Kisah 4 Bule Cantik Jadi Mualaf dengan Cara 'Aneh'

·Bacaan 7 menit

VIVA – Memutuskan untuk memeluk agama sesuai keyakinan dan sesuai pilihan hati bukanlah hal yang mudah. Butuh perjalanan spiritual yang panjang untuk meyakinkan diri. Termasuk untuk memutuskan diri menjadi mualaf, memeluk Islam. Seperti yang dialami oleh bule-bule cantik. Mereka akhirnya memutuskan memeluk agama Islam dengan cara yang "aneh".

Berikut, kisah-kisah inspiratif perjalanan bule-bule cantik yang memutuskan untuk memeluk agama Islam. Mulai dari Fleur Rosanna, Giovanna Khadija Wolswijk, hingga Ashley asal Amerika.

Fleur Rosanna

Fleur Rosanna bule cantik asal Amerika Serikat menceritakan sendiri proses perjalanannya menjadi mualaf. Prosesnya panjang dan dia cerita sejak kecil tumbuh dalam lingkungan keluarga Kristiani.

"Pada saat bersamaan, kami ke gereja bisa satu tahun sekali kalau Natal, atau mungkin dua kali setahun kalau Paskah. Saat tiba di gereja, kami tidak berdoa tapi kami belajar di sekolah Kristen, di mana kami diajari tentang Injil," kata Fleur seperti dikutip dari Channel YouTube Barat Bersyahadat.

Fleur juga cerita, punya kitab Injil versi anak. Tapi, ia merasa dibesarkan dengan moral dan nilai seperti diajarkan dalam Islam. Ia bercerita selalu percaya adanya Tuhan meski keluarganya tak percaya. Bahkan saat usianya masih 6 atau 7 tahun, ia selalu berdoa pada tuhan walau tak tahu caranya. "Saya berdoa tiap malam pada Tuhan terutama saat mau ujian sekolah."

Rosanna yang semakin bertambah usia, mulai suka menulis. Ia bahkan sering menulis kisah-kisah agamis. Anehnya Rosanna justru lebih sering menulis tentang Islam, padahal dia tak kenal agama tersebut.

"Ceritanya selalu tentang satu keluarga yang agamais dan tokoh utamanya itu 99 persen sangat Islami, dan saya tak tahu kenapa. Ini adalah murni minat saya yang aneh karena saya tumbuh di satu desa yang populasi Muslimnya itu nol," tuturnya.

Ia pun mengaku tak pernah bertemu orang Muslim. Hanya menonton berita TV. Tapi, ia punya minat "aneh" pada islam. "Dan sekarang Islam adalah pandangan hidup buat saya," pungkasnya.

Padahal ketika kecil, Fleur mengataka, Islam hanya dijadikan sebagai sebuah minat saja. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang Muslim.

Saat kuliah di kota besar, Rosanna beru menemukan orang -orang Muslim di kehidupan nyata. orang-orang Muslim yang dia temui saat itu tidak sama dengan apa yang dibayangkan. Bahkan jauh dari harapan, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dia yakini.

Meski begitu, minatnya pada Islam tetap menggebu. Menimbulkan lebih banyak pertanyaan tentang Islam bagi saya dan saya tak tahu mesti bertanya pada siapa, hingga akhirnya saya bertemu suami yang merupakan seorang Muslim yang memiliki pemikiran senada dengannya.

Fleur Rosanna kemudian lebih bersemangat untuk meneliti Islam secara akademik, bukan sekadar demi mencari materi untuk cerita yang dia tulis.

"Jadi ini adalah periode yang berlangsung 1 tahun atau bahkan kurang dari itu. Di periode ini saya betul-betul menggali tentang agama Islam. Saya lakukan penelitian, saya akhirnya memeluk Islam sebagai agama yang benar," ungkapnya.

Jadi katanya, betapa penting menemukan orang yang tepat dalam perjalanan kita menuju Islam. ia pun termotivasi memeluk Islam karena bertemu suami dan tertarik meneliti Islam lebih dalam lagi.

Giovanna Khadija Wolswijk

Berkaitan dengan jodoh, menemukan pasangan hidup termasuk sebuah misteri. Tak ada yang tahu, siapa sosok yang bakal menjadi jodoh kita. Hal ini dialami pria Malaysia yang berjodoh dengan wanita Italia, Giovanna Khadija Wolswijk.

Pria bernama Mohamed Khalies Hami Hamzah awalnya hanya memiliki impianmenikahi wanita bule bermata hijau. Tak menyangka, impiannya terwujud. Tapi, yang menarik dari kisah perjodohannya karena perjalanan mualaf Giovanna.

Giovanna merupakan wanita yang kuliah di Universitas Malaysia Terengganu (UMT). Gara-gara mendengar suara azan setiap hari di masjid kampus. Suara azan yang didengarnya tiap hari membuat Giovanna tersentuh hingga akhirnya ia memutuskan memeluk Islam 18 Juni 2020.

Bukan sekadar asal memeluk Islam, Giovanna bahkan mempelajari Islam ketika ia pulan ke Italia kampung halamannya. Dia bahkan minta bantuan pada Khalies yang saat itu sudah jadi teman dekatnya. Khalies mengajarinya mengaji. Meski tinggal berjauhan, Khaliez mengajari Giovanna mengaji lewat video call.

Tak disangka, proses belajar Giovanna begitu cepat. Kurang dari 2,5 bulan Giovanna bisa menyelesaikan Iqra 1-3 ahka hafal 10 surat pendek Al-Quran.

