closed Circuit Television (CCTV) di rumah singgah tersebut sedang rusak Kadiv Propam tersebut sedang rusak. CCTV itu rusak saat penyidik Polres Jaksel tengah mengumpulkan barang bukti terkait aksi saling tembak polisi di rumah dinas Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo.

Budhi mengatakan, polisi perlu menemukan lima alat bukti untuk menetapkan pelanggaran pidana dalam kasus ini. Pertama transaksi, kedua keterangan ahli, ketiga ada surat atau dokumen, keempat petunjuk dan kelima keterangan terdakwa.

Sementara untuk bukti CCTV, kata dia, kebetulan saat kejadian berlangsung sedang rusak. Terlebih rumah tersebut hanya untuk singgah Irjen Ferdy Sambo dan keluarga.

"Kami juga mendapatkan bahwa di rumah tersebut memang kebetulan CCTV-nya rusak sejak dua minggu lalu. Sehingga tidak dapat kami dapatkan," kata dia.

Budhi mengatakan, sampai hari ini belum bisa menemukan pelanggaran pidana yang dilakukan oleh Bharada RE. Dalam kronologi yang diungkap polisi, Brigadir J melakukan pelecehan terhadap istri Irjen Ferdy Sambo. Hingga akhirnya Bharada RE dan Brigadir J saling tembak. Bharada RE kemudian menembak mati Brigadir J di rumah tersebut.

"Sampai saat ini berdasarkan alat bukti yang kami dapatkan kami belum menemukan adanya alat bukti yang menguatkan persangkaan tadi terhadap saudara RE yang melakukan pidana," kata Budhi.

Polri Bentuk Tim Khusus

Dugaan kejanggalan terkait kematian Brigadir J kemudian dilaporkan pihak keluarga ke Bareskrim Polri. Pihak kuasa hukum keluarga Brigadir J melaporkan kasus itu sebagai pembunuhan berencana.

Tak hanya melaporkan dugaan tindak pidana, kuasa hukum keluarga juga melaporkan dugaan pencurian handphone milik Brigadir J. Pihak kuasa hukum keluarga juga akan melaporkan peretasan terhadap WhatsApp keluarga almarhum Brigadir J.

Pihak kuasa hukum keluarga Brigadir J sebelumnya mendesak Polri menonaktikan Budhi Herdy sebagai Kapolres Jaksel lantaran dinilai tak bekerja sesuai prosedur untuk mengungkap kasus tersebut.

"Karena Kapolres Jaksel itu bekerja tidak sesuai prosedur untuk mengungkap perkara tindak pidana dan sampai sekarang belum ada tersangkanya olah TKP tidak melibatkan Inafis dan tidak memasang police line," ujar koordinator kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak kepada wartawan, Selasa (19/7).

Langkah kuasa hukum keluarga Brigadir J itu direspons Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dengan membentuk tim khusus. Alasan pembentukan tim khusus untuk menjawab keraguan publik terkait kasus tersebut. Tim Khusus tersebut dipimpin Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono.

Kapolres Jaksel Dinonaktifkan

Setelah hampir dua pekan menjadi sorotan, sejumlah fakta baru terungkap tim khusus Polri terkait kematian Brigadir J. Bahkan sejumlah pejabat polisi dinonaktifkan sementara.

Pertimbangan polisi yaitu untuk proses penyelidikan. Mereka yang dinonaktifkan sementara oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yaitu Irjen Ferdy Sambo sebagai Kadiv Propam, pada Senin (18/7).

Kemudian Brigjen Hendra Kurniawan dicopot sebagai Kabiro Pengamanan Internal Divpropam Polri. Kapolres Jakarta Selatan menjadi anggota polisi ketiga yang dicopot dari jabatannya sementara waktu.

Polri berdalih keputusan menonaktifkan pejabat Polri itu disampaikan usai gelar perkara awal laporan yang dilayangkan oleh kuasa hukum keluarga Brigadir J terkait dugaan pembunuhan berencana. Sementara untuk mengisi kekosongan jabatan Budhi, akan ditunjuk langsung oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran.

CCTV Ditemukan

Selain menonaktifkan tiga pejabat Polri, hasil penyelidikan tim khusus bentukan Kapolri juga Closed Circuit Television (CCTV) rumah dinas Irjen Ferdy Sambo. Salah satu cara dalam mengungkap kasus penembakan Brigadir J dengan melihat rekaman CCTV. CCTV itu sebelumnya disebut polisi rusak . Kini CCTV sedang diperiksa di Laboratorium Forensik.

"Tim ini bekerja maksimal. Kita sudah menemukan CCTV yang bisa mengungkap secara jelas tentang konstruksi kasus ini, dan CCTV ini sedang didalami oleh timsus yang nanti akan dibuka apabila seluruh rangkaian proses penyidikan oleh Timsus sudah selesai," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Rabu (20/7) malam.

Polri juga menyetujui permintaan Keluarga Brigadir J untuk dilakukan autopsi ulang. Direktur Tindak Pidana Umum (Dir Tipidum) Brigjen Andi Rian Djajadi mengaku bakal menindaklanjuti secepatnya permintaan keluarga terkait autopsi ulang terhadap Brigadir J.

"Saya akan berkoordinasi dengan Kedokteran Forensik, termasuk juga tentunya akan melibatkan unsur-unsur di luar Kedokteran Forensik Polri, termasuk Persatuan Kedokteran Forensik Indonesia, termasuk juga Kompolnas atau Komnas HAM akan saya komunikasikan untuk menjamin bahwa proses ekshumasi nanti tentunya bisa berjalan lancar dan juga hasilnya valid," kata dia. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel