Kisah 3 Miliuner Asia, Dulu Hidup Melarat Sekarang Kaya Raya

Merdeka.com - Merdeka.com - Hidup kaya raya dan serba berkecukupan menjadi impian semua orang. Namun, tidak semua orang terlahir di tengah keluarga yang bergelimang harta. Maka butuh kerja keras untuk mencapai kesuksesan dan banyak uang. Kondisi ini juga dialami beberapa miliuner dunia.

Sebelum menjadi kaya, mereka hidup dalam kemiskinan. Proses yang panjang harus dilewati hingga mengantarkan mereka untuk memperoleh semua kekayaan yang dimiliki saat ini.

Tentunya, para miliuner tersebut memiliki ketabahan hati, tekad, dan keberuntungan yang sangat besar. Melansir dari CNA, berikut adalah cerita 5 miliuner Asia yang dulunya hidup dalam kemiskinan.

1. Jack Ma

Sebelum dikenal sebagai miliuner pendiri Alibaba dan Ant Group, Jack Ma sempat menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupannya di masa lalu. Ma yang lahir di Hangzhou dibesarkan dalam keluarga miskin.

Saat kecil, Ma akan mengunjungi hotel tempat wisatawan Amerika Serikat menginap. Dia ingin belajar Bahasa Inggris dengan imbalan membawa para wisatawan mengelilingi kota.

Dia juga sempat gagal sebanyak dua kali saat mengerjakan tes masuk universitas, sebelum akhirnya lulus dan melanjutkan pendidikannya untuk belajar Bahasa Inggris di Hangzhou Teachers Institute.

Setelah lulus, Ma mengajukan lamaran untuk mengisi beberapa posisi pekerjaan. Salah satu pekerjaan tersebut tersedia di KFC, tetapi Ma mengalami penolakan.

Akhirnya, ia mendapatkan pekerjaan sebagai guru Bahasa Inggris dan hanya dibayar USD 12 per bulan. Ma baru mengenal Internet untuk pertama kalinya dalam perjalanan ke AS pada 1995.

Kemudian, dia langsung berpikir untuk membangun sesuatu yang bisa menempatkan China di peta internet dunia. Dua usaha pertamanya gagal sebelum akhirnya Ma menemukan kesuksesan di Alibaba.

2. Li Ka-shing

Miliuner Hong Kong Li Ka-shing juga memiliki kehidupan yang sulit. Keluarganya melarikan diri dari China daratan ke Hong Kong selama Perang Dunia II.

Ketika ayahnya meninggal secara mendadak karena TBC, Li harus berhenti bersekolah untuk menghidupi keluarganya.

Dia bekerja di pabrik plastik selama 16 jam dalam sehari saat berusia 16 tahun. Li berhasil menjadi penjual terbaik di pabrik hingga akhirnya dipromosikan menjadi manajer pabrik.

Saat berusia 22 tahun, Li membuka pabriknya sendiri yaitu Cheung Kong Industries sebagai tanda awal dari perjalanan bisnisnya. Lebih lanjut, Li mengubah Cheung Kong Industries menjadi perusahaan investasi real estate terkemuka dan mendaftarkannya di Bursa Efek Hong Kong pada 1972.

3. Kim Beom-soo

Kim Beom-soo atau yang dikenal sebagai Brian Kim adalah miliuner Korea Selatan sekaligus pendiri dan ketua dari perusahaan internet, Kakao. Perusahaan ini memiliki aplikasi messaging terbesar di Korea Selatan yaitu KakaoTalk.

Dulunya, keluarga Kim yang terdiri dari delapan orang tidur dalam satu kamar yang sama di lingkungan miskin Seoul. Orang tuanya tidak lulus SD dan berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain untuk mencari nafkah.

Kim adalah orang pertama di keluarganya yang berkuliah. Dia membiayai pendidikannya dengan menawarkan les privat.

Selama lima tahun, Kim bekerja sebagai pengembang layanan komunikasi online di bagian IT Samsung.

Pada 1998, dia mulai membangun Hangame, sebuah bisnis warnet yang kemudian menjadi portal game online. Hangame bergabung dengan mesin pencari Naver untuk menjadi portal web dominan Korea Selatan, NHN. Selanjutnya, Kim membangun KakaoTalk pada 2010.

Kim berjanji memberikan setengah kekayaannya untuk mengatasi masalah sosial pada Agustus tahun ini. [idr]