Kiprah Unik Margono Asnan di Persebaya: Hanya Bertahan Semusim, tapi Jadi Kapten

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Persebaya Surabaya menjadi satu diantara klub besar dengan sejarah panjang di sepak bola Indonesia. Tim yang lahir pada era perserikatan itu melahirkan banyak talenta berbakat, khususnya putra daerah asli Surabaya.

Bagi publik sepak bola Surabaya, Asnan bersaudara begitu melekat di kultur Persebaya Surabaya, tentunya pada era zaman dulu atau jadul. Mereka adalah keluarga pesepa kbola yang menghiasi Persebaya sejak kurun waktu 1970-an hingga memasuki era Ligina.

Enam kakak beradik dari keluarga Asnan pernah bermain di Persebaya, beberapa di antaranya Hartono, Sutrisno, hingga nama Riono Asnan yang menjadi pemain besar. Ada satu nama yang tidak bisa ditinggalkan, yakni Margono Asnan, sebagai generasi terakhirnya.

Margono Asnan merupakan putra bungsu keluarga Asnan dan pernah berseragam Persebaya. Beberapa waktu lalu, dirinya menceritakan kisah perjalanan kariernya melalui kanal YouTube Pinggir Lapangan

"Saya anak nomor delapan atau anak paling kecil, ayah saya juga pemain bola meski awalnya wasit internal Persebaya. Pernah ayah saya memimpin pertandingan IM melawan Asyabaab yang main Riono Asnan dan Hartono Asnan," kata Margono memulai ceritanya.

Sementara Margono memulai kiprahnya dengan bergabung dengan klub internal Persebaya yakni Putra Gelora 79. Ia mengikuti langkah kakaknya, Hartono.

Kemudian gerbang pintu Persebaya dimasukinya diawali mengikuti Piala Soeratin tahun 1988 dan bergabung di tim PON Jatim 1993. Puncaknya ia bermain untuk Persebaya pada musim 1993/1994, bahkan ditunjuk sebagai kapten tim.

"Saya masuk Persebaya Surabaya di bawah asuhan Joko Malis. Malah ditunjuk jadi kapten tim karena adanya dukungan banyak pihak," beber Margono.

Karier Singkat

Persebaya_Logo (Bola.com/Adreanus Titus)
Persebaya_Logo (Bola.com/Adreanus Titus)

Meski sukses mewujudkan impian bermain untuk tim di tanah kelahirannya hingga menjadi seorang kapten tim, kiprah Margono di Persebaya begitu singkat.

Margono Asnan hanya bertahan satu musim di Persebaya. Dia harus hijrah ke klub lain dan fokus pada pekerjaannya di lingkungan PDAM Surabaya. Kemudian ia melanglang buana ke beberapa klub

"Sempat tidak mendapatkan tawaran kontrak baru di Persebaya, dan fokus dalam pekerjaannya di PDAM. Hingga datang tawaran dari Barito Putera dan diterimanya 1994/1995," kenangnya.

"Kemudian gabung Mitra Surabaya, Gelora Dewata Bali. Setelah itu suruh masuk PSIS Semarang pada musim 1998 oleh kakak saya Riono Asnan. Menepis omongan masyarakat dan pendukung, saya harus main bagus di PSIS," jelasnya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini