Kiprah Indonesia di Olimpiade, Tradisi Medali Sejak 1988

·Bacaan 3 menit

VIVA – Rekam jejak Indonesia di ajang Olimpiade mulai konsisten sejak 1988. Ketika itu, kontingen Tanah Air membawa pulang medali perak yang diraih oleh tim panahan wanita.

Adalah Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani jadi srikandi yang mengharumkan nama Indonesia. Mereka cuma kalah dari wakil tuan rumah, Korea Selatan dan berada di atas tim Amerika Serikat.

Sejatinya, Indonesia punya dua medali perak ketika itu. Namun, perolehan Icuk Sugiarto dalam cabang olahraga bulutangkis sektor tunggal putra masih bersifat eksebisi.

Hal sama seperti yang didapatkan oleh pebulutangkis Indonesia seperti Rudy Hartono, Utami Dewi, Ade Chandra/Christian Hadinata, dan Christian Hadinata/Utami Dewi pada Olimpiade Munich 1972. Sampai periode Olimpiade Seoul 1988, bulutangkis masih jadi cabang olahraga eksebisi.

Begitu masuk ke Olimpiade Barcelona 1992, bulutangkis sudah jadi cabang olahraga resmi. Indonesia berhasil membawa pulang dua medali emas dari Susy Susanti dan Alan Budi Kusuma.

Lalu ada tambahan dua medali perak berkat Ardy Wiranata dan Eddy Hartono/Rudy Gunawa. Kemudian Hermawan Susanto menambahkan satu medali perunggu. Pada era itu, bulutangkis Indonesia berjaya.

Belum lagi ada tiga medali perak dan satu perunggu dari cabang olahraga taekwondo yang ketika itu masuk dalam kategori eksebisi. Dirc Talumewo, Rahmi Kurnia, Susilawati, dan Jefi Tri Aji yang mendapatkannya.

Memori London

Rentetan prestasi Indonesia di Olimpiade dengan terus membawa pulang medali bertahan sampai Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Dari semua itu, cuma di Olimpiade London 2012, medali emas gagal didulang. Ketika itu wakil Tanah Air harus puas dengan dua medali perak dan satu perunggu.

Ketika itu, cabang olahraga bulutangkis yang jadi andalan Indonesia gagal menyumbangkan medali sama sekali. Beruntung wakil di angkat besi mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Triyatno yang turun pada kelas 69 kg putra mendapatkan medali perak. Lalu ada Citra Febrianti dari kelas 53 kg putri dengan raihan yang sama. Sisanya satu lagi disumbangkan Eko Yuli Irawan yang turun di kelas 62 kg putra.

Tradisi medali emas yang berlangsung dalam lima edisi berturut-turut harus terhenti. Tapi itu tak berarti Indonesia harus tertunduk lesu. Mengingat persaingan di Olimpiade amat ketat, dan atlet terbaik yang ada di dunia tampil di dalamnya.

Raihan tiga medali itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 Olimpiade London 2012 bersama dengan Bulgaria dan Finlandia. Cuma Thailand, negara dari Asia Tenggara yang catatannya lebih baik dari Indonesia karena meraih masing-masing dua medali perak dan perunggu.

Bulutangkis Langganan Medali Emas

Tak bisa dipungkiri, cabang olahraga bulutangkis merupakan tulang punggung Indonesia di ajang Olimpiade. Dari tujuh medali emas yang diraih sepanjang keikutsertaan di ajang empat tahunan ini, semuanya berasal dari olahraga tepok bulu ini.

Kesuksesan Susy Susanti dan kawan-kawan di Olimpiade Barcelona 1992 diteruskan empat tahun kemudian. Ganda putra Indonesia, Rexy Mainaky/Ricky Subagja jadi penyumbang medali emas satu-satunya bagi Indonesia ketika itu.

Sisanya ada satu medali perak capaian Mia Audina serta dua medali perunggu dari Susy Susanti da Antonius Ariantho/Denny Kantono yang tutun di sektor ganda putra.

Pada Olimpiade Sidney 2000, lagi-lagi bulutangkis jadi penyelamat wajah Indonesia. Adalah ganda putra Tony Gunawan/Chandra Wijaya yang mendulang medali emas. Lalu ada tambahan dua medali perak dari bulutangkis lagi.

Atlet angkat besi Indonesia, Lisa Rumbewas menambah satu medali perak. Lalu ada dua perunggu yang juga dari angkat besi berkat penampilan Sri Indriyani dan Winarni Binti Slamet.

Tradisi emas bulutangkis berlanjut ke Olimpiade 2004 Athena. Di mana Taufik Hidayat sebagai wakil Indonesia di sektor tunggal putra menjadi yang terbaik.

Hendra Setiawan/Markis Kido melanjutkan catatan manis bulutangkis Indonesia berkat medali emas di Olimpiade 2008 Beijing. Dan yang terakhir disumbangkan Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad di Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Untuk Olimpiade Tokyo 2020, Indonesia kembali memiliki harapan tradisi bulutangkis ini bisa berlanjut. Apalagi wakilnya ada Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan yang kini menguasai posisi tertinggi ranking dunia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel