Kini Disuntik Mati, Simak Perjalanan BlackBerry Si Smartphone Ngehits di Tahun 2000-an

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - iPhone dan Android kini jadi smartphone paling umum di pasaran. Kadang seorang pengguna memiliki keduanya di dalam saku. Namun pada tahun 2000-an, ada sebuah merek smartphone yang rasanya wajib dimiliki oleh semua pengguna, yakni BlackBerry.

BlackBerry berasal dari perusahaan asal Kanada bernama RIM (Research in Motion) yang didirikan sejak 1984. Saat itu perusahaan masih fokus pada bidang teknologi data dan produk-produk yang mendukung konektivitas. Hingga kemudian menghadirkan berbagai inovasi produk smartphone.

Satu hal yang jadi khas smartphone BlackBerry adalah kehadiran keyboard fisik qwerty yang nyaman. Dengan keyboard fisik ini, seolah memudahkan semua kebutuhan kala itu.

Mengetik email di ponsel tanpa takut salah ketik hingga mengirim chat ke sesama pengguna BlackBerry dengan pesan BBM, semuanya dilakukan melalui smartphone BlackBerry.

Selama masa jayanya, BlackBerry merilis berbagai model. Beberapa yang paling populer adalah BlackBerry Pearl, BB Curve, BB Pearl Flip, BB Bold, BB Storm, BB Tour, BB Gemini, BB Bold Touch, BB Q10, hingga BlackBerry Classic.

Jika kini orang memakai iPhone dan Android, di masa kejayaan BlackBerry, pengguna bisa memiliki sebuah ponsel Samsung atau Motorola, serta satu smartphone BlackBerry sebagai ponsel wajib.

Apalagi di masa itu, BlackBerry terkenal karena aman, dan fungsionalitas tingginya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Perusahaan Putuskan Stop Rilis Patch untuk BlackBerry

Desain Keyboard Qwerty Blackberry Classic (Iskandar/Liputan6.com)
Desain Keyboard Qwerty Blackberry Classic (Iskandar/Liputan6.com)

Namun belum lama ini BlackBerry disuntik mati. Pasalnya perusahaan mengumumkan tidak akan lagi memberikan pembaruan patch untuk seluruh smartphone BlackBerry yang menggunakan BlackBerry OS atau BlackBerry 10, mulai 4 Januari 2022.

Dengan tidak mendapatkan update patch ini, pengguna tidak bisa menjalankan fungsi dasar sebuah ponsel. Dalam hal ini, pengguna tidak bisa melakukan panggilan, tidak bisa internetan, SMS-an, sampai kehilangan akses ke layanan darurat.

Sebelumnya, pada masa jaya BlackBerry tepatnya pada tahun 2010-an, BlackBerry menjadi vendor smartphone dengan pangsa pasar 43 persen pada Januari 2010.

Sayangnya, seiring waktu ditambah dengan mulai booming-nya iPhone dan Android, pangsa pasar BlackBerry turun dari waktu ke waktu. Data Tech Crunch menyebutkan, pada Januari 2011, pangsa pasar BlackBerry sebesar 30,4 persen.

Kemudian pada Januari 2012, pangsa pasarnya menurun drastis menjadi 15,2 persen dan dalam waktu setahun, pangsa pasarnya hanya 5,9 persen.

Mulai Ketinggalan dari iPhone dan Android

Smartphone BlackBerry Key2 ditampilkan dalam gelaran Mobile World Congress (MWC) 2019 di Barcelona, Spanyol, Rabu (27/2). (Photo by Josep LAGO / AFP)
Smartphone BlackBerry Key2 ditampilkan dalam gelaran Mobile World Congress (MWC) 2019 di Barcelona, Spanyol, Rabu (27/2). (Photo by Josep LAGO / AFP)

Dari data di atas bisa dilihat, smartphone BlackBerry turun drastis dari raja smartphone ke pangsa pasar single digit dalam waktu yang cukup singkat. Semuanya gara-gara pasar smartphone mulai terdisrupsi akibat keberadaan iPhone dan Android, smartphone layar sentuh yang mulai masif.

BlackBerry pun menyikapi dominasi Apple dan Android dengan meluncurkan BlackBerry Torch di 2011. Sayangnya hal ini sudah cukup terlambat. BlackBerry Torch adalah smartphone gulir BlackBerry yang memiliki layar sentuh tetapi juga keyboard fisik.

Dalam hal ini, pengguna keyboard fisik BlackBerry sebenarnya tidak menggunakan layar sentuh. Oleh karena itu, kehadiran BlackBerry Torch tidak begitu mengubah kondisi di lapangan.

Belum menyerah, pada 2011, BlackBerry juga bekerja sama dengan Microsoft untuk menjadikan Bing sebagai mesin pencari default di ponsel BlackBerry. Hal ini juga tidak berhasil mengembalikan minat orang terhadap BlackBerry.

Fokus ke Bisnis Software

John Chen, Executive Chairman and CEO BlackBerry. Liputan6.com/Iskandar
John Chen, Executive Chairman and CEO BlackBerry. Liputan6.com/Iskandar

Di tengah kondisi sulit, pada 2013, perusahaan mempekerjakan John Chen sebagai CEO. Ia pun memulai langkah pengalihan bisnis perusahaan, dari semula fokus ke smartphone kini merambah fokus di software keamanan.

Bisnis software keamanan dipilih lantaran BlackBerry punya reputasi yang baik dalam hal keamanan. Proses ini pun jadi hal yang masuk akal.

Baru di tahun 2016, perusahaan secara resmi mengumumkan perubahan bahwa BlackBerry bakal fokus hanya di bidang software keamanan. Kini, nilai kapitalisasi pasar BlackBerry sebesar USD 5 miliar.

Selain itu, pada 2016 pula, BlackBerry juga membentuk kemitraan bersama PT BB Merah Putih. Dalam hal ini, BB Merah Putih menjadi produsen perangkat BlackBerry untuk pasar Indonesia. Produk pertamanya adalah BlackBerry Aurora dengan sistem operasi Android.

Sayangnya hal ini juga tidak berlangsung lama karena merek BlackBerry mulai tergantikan dengan merek smartphone iPhone dari Apple dan Android dari berbagai vendor smartphone.

(Tin/Ysl)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel