Kini Tenar, Masa Lalu Chef Juna Prihatin Ngorek Sampah Buat Makan

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 3 menit

VIVA – Nama Chef Juna di dunia entertainment saat ini semakin populer. Apalagi setelah dia tampil di acara Master Chef Indonesia sebagai salah satu juri. Namun tahukah kamu, kehidupan Chef Juna untuk menjadi sukses dan terkenal seperti sekarang butuh perjuangan yang keras.

Lewat Podcast Deddy Corbuzier, Chef Juna mengaku kehidupan masa lalunya tak seperti yang kebanyakan orang bayangkan. Juna mengaku, dia bukan berasal dari kalangan keluarga kaya. Untuk menuju sukses Juna harus bekerja keras dan berjuang.

Deddy Corbuzier pun penasaran, jika bukan dari kalangam orang berada, bagaimana caranya Juna bisa pergi ke Amerika?

"Saya bungkus satu koper tanpa kenal siapa-siapa ke Amerika," kata Juna.

Diakui Juna, saat masih muda dia bukan anak baik-baik. Juna mengaku sempat kuliah di Trisakti jurusan perminyakan. Namun, kuliahnya tak rampung. "Gue dulu bandel, gue punya Harley," kata Juna.

Sampai pada akhirnya Juna berpikir, ketika bangun tidur, cuci muka lalu buang air besar sambil berpikir bahwa hidupnya tak bisa terus-menerus seperti ini. "Kalau gue terus-terusan seperti ini gue akan mati muda," pikirnya ketika itu.

Juna pun cerita, ibunya dulu bekerja di travel agent. Juna adalah anak dari keluarga broken home. Sejak kecil Juna tak tinggal satu rumah dengan orang tuanya. Ketika itu, pameran sekolah yang membawanya bisa terbang ke Amerika.

"Ada pameran sekolah ke luar negeri kebetulan kerjasama sama bareng travel agent nyokap, saat itu ada satu sekolah pilot. Sekolah pilot ini menjanjikan komersialnya US$20 ribu," kenang Juna.

Apalagi ada penawaran bisa meraih Commercial Pilot License. "Dengan 250 jam terbang, pulang ke Indonesia lu bisa kerja di airlines," katanya tergiur.

Gara-gara penawaran promo sekolah pilot itu, Juna tertarik terbang ke Amerika untuk sekolah pilot. Untuk biaya terbang ke Amerika, Juna merelakan motor Harley kesayangannya dijual. "Gue jual lah motor Harley gue, berangkatlah gue."

Meski telah menjalani sekolah pilot selama beberapa waktu, takdir berkata lain. Keluarga Juna mengalami krisis keuangan sehingga Juna tidak bisa menyelesaikan Commercial Pilot License. "My Mom itu bukan orang berada, netijen selalu menyangka Juna dari keluarga berada. Saat itu my mom sempat bantu gali-gali tabungan supaya gue bisa dapat lisence. Tapi tiba-tiba nyokap telepon, ga bisa bantu kirim uang makan, kamu mau gimana kalau mau pulang saya pinjemin duit," kenang Juna ingat pesan ibunya.

Juna pun menolak untuk pulang ke Indonesia ketika itu. Di situlah Juna harus putar otak dan berjuang menghidupi diri untuk tinggal di Amerika. "Gue langsung bilang, i will survive."

"Dari situ gue mulai ngorek-ngorek sampah buat makan, gue gak homeless masih tinggal di apartemen berdelapan. No money, ngorek sampah buat puntung rokok, gw masih ngerokok, sama koin-koinan sen sen an. Lu percaya gak, gue makan dari (uang) sen sen an, dan itu dari ngorek sampah."

Deddy Corbuzier sempat tak yakin dengan pengakuan Juna. Namun Juna menjelaskan bahwa untuk makan, dia selalu memanfaatkan harga paket hemat burger di sana. Juna pun mengaku, hal itu tak akan dia lupakan.

"Gue gak akan lupa itu. Sampai gue mulai kerja kasar dapat pengalaman kerja di restoran jadi pelayan," katanya.

Karena rajin dan disiplin, Juna pun mendapat tawaran untuk ikut program pelatihan magang. Meski begitu Juna sempat dilema. Ia pun sempat minta waktu untuk berpikir. "Gue mikir tamatan SMA, kuliah gak lulus, umur udah 22 pada saat itu, gue mau jadi apa. Gue mikir begitu," kata Juna.

Dari situ Juna akhirnya memilih menerima tawaran magang tersebut. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Juna belajar mencari tahu bagaimana teknik-teknik memotong ikan dan lain-lain.

Diakui pula oleh Juna, dia tak pernah kuliah masak. Lewat ketekunannya terus belajar, bahkan Juna belajar sendiri tentang bagaimana terminologi dalam dunia kitchen lewat internet. Lewat ketekunannya dan kegigiannya, Juna pun akhirnya kini bisa jadi Chef terkenal.