Semakin dekat dengan Khalies, ia pun menikah dengan Giovanna 14 Februari 2020 di masjid kampus mereka di UMT, tempat di mana Giovanna mengucap syahadat. Saat menikah, Giovanna pun mengenakan hijab dan tampak cantik.

Audur Linda

Audur Linda adalah seorang mualaf yang awalnya sempat sangat murka dengan pandangan Islam secara global yang lekat dengan label terorisme. Lewat Channel YouTube Deddy Corbuzier, Audur ternyata menceritakan bahwa awalnya dirinya adalah seorang Kristiani lalu sempat menjadi atheis sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang muslim.

Kenapa jadi atheis,” tanya Deddy Corbuzier. “Christian is always changing, like about people, aneh. For me aneh, I don’t believe, I believe in sciences,” ungkap Audur Linda dalam video tersebut.

“Anda tidak percaya dengan Tuhan, intinya begitu oke?” tegas Deddy. Ternyata awalnya, ketertarikan Audur dengan Islam terbangun berkat mengenal Ustaz Gus Miftah dan melihat postingannya di media sosial.

Meski demikian, ia mengakui bahwa perkenalannya dengan Gus Miftah menjadikan terjadinya perubahan besar dalam hidupnya yang kini mulai mempercayai adanya Tuhan dan mantap memeluk agama Islam.

“Saya memeluk Muslim setelah bertemu dengan Gus Miftah, saat itu juga saya percaya Tuhan. Kami berbincang dalam 10 menit saja,” tegas Audur Linda.

Ashley

Kisah bule cantik asal Amerika Serikat, Ashley mengenai perjalanannya memeluk Islam juga menarik perhatian. Ashley yang dibesarkan di Arkansas AS awalnya juga tinggal di lingkungan dengan jumlah umat Kristen mayoritas.

video yang diunggah pada 14 Oktober 2020 di kanal IMC id, Ashley menceritakan kisah perjalanannya menjadi seorang muslim.

Ia mengaku mengenal Islam saat di bangku kuliah. Saat masuk dunia perguruan tinggi, Ashley menemukan banyak budaya berbeda, banyak yang berhijab hingga beraneka orang dengan beragam warna kulit.

Saat itu ia pun ikut program bimbingan di mana semua murid disatukan. Seluruh siswa internasional berkumpul di ruang besar. Ia melihat dua gadis berhijab asal Arab Saudi, hingga mereka jadi teman baik selama 2 tahun.

Selama berteman, tak banyak pembicaraan soal agama. Namun, saat ada orang asing memandang dua teman berhijabnya dengan pandangan aneh, Ashley selalu membela.

Pada suatu waktu, mereka pun terpisah karena kelulusan dan dua gadis Arab kembali ke negaranya. Tahun berikutnya Ashley mengikuti sekolah pascasarjana dan dipertemukan dari Hari Hijab Sedunia yang diperingati tiap 1 Februari.

Tak butuh pikir panjang, Ashley langsung memutuskan untuk mengambil penelitian mengenai Hari Hijab Sedunia. Sejak itu pertama kalinya Ashley mencoba memakai hijab dengan melihat tutorial di Youtube, hingga ia merasa takjub dengan penampilannya sendiri.

"Aku ingat saat aku ingin meraih gagang pintu untuk meninggalkan apartemenku, aku merasa ragu padahal sebelumnya aku tidak pernah ragu," ucap Ashley.

Hal itu ia ragukan karena ia sadar akan penampilannya yang sebelumnya dan tidak bisa membayangkan bagaimana respon lingkungan sekitar terhadap apa yang Ashley lakukan.

"Semenjak ini aku sadar mengenai hal hal tentang pakaian dan penampilan rambutku, dan aku tidak tahu bagaimana aku nantinya akan diperlakukan apa aku hari ini," ujar Ashley.

"Tetapi aku berusaha untuk mempersiapkan diriku sendiri untuk menghadapi apapun yang akan datang kepadaku," imbuhnya.

Beberapa kerabat dan orang di sekeliling Ashley pada saat itu mempertanyakan apa yang ia lakukan, tetapi Ashley bisa menjawabnya dengan bijak.

"Oh aku berharap bisa mengetahui lebih dalam dan semoga dapat berpartisipasi juga di hari hijab," jawab Ashley

Semenjak itu Ashley merasa hari-harinya jauh lebih baik terlebih saat ia memposting dirinya di media sosial dan mendapat dukungan yang positif dari umat Islam.

Kemudian seiring berjalannya waktu, Ashley terjun langsung melakukan penelitian tentang hari hijab sedunia dengan menghadiri acara mereka dan berkumpul bersama komunitas hijab. Semua itu ia lakukan tentu dengan cara menghargainya dengan memakai hijab.

Hingga akhirnya ia merasakan banyak perubahan yang terjadi selama melakukan penelitiannya tersebut.

Diketahui juga setelah melakukan penelitian tersebut beberapa kali Ashley sempat mencoba lagi ke Gereja, tetapi tidak seindah saat ia mempelajari tentang Islam, dan selalu terasa ada yang hilang, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bersyahadat di hari terakhir bulan puasa Ramadhan.

"Hampir tidak ada kata untuk menggambarkan bagaimana luar biasanya hal ini, semua sungguh menakjubkan dan aku sangat bersyukur Allah telah memberkatiku dengan luar biasa, dan ini tidak akan mengubah apapun," tutup Ashley.

“Aku masuk Islam juni 2019, jadi sampai hari ini Alhamdulillah sudah lebih dari setahun. Ini merupakan perjalanan yang memadai dan bagi beberpaa orang ini terlihat perjalanananku cuma satu bulan, tetapi menurut pemikiranku, itu mungkin dimulai ketika aku masih kuliah,” katanya lagi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel