Kini Warga Kampung Mualaf Tersenyum Lega, Sudah Ada Imam Salat

Agus Rahmat, Irfan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Guntur, seorang tokoh masyarakat di Perkampungan Mualaf Darussalam, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan mengaku sangat senang akan kedatangan sejumlah dai ke pemukimannya. Para dai ini yang akan menjadi imam salat mereka.

Betapa tidak, selama beberapa malam sejak masuk bulan suci Ramadhan 1422 H/2021 M, mereka tak pernah salat tarawih secara khusyuk karena tak ada imamnya.

Seorang dai yang bernama Ustaz Ilham, yang selama ini bermukim dan mendampingi warga muslim di Kampung Mualaf, mengalami kecelakaan dari sepeda motor, dan saat ini mendapat perawatan medis di Kota Pinrang.

Baca juga: Kisah Penganut Agama Leluhur Aluk Todolo Dapat Hidayah Islam

"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterima kasih," kata Guntur dengan wajah sumringah.

Perkampungan Mualaf Darussalam Pinrang viral, gara-gara pemberitaan VIVA perihal tak adanya imam salat tarawih di kampung itu. Sampai-sampai Guntur mengaku pernah dipanggil pihak pemerintah setempat.

"Saya dibuat pusing juga berita itu," ujarnya terkekeh.

VIVA bersama lembaga Arimatea Sulawesi Selatan yang menggandeng Baitul Mal Hidayatullah (BMH), sengaja membawa dua orang dai muda pada Rabu dan Kamis kemarin.

Tak hanya dai, rombongan juga membawa donasi berupa Alquran dan kurma untuk menu berbuka puasa bagi muslim Kampung Mualaf.

Setiba di lokasi yang berada di Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, tersebut, ternyata juga telah hadir tiga orang dai lainnya, yang rata-rata ke daerah itu efek pemberitaan viral tadi.

Karena dianggap terlalu banyak dai yang hadir di Kampung Mualaf Darussalam, akhirnya setelah meminta usulan yang kemudian mendapat kesepakatan, Guntur pun menyatakan akan membawa sebagian dai ke beberapa masjid yang berada di kawasan yang merupakan pegunungan itu.

VIVA berkesempatan berkunjung ke dua masjid yang lokasinya berjarak beberapa kilometer. Untuk menjangkaunya, terlebih dahulu harus menaklukkan medan yang curam dan menanjak.

Masjid pertama berada di Batu Sura, dan satunya lagi berlokasi di Salu Pangeang. Rata-rata jemaah di masjid ini adalah mantan pengikut aliran kepercayaan Aluk Todolo atau agama leluhur nenek moyang Suku Toraja.